Tampilkan postingan dengan label ukhuwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ukhuwah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Februari 2014
Rabu, 21 Agustus 2013
[sedikit] Tentang Liburanku
Berawal dari bincang-bincang singkat saat i'tikaf, bersama seorang teman kampus yang tinggalnya di Kota PagarAlam. Fauza namanya, dia kebetulan sedang main ke Palembang dan menyempatkan diri ikut i'tikaf. Kita kaya lagi reuni gitu deh, banyak temen lama yang juga ada di masjid itu. Seru lah. Tapi ya itu, tilawahnya banyak diganti sama ngobrol-ngobrol, kita ngobrolnya di teras masjid tapinya loh.
Nah dia ini nawarin buat liburan ke tempatnya, kontan saja aku langsung kegirangan. Karena rencana buat liburan selalu gagal dan gagal. Ada ajah halangan yang ngebuat aku harus ngebatalin rencana liburanku. >,<
Di sana juga ada beberapa adik tingkat yang tertarik untuk ikutan. Dan kita mulai deh ngerencanain ini dan itu. Hmm, jujur aja sih aku gak begitu yakin kalo rencana ini akan berakhir dengan baik. Hehe..
Aku ngajakin si Dwi buat ikutan, tapi aku tau kemungkinan dia untuk ikut hanya 10% persen saja. Dia agak susah dapet izin pergi-pergi jauh dari orang tuanya. Makanya gak terlalu berharap banyak kalo dia bisa ikutan.
H-1 rencana kepergianku, tapi masih gak ada kabar apapun. Ini alamat gak bakal jadi lagi, pikirku. Eh iseng-iseng buka facebook, ternyata adik tingkatku itu ngetag aku di statusnya. Dia beneran bisa ikut ternyata, juga dua temannya yang lain. Aaaaah, love yu love yu love yu dehhh. :*
Aku langsung heboh ngehubungin temenku di Pagar Alam, pesen kursi bus, nyiapin ini dan itu. Yang jelas hal yang paling ribet itu nyiapin pakaian selama di sana, tau sendiri akhwat itu paling ribet. Harus bawa baju/gamis, rok, jilbab, lapisan jilbab, jilbab instan (bergo), kaos kaki, manset, dan yang lain-lainnya.
Dan, taraaaa! Tanggal 12 Agustus aku sama tiga adik tingkatku akhirnya berangkat jalan-jalan, kita berempat naik bus, duduk paling depan dan paling heboh pokoknya. Hahaha..
Ini pertama kali aku pergi berlibur dengan orang-orang yang gak begitu akrab denganku. Karena sebenernya aku itu baru lumayan akrab dengan adik-adik ini sejak i'tikaf beberapa malam terakhir Ramadhan, nomer hapenya ajah aku belum punya. Dan merasa ada yang agak janggal, masa iya aku liburan sama bocah-bocah ini. Apa aku udah gak punya temen lain yang seusia yak?! >,<
Tapi, semua gak jadi masalah. Selama di sana, kita beneran bisa menikmati liburan kita. Bersama mereka, sangat menyenangkan. Jalan-jalan ke Gunung, bukan sampe puncaknya tapi. Kita naik motor ke sana, pinjem motornya Fauza. Subhanallah, view nya keren banget. Ada perkebunan teh yang menghijau di pelataran kaki gunung, jalanan yang berliku serupa ular raksasa yang melingkari Gunung Dempo. Fabiayyi alaaa irobbikuma tukadziban.Coba ada kamu, pasti makin seru. :p
Kita juga mampir ke Air Terjun, ada dua air terjun yang kita datangi. Waktu ke sananya seru banget, eh pas mau pulangnya sungguh tidak menyenangkan. Aku dan temen-temen harus menaiki ratusan anak tangga yang tingginya gak kira-kira, menurut aku sih. Yang jelas sesampainya di atas, kita udah kaya lari berapa kilometer aja. Ini kaki pada pegel semua, beneran. -__-"
Walaupun kaya gitu, kita tetep seneng kok bisa berkesempatan berkunjung ke sana. Airnya itu loh, dingin gilak. Aaaah, pokoknya gak kapok deh main ke sana. Mandi di sungai, siram-siraman, terus makan siang di bebatuan.
Nah dia ini nawarin buat liburan ke tempatnya, kontan saja aku langsung kegirangan. Karena rencana buat liburan selalu gagal dan gagal. Ada ajah halangan yang ngebuat aku harus ngebatalin rencana liburanku. >,<
Di sana juga ada beberapa adik tingkat yang tertarik untuk ikutan. Dan kita mulai deh ngerencanain ini dan itu. Hmm, jujur aja sih aku gak begitu yakin kalo rencana ini akan berakhir dengan baik. Hehe..
Aku ngajakin si Dwi buat ikutan, tapi aku tau kemungkinan dia untuk ikut hanya 10% persen saja. Dia agak susah dapet izin pergi-pergi jauh dari orang tuanya. Makanya gak terlalu berharap banyak kalo dia bisa ikutan.
H-1 rencana kepergianku, tapi masih gak ada kabar apapun. Ini alamat gak bakal jadi lagi, pikirku. Eh iseng-iseng buka facebook, ternyata adik tingkatku itu ngetag aku di statusnya. Dia beneran bisa ikut ternyata, juga dua temannya yang lain. Aaaaah, love yu love yu love yu dehhh. :*
Aku langsung heboh ngehubungin temenku di Pagar Alam, pesen kursi bus, nyiapin ini dan itu. Yang jelas hal yang paling ribet itu nyiapin pakaian selama di sana, tau sendiri akhwat itu paling ribet. Harus bawa baju/gamis, rok, jilbab, lapisan jilbab, jilbab instan (bergo), kaos kaki, manset, dan yang lain-lainnya.
Dan, taraaaa! Tanggal 12 Agustus aku sama tiga adik tingkatku akhirnya berangkat jalan-jalan, kita berempat naik bus, duduk paling depan dan paling heboh pokoknya. Hahaha..
Ini pertama kali aku pergi berlibur dengan orang-orang yang gak begitu akrab denganku. Karena sebenernya aku itu baru lumayan akrab dengan adik-adik ini sejak i'tikaf beberapa malam terakhir Ramadhan, nomer hapenya ajah aku belum punya. Dan merasa ada yang agak janggal, masa iya aku liburan sama bocah-bocah ini. Apa aku udah gak punya temen lain yang seusia yak?! >,<
Tapi, semua gak jadi masalah. Selama di sana, kita beneran bisa menikmati liburan kita. Bersama mereka, sangat menyenangkan. Jalan-jalan ke Gunung, bukan sampe puncaknya tapi. Kita naik motor ke sana, pinjem motornya Fauza. Subhanallah, view nya keren banget. Ada perkebunan teh yang menghijau di pelataran kaki gunung, jalanan yang berliku serupa ular raksasa yang melingkari Gunung Dempo. Fabiayyi alaaa irobbikuma tukadziban.
Kita juga mampir ke Air Terjun, ada dua air terjun yang kita datangi. Waktu ke sananya seru banget, eh pas mau pulangnya sungguh tidak menyenangkan. Aku dan temen-temen harus menaiki ratusan anak tangga yang tingginya gak kira-kira, menurut aku sih. Yang jelas sesampainya di atas, kita udah kaya lari berapa kilometer aja. Ini kaki pada pegel semua, beneran. -__-"
Walaupun kaya gitu, kita tetep seneng kok bisa berkesempatan berkunjung ke sana. Airnya itu loh, dingin gilak. Aaaah, pokoknya gak kapok deh main ke sana. Mandi di sungai, siram-siraman, terus makan siang di bebatuan.
Next time, ke mana lagi kita???
Selasa, 20 Agustus 2013
Gara-gara Facebook
Kamu punya akun facebook? Saya juga punya, dua malahan. Hehe...
Dulu aku itu termasuk salah satu pencinta berat situs jejaring sosial satu itu, hampir di tiap hal penting yang aku lewatin aku share di FB lewat status-status, yang kalo sekarang ngeliatnya ngerasa agak alay. Hahahaha..
Walaupun ada twitter, facebook tetap menempati ruang sendiri dalam hati masing-masing orang, termasuk aku. :)
Aku punya banyak 'teman' di facebook, dari ribuan teman yang aku miliki di sana paling hanya beberapa persennya saja yang bener-bener pernah berkomunikasi dan melakukan interaksi, baik itu lewat chatting, saling kirim di wall, comment, like atau share status. Selebihnya, aku dan mereka bisa dianggap 'tidak berteman'.
Nah. Gara-gara facebook, aku punya banyak teman baru. Kita gak cuma berteman di dunia maya loh, tapi juga sampai ke dunia nyata. Aku punya banyak kenalan yang sekarang menjadi teman baik, gara-gara facebook. Yah, facebook hanya medianya. Yang mengatur sgalanya tetap Allah donk, dengan skenario terbaik yang DIA tuliskan. :)
Ari namanya, dia seorang mahasiswi kebidanan di Jogja. Aku sempat nulis status tentang Jogja, dan diapun langsung meminta nomer henpon via inbox dan mengajak kopdaran. Dalam waktu yang relatif singkat, aku bertemu dengannya di Malioboro. Saat itu dia memberiku sebuah jilbab warna ungu yang sangat cantik, dan aku hanya bisa memberinya sebungkus kemplang Palembang. -___-" #GakSepadan
Lalu ada Fikri, aku biasa menyapanya dengan Ipi. Aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu, dan sampai sekarang kita tetap kontak. H-3 lebaran kemarin, dia mengirimiku beberapa buah tangan dari liburannya di Jogja. Dia itu tinggal di Wonosobo, tapi sering banget main ke Jogja. Ada batik warna pink, sandal lucu, juga dua kotak manisan Carica yang ia kirimkan. Gadis berlesung pipi dan bertubuh mungil itu, sungguh membuat aku speechless deh.
Gak cuma yang jauh, aku juga punya beberapa teman di Palembang yang kenalnya lewat FB. Ada mb Dewi, yang kini udah aku anggap sebagai mbaku sendiri. Orangnya baik banget, care lagi sama adek-adeknya. Juga anak-anak sekampus, yang gak akrab di kampus tapi kita berteman baik di FB. Sempet kopdaran sama mereka-mereka ini, makan-makan, poto-poto, saling tukar kado, aaaah sukaaaa. >,<
Dulu aku itu termasuk salah satu pencinta berat situs jejaring sosial satu itu, hampir di tiap hal penting yang aku lewatin aku share di FB lewat status-status, yang kalo sekarang ngeliatnya ngerasa agak alay. Hahahaha..
Walaupun ada twitter, facebook tetap menempati ruang sendiri dalam hati masing-masing orang, termasuk aku. :)
Aku punya banyak 'teman' di facebook, dari ribuan teman yang aku miliki di sana paling hanya beberapa persennya saja yang bener-bener pernah berkomunikasi dan melakukan interaksi, baik itu lewat chatting, saling kirim di wall, comment, like atau share status. Selebihnya, aku dan mereka bisa dianggap 'tidak berteman'.
Nah. Gara-gara facebook, aku punya banyak teman baru. Kita gak cuma berteman di dunia maya loh, tapi juga sampai ke dunia nyata. Aku punya banyak kenalan yang sekarang menjadi teman baik, gara-gara facebook. Yah, facebook hanya medianya. Yang mengatur sgalanya tetap Allah donk, dengan skenario terbaik yang DIA tuliskan. :)
Ari namanya, dia seorang mahasiswi kebidanan di Jogja. Aku sempat nulis status tentang Jogja, dan diapun langsung meminta nomer henpon via inbox dan mengajak kopdaran. Dalam waktu yang relatif singkat, aku bertemu dengannya di Malioboro. Saat itu dia memberiku sebuah jilbab warna ungu yang sangat cantik, dan aku hanya bisa memberinya sebungkus kemplang Palembang. -___-" #GakSepadan
Lalu ada Fikri, aku biasa menyapanya dengan Ipi. Aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu, dan sampai sekarang kita tetap kontak. H-3 lebaran kemarin, dia mengirimiku beberapa buah tangan dari liburannya di Jogja. Dia itu tinggal di Wonosobo, tapi sering banget main ke Jogja. Ada batik warna pink, sandal lucu, juga dua kotak manisan Carica yang ia kirimkan. Gadis berlesung pipi dan bertubuh mungil itu, sungguh membuat aku speechless deh.
Gak cuma yang jauh, aku juga punya beberapa teman di Palembang yang kenalnya lewat FB. Ada mb Dewi, yang kini udah aku anggap sebagai mbaku sendiri. Orangnya baik banget, care lagi sama adek-adeknya. Juga anak-anak sekampus, yang gak akrab di kampus tapi kita berteman baik di FB. Sempet kopdaran sama mereka-mereka ini, makan-makan, poto-poto, saling tukar kado, aaaah sukaaaa. >,<
Maka, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan Ci?
Setelah diberi manisnya ukhuwah sebagai hadiah,
apa masih harus mencari alasan untuk tak bersyukur.
Selasa, 25 Juni 2013
Bersamamu, kawan...
"Hidup ini keras." katamu suatu hari, "Aku tau." jawabku singkat.
Maka dari itu, aku memilih bersamamu. Karena mungkin menjalani hidup yang keras tanpamu di sisi, takkan kurasa bahagianya. Maka, temanilah aku. Kita buat hidup yang keras ini menjadi lebih indah, dengan tawa dan duka kita, bersama.
Aku tau, kita tak berjalan dengan beralaskan permadani yang lembut, tak juga beratapkan payung yang nyaman, atau berhiaskan dan bertabur bunga-bunga.
Kita menjalani hidup yang sama dengan yang lain, kadang ada kerikil yang menggores luka, ada duri yang menyayat sakit. Tapi, kau harus ingat, ada juga hujan yang mendamaikan, terbit pelangi setelah guyurannya hilang. Juga ada bintang-bintang di langit malam kita yang pekat, bukankah itu juga harus kau perhitungkan.
Kelak, ada banyak hal yang kan kita lihat, hadapi dan lewati. Maka, genggam aku dengan erat. Jangan lepaskan tangan, karena kau adalah kekuatanku, kawan.
Maka dari itu, aku memilih bersamamu. Karena mungkin menjalani hidup yang keras tanpamu di sisi, takkan kurasa bahagianya. Maka, temanilah aku. Kita buat hidup yang keras ini menjadi lebih indah, dengan tawa dan duka kita, bersama.
Aku tau, kita tak berjalan dengan beralaskan permadani yang lembut, tak juga beratapkan payung yang nyaman, atau berhiaskan dan bertabur bunga-bunga.
Kita menjalani hidup yang sama dengan yang lain, kadang ada kerikil yang menggores luka, ada duri yang menyayat sakit. Tapi, kau harus ingat, ada juga hujan yang mendamaikan, terbit pelangi setelah guyurannya hilang. Juga ada bintang-bintang di langit malam kita yang pekat, bukankah itu juga harus kau perhitungkan.
Kelak, ada banyak hal yang kan kita lihat, hadapi dan lewati. Maka, genggam aku dengan erat. Jangan lepaskan tangan, karena kau adalah kekuatanku, kawan.
Menjelang tahun ke-7 hijrahku,
terima kasih masih mengenggam erat tanganku.
Aku mencintaimu, karena Allah.
Sabtu, 15 Juni 2013
Merinduimu, Teman
"Ada 2 jenis kerinduan," katamu suatu hari,Pagi ini ngerempong di room Akhwat Ar-Risalah di WhatsApp, ngobrol bareng temen-temen semasa di kampus. Yang sekarang tinggalnya berjauhan, ada yang di Jakarta, Surabaya, Muara Dua, yang di Palembang pun karena kesibukan kadang jarang ketemu.
"Kerinduan pertama tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya lagi. Kerinduan kedua tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya. Setia menunggu dalam penantian yang lugu."
(Fahd Djibran, Revolvere Project) via status FB temen..
Ada kerinduan yang diam-diam menelusuk di hati, ada air mata yang tanpa sadar mengalir membersamai hati yang rindu itu. Aaaah, teman kau akan tetap menjadi sosok istimewa di hatiku. Meski ada banyak orang-orang baru yang datang silih berganti dalam hidupku, kamu akan slalu istimewa.
Ada yang bilang, sejatinya saat kita merindukan seseorang, tidak sepenuhnya kita merindukan sosok orang itu sendiri, melainkan rindu akan moment yang sempat tercipta bersamanya. Rindu berbincang ini dan itu, bersamanya. Rindu melihat tiap ekspresi yang ditampilkan olehnya. Juga rindu segala hal tentangnya.
Maka hal tersulit dari perpisahan adalah membiasakan diri akan sebuah ketidakhadiran, membiasakan hati bahwa dia yang melambaikan tangan, akan pergi menjauh. Mungkin tidak hatinya, tapi raga yang jauh kadang membuat hati kita sulit berpaut, karena ada jarak yang menjadi benteng untuk terbayarkannya rindu-rindu akan sebuah kebersamaan.
Minggu, 09 Juni 2013
Ramadhan yang Dirindukan
Ramadhan tinggal menghitung hari, ada debaran asing di dadaku, ada perasaan bahagia yang tak terkatakan, ada wajah yang memerah membayangkan beberapa puluh hari ke depan akan seperti apa.
Entahlah, mungkin bukan hanya aku yang merasakan hal yang sama. Si dia, dia dan diaaa mungkin juga merasakan apa yang aku rasa saat ini, bahagia menanti bulan penuh berkah itu.
Ada yang dirindukan dari Ramadhan, banyak hal. Aku rindu di mana orang-orang di sekeliling senantiasa mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, masjid-masjid diramaikan oleh para pengejar amalan, menjaga lisan adalah suatu keharusan, dan membelenggu diri dari hal-hal yang diharamkan.
Aku rindu suasana di saat Ramadhan; saling mengingatkan sudah sampai mana hafalan, sudah di juz berapa kah tilawahnya, bagaimana dengan program berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Amalan-amalan sunnah seakan menjadi santapan sehari-hari. Suasana rumah begitu terasa hikmatnya, sayup-sayup terdengar suara ayuk yang sedang tilawah dari teras atas, ada ibu yang selalu siap dengan bermacam hidangan untuk berbuka. Tertawa bersama ketika sahur, bercerita ini dan itu, lalu shalat Subuh berjamaah. Aaaah,...
I'tikaf. Nah amalan sunnah satu ini adalah yang paling aku rindukan, dan slalu dinantikan saat Ramadhan. Menghabiskan malam-malam akhir Ramadhan di masjid bersama teman-teman yang lain, merasakan begitu tenangnya hati saat keimanan sedang baik-baiknya.
Ada yang bahkan tidak tidur, terus-menerus melakukan shalat malam dengan air mata yang tumpah ruah. Sesegukan dalam sujud. Aku yang mendengarnya dengan mata setengah tertidur ikutan menangis, juga dengan sesegukan.
Ada keluarga kecil yang membawa serta anak-anaknya ke tempat itu, mengajarkan sedini mungkin kepada mereka tentang indahnya Ramadhan. Membuat lingkaran kecil saat makan sahur, ada si kecil dengan jilbab berantakan, mata sayu, menyantap makanan seakan disuruh minum racun. Hanya bisa menahan ketawa melihat tingkahnya itu, :)
Ada si Dwi yang asyik membaca al qur'an dengan kaki yang terusan merasakan dingin yang sangat, ketika ditanya sudah berapa lembar, dia menjawab sudah 3 juz. Aku yang tadinya berguling-guling malas langsung duduk dan segera sibuk dengan al qur'an, juga meminta dia beristirahat sebentar. Biar gak ketinggalan maksudnya itu, :D
Aaaaah, aku rindu semua itu. Rindu serindu rindunya, sepertinya hatiku berdarah-darah *lebay* untuk menantikan saat-saat itu bisa terulang kembali. Dan, sepertinya tak ada yang berbeda dengan Ramadhan tahun ini. Kita masih bisa menjalani bersama, ya kan?
Entahlah, mungkin bukan hanya aku yang merasakan hal yang sama. Si dia, dia dan diaaa mungkin juga merasakan apa yang aku rasa saat ini, bahagia menanti bulan penuh berkah itu.
Ada yang dirindukan dari Ramadhan, banyak hal. Aku rindu di mana orang-orang di sekeliling senantiasa mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, masjid-masjid diramaikan oleh para pengejar amalan, menjaga lisan adalah suatu keharusan, dan membelenggu diri dari hal-hal yang diharamkan.
Aku rindu suasana di saat Ramadhan; saling mengingatkan sudah sampai mana hafalan, sudah di juz berapa kah tilawahnya, bagaimana dengan program berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Amalan-amalan sunnah seakan menjadi santapan sehari-hari. Suasana rumah begitu terasa hikmatnya, sayup-sayup terdengar suara ayuk yang sedang tilawah dari teras atas, ada ibu yang selalu siap dengan bermacam hidangan untuk berbuka. Tertawa bersama ketika sahur, bercerita ini dan itu, lalu shalat Subuh berjamaah. Aaaah,...
I'tikaf. Nah amalan sunnah satu ini adalah yang paling aku rindukan, dan slalu dinantikan saat Ramadhan. Menghabiskan malam-malam akhir Ramadhan di masjid bersama teman-teman yang lain, merasakan begitu tenangnya hati saat keimanan sedang baik-baiknya.
Ada yang bahkan tidak tidur, terus-menerus melakukan shalat malam dengan air mata yang tumpah ruah. Sesegukan dalam sujud. Aku yang mendengarnya dengan mata setengah tertidur ikutan menangis, juga dengan sesegukan.
Ada keluarga kecil yang membawa serta anak-anaknya ke tempat itu, mengajarkan sedini mungkin kepada mereka tentang indahnya Ramadhan. Membuat lingkaran kecil saat makan sahur, ada si kecil dengan jilbab berantakan, mata sayu, menyantap makanan seakan disuruh minum racun. Hanya bisa menahan ketawa melihat tingkahnya itu, :)
Ada si Dwi yang asyik membaca al qur'an dengan kaki yang terusan merasakan dingin yang sangat, ketika ditanya sudah berapa lembar, dia menjawab sudah 3 juz. Aku yang tadinya berguling-guling malas langsung duduk dan segera sibuk dengan al qur'an, juga meminta dia beristirahat sebentar. Biar gak ketinggalan maksudnya itu, :D
Aaaaah, aku rindu semua itu. Rindu serindu rindunya, sepertinya hatiku berdarah-darah *
Kamis, 18 April 2013
Why Do We Need Friend?
We need friends for many reasons,
all throughout the four seasons...
We need friends to comfort us,
when we are sad,
and to have fun with us when we are glad...
We need friends to give us good advices,
we need someone we can count on to treat us nice...
We need friends to remember us,
once we have passed, sharing memories that will always last
[Repost: laninalathifa]
Selasa, 05 Maret 2013
Tanda Sayang
Tiap kita pasti memiliki orang-orang yang disayangi juga dicintai, baik itu keluarga, teman, atau juga seseorang, mungkin?! Nah, biasanya kepada mereka yang disayangi itu sikap kita akan berbeda dengan mereka yang biasa-biasa saja, yah bukan berarti kita tidak menyanyangi mereka sih. Hanya saja biasanya ada perlakuan yang beda, terhadap orang-orang yang selama ini berada dalam lingkup kehidupan kita, *kok jadi ribet yak? :))
Menyayangi seseorang biasanya akan membuat kita menjadi sangat perhatian, ingin melindungi, juga inginkan dirinya slalu dalam kebaikan-kebaikan. Tak ingin rasanya membuat dia kecewa, apalagi sampai terluka. Hanya saja, kadang sikap kita terhadap orang itu jadi agak sedikit over. Saking sayangnya kali yak? Hihihi.
Yah, seorang sahabat yang menyayangi sahabatnya pasti inginkan yang terbaik untuk sahabatnya itu. Berharap dia akan slalu membersamai langkah kita, tak boleh stop, berbelok atau bahkan mundur. Ia harus ada di samping, mensejajarkan langkah yang kadang tak bersamaan.
Seorang ibu yang menyayangi anaknya cenderung agak sedikit 'cerewet', diingatkan terus menerus, dan berusaha agar si anak menjadi anak yang lebih baik. Walau kadang si anak tetep kekeuh dengan kebandelannya itu, ckckck, terlalu! -___-"
Tanda sayang seseorang itu berbeda-beda, ada yang dengan cara mengomel untuk mengingatkan atau dengan mendiamkan untuk menyadarkan, ada juga dengan berbicara yang baik agar bisa dipahami atau dengan mendekati hatinya agar lebih bisa diterima dengan hati juga tentunya.
Jadi keinget sama seorang Ustadz yang pernah mengisi acara di kampus, "Seorang suami itu harusnya mengingatkan istrinya, jika si istri mulai lalai dalam menjalankan perintahNya. Bukan malah didiamkan, itu baru namanya cinta. Saya pernah menegur istri saya yang tidak memakai kaos kaki ketika pergi ke warung, saya bilang ke istri saya untuk tetap menjaga aurat, sebab alasan saya menikahinya karena ketaatannya. Salah satunya indikasinya ya dengan menjaga aurat. Mungkin ini masalah yang sederhana, namun jika hal kecil kadang diabaikan maka masalah besar akan berbondong-bondong menghampiri. Begitu juga dengan seorang istri yang harusnya menegur jika suami mulai malas-malasan shalat berjamaah di masjid dan lebih memilih shalat di rumah, jika bukan kita yang memakmurkan masjid, lantas siapa?"

Jika cinta, maka ingatkanlah, tegurlah lalu do'akan agar yang dicintai slalu dalam koridor ketaqwaan. Terima kasih untuk kamu-kamu yang slalu mencintaiku, yang gak pernah bosen untuk memberikan masukan-masukan terbaik. Sungguh, aku mencintaimu karena Allah, mencintai kalian semua karena Allah. Saranghae, ^^
Menyayangi seseorang biasanya akan membuat kita menjadi sangat perhatian, ingin melindungi, juga inginkan dirinya slalu dalam kebaikan-kebaikan. Tak ingin rasanya membuat dia kecewa, apalagi sampai terluka. Hanya saja, kadang sikap kita terhadap orang itu jadi agak sedikit over. Saking sayangnya kali yak? Hihihi.
Yah, seorang sahabat yang menyayangi sahabatnya pasti inginkan yang terbaik untuk sahabatnya itu. Berharap dia akan slalu membersamai langkah kita, tak boleh stop, berbelok atau bahkan mundur. Ia harus ada di samping, mensejajarkan langkah yang kadang tak bersamaan.
Seorang ibu yang menyayangi anaknya cenderung agak sedikit 'cerewet', diingatkan terus menerus, dan berusaha agar si anak menjadi anak yang lebih baik. Walau kadang si anak tetep kekeuh dengan kebandelannya itu, ckckck, terlalu! -___-"
Tanda sayang seseorang itu berbeda-beda, ada yang dengan cara mengomel untuk mengingatkan atau dengan mendiamkan untuk menyadarkan, ada juga dengan berbicara yang baik agar bisa dipahami atau dengan mendekati hatinya agar lebih bisa diterima dengan hati juga tentunya.
Jadi keinget sama seorang Ustadz yang pernah mengisi acara di kampus, "Seorang suami itu harusnya mengingatkan istrinya, jika si istri mulai lalai dalam menjalankan perintahNya. Bukan malah didiamkan, itu baru namanya cinta. Saya pernah menegur istri saya yang tidak memakai kaos kaki ketika pergi ke warung, saya bilang ke istri saya untuk tetap menjaga aurat, sebab alasan saya menikahinya karena ketaatannya. Salah satunya indikasinya ya dengan menjaga aurat. Mungkin ini masalah yang sederhana, namun jika hal kecil kadang diabaikan maka masalah besar akan berbondong-bondong menghampiri. Begitu juga dengan seorang istri yang harusnya menegur jika suami mulai malas-malasan shalat berjamaah di masjid dan lebih memilih shalat di rumah, jika bukan kita yang memakmurkan masjid, lantas siapa?"

Jika cinta, maka ingatkanlah, tegurlah lalu do'akan agar yang dicintai slalu dalam koridor ketaqwaan. Terima kasih untuk kamu-kamu yang slalu mencintaiku, yang gak pernah bosen untuk memberikan masukan-masukan terbaik. Sungguh, aku mencintaimu karena Allah, mencintai kalian semua karena Allah. Saranghae, ^^
Selasa, 19 Februari 2013
Tentang Ujian
"Tak penting ujian itu baik atau buruk, yang terpenting ujian itu membuat diri semakin taat."
Itu adalah motto hidup seorang kenalan saya, seorang ibu muda, istri yang shalehah juga muslimah yang tangguh (insyah Allah). Saya cukup mengenalnya, kira-kira satu setengah tahun yang lalu kita pertama kali bertemu. Di sebuah walimatul ursy yang sederhana namun begitu terasa indahnya, [Bandung, Juli 2011]
Karena dia dari Bandung, jadi orangnya itu sangat lembut. Tutur katanya begitu halus, dibanding sama saya sih jauuuuh, kek langit sama bumi. -___-" | Usia kita seumuran, tapi dia udah punya anak satu ajah, saya malah belum nikah, #ehh *curcol
Allah itu menguji hambaNya sesuai dengan tingkatan kemampuannya, jika kita diberi ujian yakinlah bahwa kita PASTI bisa mengatasi ujian itu. Hanya saja, apakah kita bersabar dan terus berikhtiar dalam menghadapinya ataukah mengeluh lalu menyerah tanpa berjuang?
Semakin tinggi tingkatan keimanan seseorang, maka ujianNya pun semakin hebat. Yah, ibaratnya kek ujian sekolah. Soal untuk anak SD pasti beda levelnya sama anak SMA, anak SMA akan dengan mudah menyelesaikan soal yang untuk anak SD, tapi tidak sebaliknya.
Di sana ada penilaian dariNya, untuk melihat sejauh mana hambaNya itu berhak dinaikkan 'level'nya. Apakah sudah layak naik atau masih harus meremedi lagi ujian tersebut? Sampai bisa lulus dengan hasil yang maksimal.
Teteh, begitulah saya biasa memanggilnya. Kisah hidup tentangnya ketika masih kuliah dulu sungguh menggetarkan, saya mendengarnya dari seorang teman dekatnya ketika di Bandung. Teteh itu terbiasa hidup keras, ibunya telah meninggal, ia tinggal bersama ayah dan adik lelaki satu-satunya. Dia harus bekerja keras untuk bisa tetap kuliah, kadang dia harus berjalan kaki menuju kampus, karena tak punya biaya untuk naik angkot.
Dan, sekarang beliau menetap di Palembang ikut suaminya. Meninggalkan ayah dan adiknya di sana, pasti sangat berat jika tidak kuat hati mah. Di sini banyak yang begitu menyayanginya, semua yang mengenal teteh pasti suka berteman dengannya. Karena beliau orang yang baik juga lembut.
Beberapa bulan yang lalu suaminya sakit, sempat dirawat di rumah sakit. Saat itu dia sedang hamil besar, harus bolak-balik ke rumah sakit menjaga suaminya. Alhamdulillah sekarang suaminya itu benar-benar sembuh. Sehingga dia bisa tenang menjalani kehidupan baru yang jauh lebih bahagia.
Lalu, Allah kembali mengujinya, saat ini dia sedang sakit. Sakit yang cukup berbahaya, di saat-saat paling membahagiakan, yah saat putri kecilnya sedang lucu-lucunya itu. Saya sempat membesuknya beberapa pekan lalu, saat itu dia hanya bilang sakit biasa. Tapi, wajahnya begitu pucat, badannya pun nampak kurusan dari sebelumnya. Karena katanya tidak apa-apa, saya tidak terlalu menanggapinya. Dan kembali memusatkan pada diri sendiri dan orang-orang terdekat saja, lalai pada dia yang dekat tapi terasa begitu jauh.
Saya merasa jahat, sangat jahat. Sebenarnya saya membesuknya saat itu juga karena disMsin seorang teman, meminta saya untuk bersilaturrahim ke rumahnya. Akhirnya saya menyempatkan diri mampir ke rumahnya, dengan alasan jarak yang lumayan jauh dan saya sangat jarang ada keperluan di daerah sana. Saya mengabaikan hak saudara saya untuk dikunjungi, saya emang jahat!
Padahal dia itu di sini sendirian, hanya bertemankan suami dan putri kecilnya yang baru 6 bulan itu. Betapa teganya saya tidak menemaninya di saat dia membutuhkan teman, saudara untuk sekedar tempat bercerita. Sesibuk itukah sampai tak punya waktu untuk mengunjunginya Ci?
Semoga semua akan baik-baik saja, yah, pastinya semua akan baik-baik saja. Allah bersama kita, Allah bersamamu teh. Allah bersama mereka yang senantiasa mendekat padaNya.
Rabu, 30 Januari 2013
Episode Rindu
Yah, saya akui, saya sedang rindu saat ini.
Sangat-sangat merindukan mereka,
Tanpa terasa, air mata ini mengalir dengan derasnya. Begini yah namanya rindu. Begini yah rasanya menahan rindu.
Entah, apa karena mereka itu suka nyebelin yah, atau karena mereka itu orang-orang aneh. Saya gak tau, yang jelas mereka telah menyihir saya dengan mantra kerinduan.
Padahal bangun tidur yang pertama kali keliat itu justru poto-poto mereka, yang berjejer tak rapih di dinding kamar. Kalo mo nelpon juga bisa ataupun ketemu langsung mungkin. Tapi, yang namanya rindu itu yah gitu, gak jelas maunya apa.
Mungkin semacam perasaan asing yang datang mengisi kekosongan di hati,
Entahlah, yang jelas saat ini saya sedang rindu, benar-benar rinduuuu.
Sangat-sangat merindukan mereka,
Tanpa terasa, air mata ini mengalir dengan derasnya. Begini yah namanya rindu. Begini yah rasanya menahan rindu.Entah, apa karena mereka itu suka nyebelin yah, atau karena mereka itu orang-orang aneh. Saya gak tau, yang jelas mereka telah menyihir saya dengan mantra kerinduan.
Padahal bangun tidur yang pertama kali keliat itu justru poto-poto mereka, yang berjejer tak rapih di dinding kamar. Kalo mo nelpon juga bisa ataupun ketemu langsung mungkin. Tapi, yang namanya rindu itu yah gitu, gak jelas maunya apa.
Mungkin semacam perasaan asing yang datang mengisi kekosongan di hati,
Entahlah, yang jelas saat ini saya sedang rindu, benar-benar rinduuuu.
Sabtu, 19 Januari 2013
Ada Jarak?
Kau tau, kawan? Bagiku jarak terjauh bagi kita itu bukan betapa jauhnya kau berada dari sisiku, meski kau ada di seberang pulau sana, meski kau tinggal di sebuah kota kecil di seberang lautan luas itu. Aku masih bisa merasa kita dekat, tak bersekat.
Namun, jarak terjauh itu jika hatiku dan hatimu tak lagi berada di frekuensi yang sama. Tak ada lagi kedekatan antara jiwaku yang gersang dan jiwamu yang damai. Pun ketika pikiranku tak lagi sejalan dengan pikiranmu.
Memahami itu tak hanya tentang mengerti, namun lebih dari itu, menerima. Menerima diri yang bergelimang kekurangan ini, menerima hati yang kadang mengeras ini, menerima pemikiran yang tak mau menurut katamu.
Yah! Menerima semuanya. Jika kita telah saling menerima, kita akan bisa saling memahami satu sama lain.
Selasa, 06 November 2012
Karena, Kamu Itu Baik
A: "Kenapa sih kalian itu baik banget?"
B: "Karena kamu juga orang yang baik, pake banget deh."
A: *blushing*
Hey kawan, mungkin kadang kamu berpikir kenapa orang-orang di sekelilingmu bersikap begitu baik kepadamu. Ketahuilah, bahwasanya kamu lah yang memantulkan kebaikan-kebaikan itu.
Karena, jika kamu bersikap baik, maka orang pun akan memperlakukan hal yang serupa kepadamu. Kalaupun ada orang yang bersikap kurang baik, mungkin saja dia adalah ujian kesabaran untukmu. Yang akan menaikkan tingkatan ketaqwaanmu di hadapan Allah.
Selasa, 09 Oktober 2012
Normal is Boring
Salah satu judul buku yang berderet rapi di sebuah toko buku ternama, dari judulnya ajah uda menarik. Pas diliat-liat, ternyata bukunya unik. Dari bentuk bukunya aja sudah gak normal. Yang biasanya kita membuka
sampul buku dari sebelah kiri ke kanan, sedangkan untuk buku ini kita
buka dari kanan ke kiri.
Tapi, aku gak cerita tentang buku itu loh. Karena belom baca, kemaren cuma liat-liat doank. Nanti deh, suatu hari buku itu akan ada di lemari bukuku dan akan aku bagi deh ilmu dari buku itu di sini.
Hidup normal itu menjalankan segala sesuatu sesuai dengan standar seharusnya, melakukan ini dan itu karena emang sudah sebegitu harusnya. Hidup lurus-lurus ajah, pokoknya gak neko neko deh. Menyenangkan? Tapi, suatu waktu kita akan berada di titik klimaks kebosanan. Bosan dan bosan.
Waktu ngebaca judul buku ini bareng si Kiki, kita langsung sepakat sama buku ini. Karena faktanya, kita itu 'gak normal'. Eits, jangan mikir yang aneh-aneh deh. Kita masih suka laki-laki kok, walaupun seandainya kagak ada laki-laki yang suka sama kita. Hahaha *plakkks
Banyak hal gak normal yang kita lakukan, aku, Kiki dan Dwi. Biasanya kan akhwat itu identik dengan kalem, lembut, sopan, bicaranya halus, gak aneh, lurussss ajah, pokoknya tipe ideal banget deh buat dijadiin calon istri. Nah, kita? Udah rempong, aneh, suaranya keras, suka ngerror, bonceng tiga di jalan raya siang hari, punya kucing belasan di rumah (Dwi), gak bawa kebaya pas acara wisuda (Kiki), sampe ada yang batal wisuda gara-gara gak ikut kursus Bahasa Arab (itu siapa yah??), itu kan konyol?!! -__-"
Tapi, kadang kita juga harus dikembalikan ke kehidupan yang normal. Biar hidup kita gak terlalu ANEH, hahaha! Kan gak mungkin tiap saat slalu melakukan hal-hal konyol, yang kadang bikin orang geleng-geleng kepala ngeliatnya.
Hal konyol terupdate yang diciptakan oleh si Kiki itu semalem, pas dia mau pulang dari rumahku, biasanya kan tiap dibonceng naek motor nih bocah slalu pake helm ungu punyaku. Nah, dia pakelah tuh helm pas aku mau nganter dia. Aku ngeliat sih dia pake helm, tapi aku diem ajah ngeliatnya. Padahal aku cuma nganter dia sampe terminal yang jaraknya cuma 3 menit dari rumahku kalo pake motor, aku yang bawa ajah gak pake helm malah.
Terus, sesampainya di terminal, dia dadah-dadah ajah dengan helm tetep di kepalanya. Untungnya aku nyadar tentang helm itu, dan dia kaget plus bingung. Nyerahin helm ke aku dengan muka cemberut trus bilang, "Biso dak sih sekali be hidup kito dak konyol. Ish -__-"
Hahaha, aku cuma nahan ketawa di motor, sambil ngeliat dia yang berjalan menjauh dengan muka cemberut plus nyengir-nyengir aneh. =))
Tapi, aku gak cerita tentang buku itu loh. Karena belom baca, kemaren cuma liat-liat doank. Nanti deh, suatu hari buku itu akan ada di lemari bukuku dan akan aku bagi deh ilmu dari buku itu di sini.
Hidup normal itu menjalankan segala sesuatu sesuai dengan standar seharusnya, melakukan ini dan itu karena emang sudah sebegitu harusnya. Hidup lurus-lurus ajah, pokoknya gak neko neko deh. Menyenangkan? Tapi, suatu waktu kita akan berada di titik klimaks kebosanan. Bosan dan bosan.
Waktu ngebaca judul buku ini bareng si Kiki, kita langsung sepakat sama buku ini. Karena faktanya, kita itu 'gak normal'. Eits, jangan mikir yang aneh-aneh deh. Kita masih suka laki-laki kok, walaupun seandainya kagak ada laki-laki yang suka sama kita. Hahaha *
Banyak hal gak normal yang kita lakukan, aku, Kiki dan Dwi. Biasanya kan akhwat itu identik dengan kalem, lembut, sopan, bicaranya halus, gak aneh, lurussss ajah, pokoknya tipe ideal banget deh buat dijadiin calon istri. Nah, kita? Udah rempong, aneh, suaranya keras, suka ngerror, bonceng tiga di jalan raya siang hari, punya kucing belasan di rumah (Dwi), gak bawa kebaya pas acara wisuda (Kiki), sampe ada yang batal wisuda gara-gara gak ikut kursus Bahasa Arab (itu siapa yah??), itu kan konyol?!! -__-"
Tapi, kadang kita juga harus dikembalikan ke kehidupan yang normal. Biar hidup kita gak terlalu ANEH, hahaha! Kan gak mungkin tiap saat slalu melakukan hal-hal konyol, yang kadang bikin orang geleng-geleng kepala ngeliatnya.
Hal konyol terupdate yang diciptakan oleh si Kiki itu semalem, pas dia mau pulang dari rumahku, biasanya kan tiap dibonceng naek motor nih bocah slalu pake helm ungu punyaku. Nah, dia pakelah tuh helm pas aku mau nganter dia. Aku ngeliat sih dia pake helm, tapi aku diem ajah ngeliatnya. Padahal aku cuma nganter dia sampe terminal yang jaraknya cuma 3 menit dari rumahku kalo pake motor, aku yang bawa ajah gak pake helm malah.
Terus, sesampainya di terminal, dia dadah-dadah ajah dengan helm tetep di kepalanya. Untungnya aku nyadar tentang helm itu, dan dia kaget plus bingung. Nyerahin helm ke aku dengan muka cemberut trus bilang, "Biso dak sih sekali be hidup kito dak konyol. Ish -__-"
Hahaha, aku cuma nahan ketawa di motor, sambil ngeliat dia yang berjalan menjauh dengan muka cemberut plus nyengir-nyengir aneh. =))
Sabtu, 06 Oktober 2012
Teman Bicara
Kamu punya, teman bicara?
Itu, orang yang akan pertama kali kamu hubungin saat kamu lagi sedih ataupun seneng.
Entah kenapa, kamu ingin dia tau tentang apa yang terjadi sama kamu.
Mungkin, karena dia membuat kamu merasa nyaman dan bicara dengannya membuatmu menjadi jauh lebih tenang.
Rasa nyaman itu hadir bukan karena dia orang yang cerdas, bijak, atau mungkin teman yang paling paling deh. Rasa nyaman itu ada lebih karena dia paham siapa kamu, mencoba mendengar dan memberi tanggapan terbaik yang bisa ia berikan.
Aku cukup memiliki banyak teman, ada beberapa sahabat dekat. Tapi, untuk teman bicara, hanya ada segelintir orang saja. Bukan berarti aku introvert, hanya saja tidak semua orang bisa memahami siapa diri ini. Yang meski tanpa perlu aku ucapkan, dia bisa tau kalimat-kalimat yang tak terkatakan oleh lisan ini.
Dia, salah satu teman bicara terbaikku. Entah sejak kapan kebiasaan ini dimulai, jika ada risau di hati, dia adalah seseorang yang kan segera mengetahuinya. Mengirimkan pesan-pesan pendek yang tak pendek itu, melegakan hatiku, meski tak harus direspon dengan segera. Aku hanya ingin mencurahkan semua yang menyesakkan di hati, kepadanya, teman bicaraku.
Hey, kamu!
Nanti, walau kita jauh,
Masih mau kan jadi teman bicaraku?
Itu, orang yang akan pertama kali kamu hubungin saat kamu lagi sedih ataupun seneng.
Entah kenapa, kamu ingin dia tau tentang apa yang terjadi sama kamu.
Mungkin, karena dia membuat kamu merasa nyaman dan bicara dengannya membuatmu menjadi jauh lebih tenang.
Rasa nyaman itu hadir bukan karena dia orang yang cerdas, bijak, atau mungkin teman yang paling paling deh. Rasa nyaman itu ada lebih karena dia paham siapa kamu, mencoba mendengar dan memberi tanggapan terbaik yang bisa ia berikan.
Aku cukup memiliki banyak teman, ada beberapa sahabat dekat. Tapi, untuk teman bicara, hanya ada segelintir orang saja. Bukan berarti aku introvert, hanya saja tidak semua orang bisa memahami siapa diri ini. Yang meski tanpa perlu aku ucapkan, dia bisa tau kalimat-kalimat yang tak terkatakan oleh lisan ini.
Dia, salah satu teman bicara terbaikku. Entah sejak kapan kebiasaan ini dimulai, jika ada risau di hati, dia adalah seseorang yang kan segera mengetahuinya. Mengirimkan pesan-pesan pendek yang tak pendek itu, melegakan hatiku, meski tak harus direspon dengan segera. Aku hanya ingin mencurahkan semua yang menyesakkan di hati, kepadanya, teman bicaraku.
Hey, kamu!
Nanti, walau kita jauh,
Masih mau kan jadi teman bicaraku?
Jumat, 05 Oktober 2012
Rasa Kehilangan
Pernah merasa kehilangan sesuatu?
Barang, moment, seseorang atau mungkin ingatan?
Rasanya itu, seperti sesuatu yang selama ini ada lalu kemudian tiada.
Ada yang kurang,
Ada rasa gelisah yang datang,
Ada kesepian yang tiba-tiba menyerang.
Aaaah, rasa itu sungguh tidak nyaman,
Membelenggu hati dalam sebuah pencarian,
Mencari yang hilang agar bisa kembali datang,
Rasa kehilangan itu hadir ketika kita merasa memiliki sesuatu,
Sesuatu yang tanpa kita sadari menemani waktu-waktu berharga yang kita miliki,
Lalu, ia tiba-tiba harus pergi, menjauh kemudian benar-benar menghilang bersama waktu,
Sejatinya, kita tak memiliki apa-apa di dunia ini,
Yang ada di samping kita saat ini, hanya sebuah titipan bernamakan anugerah,
Yang bisa pergi dan menghilang kapan pun ia harus pergi,
Tanpa pernah bisa kita memintanya untuk kembali datang ke sisi,
Rabu, 03 Oktober 2012
Emang Dasar
Mau cerita sedikit tentang ke-aneh-an aku, Kiki sama Dwi. Entahlah, meski kadang berusaha untuk menolak kalo dibilang aneh, tapi kami lebih sering menerima kalo kami emang ANEH. Huahahaa, tuh kan, aneh kan?
Tanggal 22 September 2012
Aku sama Dwi ada agenda arisan akhwat DPC Kalidoni, waktu itu tempatnya di rumah Mb Fitri. Tepat jam 3 kita udah ada di sana, karena acaranya jam 4. Mau numpang shalat Ashar sekalian. Diketok-ketok gak ada respon, akhirnya kita memutuskan untuk numpang shalat di rumah Ummu Zafa yang gak jauh dari sana.
Dwi yang kusuruh untuk meng-sMs Ummu Zafa, bilang kalo kita mau ke rumahnya untuk numpang shalat. Pesan terkirim! Tapi, kok henpon ku bunyi, ringtone-nya itu ringtone khusus An Nahl, jadi aku tanya ke Dwi > Wik, ko yang sMs aku ye? | Nah, iyo Cik, terkirim ke nomermu. Hehe | Hadeeeh, punya temenku aneh sih, orang aku jelas-jelas di sampingnya, masih juga dikirimin sMs. Hahaha.
Sabtu 29 September 2012
Kejadian itu aku ceritain ke Kiki, dengan girangnya dia nginget-nginget kejadian dulu, waktu aku juga pernah salah kirim, padahal yah, Kiki ada di depanku, dan aku mau kirim sMs ke Dwi, eh malah ngirim ke dia. Ckckck. Kiki keknya gembira banget tuh ngatain aku siang itu, "Makanya Cik, kalian itu emang aneh. Masa bisa salah kirim sih, itu kan konyol. Huahaha"
Sore itu kita mau silaturahim ke rumah Kak Anton, untuk memastikan kita beneran mau dateng, Kiki nge-sMs Kak Anton, "Kak, kami ke rumah sekarang."
Pas nyampe rumah Kak Anton, dia agak kaget pas kita ternyata beneran dateng, padahal lagi hujan deres banget. Terus, dengan polosnya Kiki bilang, "Kan, udah di sMs tadi."
Setelah masuk ke rumah, aku langsung ngeliat henponku, ada 1 message, dari Kiki. Isinya > "Kak, kami ke rumah sekarang." Kontan ajah aku langsung ketawa, terus ngelirik tajem ke arahnya. Ckckck -__-"
Halah, emang dasar, trio aneh, sebelas sebelas deh. Kagak ada bedanya lah, sama ajah.
Tanggal 22 September 2012
Aku sama Dwi ada agenda arisan akhwat DPC Kalidoni, waktu itu tempatnya di rumah Mb Fitri. Tepat jam 3 kita udah ada di sana, karena acaranya jam 4. Mau numpang shalat Ashar sekalian. Diketok-ketok gak ada respon, akhirnya kita memutuskan untuk numpang shalat di rumah Ummu Zafa yang gak jauh dari sana.
Dwi yang kusuruh untuk meng-sMs Ummu Zafa, bilang kalo kita mau ke rumahnya untuk numpang shalat. Pesan terkirim! Tapi, kok henpon ku bunyi, ringtone-nya itu ringtone khusus An Nahl, jadi aku tanya ke Dwi > Wik, ko yang sMs aku ye? | Nah, iyo Cik, terkirim ke nomermu. Hehe | Hadeeeh, punya temenku aneh sih, orang aku jelas-jelas di sampingnya, masih juga dikirimin sMs. Hahaha.
Sabtu 29 September 2012
Kejadian itu aku ceritain ke Kiki, dengan girangnya dia nginget-nginget kejadian dulu, waktu aku juga pernah salah kirim, padahal yah, Kiki ada di depanku, dan aku mau kirim sMs ke Dwi, eh malah ngirim ke dia. Ckckck. Kiki keknya gembira banget tuh ngatain aku siang itu, "Makanya Cik, kalian itu emang aneh. Masa bisa salah kirim sih, itu kan konyol. Huahaha"
Sore itu kita mau silaturahim ke rumah Kak Anton, untuk memastikan kita beneran mau dateng, Kiki nge-sMs Kak Anton, "Kak, kami ke rumah sekarang."
Pas nyampe rumah Kak Anton, dia agak kaget pas kita ternyata beneran dateng, padahal lagi hujan deres banget. Terus, dengan polosnya Kiki bilang, "Kan, udah di sMs tadi."
Setelah masuk ke rumah, aku langsung ngeliat henponku, ada 1 message, dari Kiki. Isinya > "Kak, kami ke rumah sekarang." Kontan ajah aku langsung ketawa, terus ngelirik tajem ke arahnya. Ckckck -__-"
Halah, emang dasar, trio aneh, sebelas sebelas deh. Kagak ada bedanya lah, sama ajah.
Jumat, 21 September 2012
Ikutan Random
Akhir-akhir ini pikiranku jadi random, loncat sana loncat sini.
Bermain ke masa lalu, lalu lompat ke masa depan, kembali mendarat ke masa sekarang.
Aaaaah, pokoknya random deh.
Mau tau kenapa?
Ini karena temen deketku mau nikah.
Kenapa aku yang ribet?
Entah, aku juga bingung kenapa aku jadi ikutan ribet?
Karena dia temen deketku, dari awal mau akan berproses *bahasanyaaaa dia cerita ke aku, semuanya. Jadi, kebayang kan aku otomatis ngerasain kegalauan dia, dari awal nyampe sekarang nyiapin buat resepsi pernikahannya. Kalo dia lagi bingung dan galau, aku lebih galau dari dia. Aneh? Emang aku aneh, perasaanku masalah orang lain itu kaya masalahku sendiri. Berasa yang punya beban itu adalah aku, karena aku slalu berusaha memposisikan diri sebagai orang yang sedang terlibat dalam suatu perkara, apa pun itu.
Jadi, pekan ini aku disibukkan dengan yang namanya gaun pengantin. Dia maunya pake baju adat, tapi tetap dengan jilbab lebar, tanpa sanggul juga tanpa make up yang gak Islami. Dan, aku juga temenku satu lagi diharuskan mikir solusinya apaan. Huaaaa, aku gak ada pengalaman. Pernah sih pas kakak aku nikah, aku ditugaskan ngurusin mba-ku, karena aku minta ini minta itu ke tukang riasnya, akhirnya aku diusir dari ruang rias pengantin. Hikzzzz,kejamnya tante itu yah? -__-"
Sepertinya, sampe akhir November aku akan ikutan random. Selesai satu hal, ada hal lainnya, dan begitu seterusnya. Tapi, aku seneng banget bisa ngebantu temenku menyiapkan semua ini. Karena, sang calon pengantin pasti pikirannya jauh lebih random dariku. Banyak hal yang berkejaran dan harus segera diselesaikan. Banyak impian yang terbentur dengan realita yang ada, dan semua harus disikapin dengan bijak.
Dan, aku percaya jika aku meringankan beban saudaraku, maka Allah akan meringankan bebanku.
Bermain ke masa lalu, lalu lompat ke masa depan, kembali mendarat ke masa sekarang.
Aaaaah, pokoknya random deh.
Mau tau kenapa?
Ini karena temen deketku mau nikah.
Kenapa aku yang ribet?
Entah, aku juga bingung kenapa aku jadi ikutan ribet?
Karena dia temen deketku, dari awal mau akan berproses *
Jadi, pekan ini aku disibukkan dengan yang namanya gaun pengantin. Dia maunya pake baju adat, tapi tetap dengan jilbab lebar, tanpa sanggul juga tanpa make up yang gak Islami. Dan, aku juga temenku satu lagi diharuskan mikir solusinya apaan. Huaaaa, aku gak ada pengalaman. Pernah sih pas kakak aku nikah, aku ditugaskan ngurusin mba-ku, karena aku minta ini minta itu ke tukang riasnya, akhirnya aku diusir dari ruang rias pengantin. Hikzzzz,
Sepertinya, sampe akhir November aku akan ikutan random. Selesai satu hal, ada hal lainnya, dan begitu seterusnya. Tapi, aku seneng banget bisa ngebantu temenku menyiapkan semua ini. Karena, sang calon pengantin pasti pikirannya jauh lebih random dariku. Banyak hal yang berkejaran dan harus segera diselesaikan. Banyak impian yang terbentur dengan realita yang ada, dan semua harus disikapin dengan bijak.
Dan, aku percaya jika aku meringankan beban saudaraku, maka Allah akan meringankan bebanku.
Sabtu, 15 September 2012
Nyanyian Kita
"Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu, dan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya"diambil dari http://www.slideshare.net/gunawansr/arti-sebuah-sahabat
Seperti itu lah sahabat, si pengingat terbaik.
Bukan karena ingatan yang kuat, dia dikatakan pengingat yang baik.
Tapi, karena dia memahami bagaimana hatimu.
Yang menuntunnya untuk kembali mengingat bait-bait di dalam hatimu, yang pernah kamu nyanyikan.
Ada saatnya kita menjadi orang yang mendengarkan sebuah curahan hati seseorang, mencoba untuk mengerti, memahami, lalu mengingatinya. Kemudian memberikan beberapa masukan kecil sekedar menjadi bahan pertimbangan untuk penentu ke mana curahan hati itu akan mengarah.
Lalu, saat kita berada di posisi yang serupa. Tanpa pernah kita menyadarinya, dia memantulkan kalimat-kalimat serupa yang sempat tersampaikan kepadanya kala itu.
Ilustrasi
[Juni, 2012]
"Jangan pernah minder, tiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan karena ada banyak kekurangan, lantas kamu merasa tidak layak bersanding dengannya yang nampak 'sempurna' di pandanganmu? Kamu itu istimewa, dengan sesuatu yang tak dimiliki orang lain. Percayalah itu, kawan!"
~ Ukhti A ke Ukhti B~
[Juli, 2012)
"Sekufu itu hanya Allah yang tau. Mungkin mereka hebat bagimu, tapi kamu juga gak kalah hebat di pandanganku. Setiap orang punya keistimewaan masing-masing, so, gak usah pake minder deh."
~ Ukhti B ke Ukhti A ~
Rabu, 12 September 2012
Silaturahim Itu, Sesuatu
Silaturahim, aku termasuk orang yang suka dengan amalan yang satu ini. Secara, aku suka berkunjung ke rumah orang-orang terdekat, walau sebenernya rumahnya gak dekat loh. Kenapa suka? Karena banyak hal; ingin mengetahui kabar dari orang yang dikunjungi tersebut, ingin menjawab rasa kangen mereka ke aku *pedenyaaaa, terus karena ingin menjalankan hadits Rasulullah;
Diriwayatkan dari Abu Hurariroh RA, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturrahminya.” (HR Bukhori, 5640)
Nah, karena aku ingin luas rezekinya, terus panjang umur. Jadinya aku suka amalan satu ini, silaturahim.
Rezeki yang luas
Panjang UmurDengan silaturahim, kita otomatis dijamu dengan sebaik-baiknya sebagai tamu oleh tuan rumah, disugukan makanan, minuman, dan senyum manis dari mereka. Bukankah hal itu adalah rezeki? Terus, biasanya dengan silaturahim kita dapat berbagi pengetahuan, berita baru juga banyak hal deh. Dan semuanya itu termasuk rezeki, rezeki kan gak harus berupa uang. Bisa jadi, dengan silaturahim kamu bisa mendapatkan jodoh. Jodoh kan termasuk rezeki, hahaha, *apasihciiii??
Nah, maksudnya panjang umur ini. Mungkin lebih ke banyak yang akan mengingat kita, dengan kita menyambung silaturahim, karena sejatinya umur kita udah ada jatahnya masing-masing. Dengan silaturahim, orang-orang akan mengenal, mengetahui dan merasakan tentang kita. Biasanya akan banyak hal yang akan diingat dari kita, dan berharap apa yang diingat oleh orang lain tentang kita setelah kita udah gak ada lagi adalah kebaikan kita bukan malah sebaiknya. :-)
Minggu, 09 September 2012. 3 hari setelah miladnya Mb Dona Hariya Harpizah, beliau adalah kakak tingkat kami di kampus. Dan juga mba kami di LDK, dan dia adalah 'seseorang' yang special buatku. Gak tau sejak kapan kita jadi akrab banget kaya sekarang ini, yang jelas seingetku kita mulai jadi akrab ketika mau berangkat ke Bandung. Sebelumnya juga akrab, tapi gak seintens sekarang komunikasinya.
[flashback] Tahun 2009, kita ngasih kejutan buat Mb Dona dimiladnya. Kebetulan saat itu kita bertiga sedang mengikuti kegiatan Pesantren Ramadhan untuk anak SMP dan SMA Kusuma Bangsa Palembang, sebagai tutor. Kita bertiga menempati kamar yang sama dengan tempat tidur yang sama juga. Pas di jam 00.00 kita ngebangunin Mb Dona, terus karna gak ada sagu buat ditimpuk ke beliau, jadi kita pake bedak baby deh. Hahaha, pokoknya kamar itu kacau deh, berisik dan berantakan.
Back to 2012
Jadi, hari Minggu itu aku dan Kiki pulang kondangan janjian mau ke rumah Mb Dona. Sebenernya niat kita ke sana buat nagih traktiran, tapi karena kita berdua pulang dari kondangan yang otomatis perut udah pada kenyang. Jadi gak niat lagi buat nagih traktiran itu dan digantikan dengan sepiring brownies buatan Mb Dona, enak loh. And, the end.
Sebelum pulang, kita mau mengabadikan moment kebersamaan kita dengan jeprat jepret geje. Dan, taraaaa,...
![]() |
| Kiki, Aci dan Mb Dona |
Senin, 10 September 2012
Kondangan dan Pria Berompi Hijau
Kemarin, 09 September 2012. Aku dan Kiki (lagi-lagi) janjian buat ke kondangan, tapi ceritanya nih tempat yang mau kita datengin ini beda-beda, paginya Kiki ke akad nikah Mb Nit (temen DPW-nya) yang menikah dengan ikhwan yang bertugas di Jepang, wuiiiih Jepang, kereeeen!
Terus jam 11-an aku sama dia janji ketemuan di depan BLPT, menghadiri walimahan temen ngajarnya Kiki. Ba'da dari situ barulah kita ke nikahan temen SD-SMP-SMA ku, namanya Agung Prima. Waktu sekolah kita temenan cukup baik, dia dulu duduknya di belakangku pas SMA kelas 2. Lagian, menghadiri undangan itu kan juga wajib.
Oya, waktu Kiki bilang acara temennya itu di Gedung Serbaguna BLPT, aku langsung ke inget sama kejadian setahun yang lalu, kalo gak salah. Waktu itu sama, aku juga nemenin Kiki ngehadirin nikahan, yang nikah Mb Evi sama Kak Momo.
Rencananya yah, ba'da kondangan kita mau jalan ke Palembang Indah Mall, ada yang mau dicari juga di sana. Jadinya, sebelum pergi aku udah bilang ke Kiki buat bawa helm. Eh, dianya malah lupa. Akhirnya, aku memberanikan diri buat ngebonceng dia tanpa helm, padahal kan banyak polisi kalo siang hari gitu.
Pas pergi sih, aman terkendali. Masalahnya pas pulang itu, di angkatan 66 itu polisinya 'agresif', sampe ke tengah-tengah jalan gitu, biasanya kan dia cuma nongkrong di posnya doank. -___-"
Jadilah, aku mencari celah biar gak ketangkep polisi. Tapi, celahnya gak ketemu, aku pun memutuskan untuk meminta Kiki jalan kaki sampe ke seberang. Karena takut kejadian yang sama terulang lagi, kami memutuskan untuk beli helm. Keberuntungan emang gak sedang berpihak ke kami deh, di toko itu kagak ada helm murah, semuanya mahaaal.
Kami pun nekat tetep pergi ke PIM tanpa helm buat Kiki, eh dijalan sebelum mall yang dituju sudah berdiri tegap si Pria Berompi Hijau. Dan, Kiki harus turun lagi deh,kesian! Dirasa aman, kita jalan lagi.
Tapi, tepat di depan mall itu, banyak banget pria-pria berompi hijau. Hampir ajah aku nurunin Kiki di jalan, sebelum akhirnya sadar kalo mereka itu adalah para tukang becak yang kompak dikasih rompi hijau sama pihak tertentu. Saking parnonya sama rompi hijau, tukang becak yang pada pake celana pendek ajah tetep ngebuat panik.
Jadinya, aku sama Kiki ketawa-tawa terus di motor sampe masuk ke mall. Ih nyebelin banget sih, kenapa juga harus rompi hijau, kan bisa pake rompi pink, ungu atau biru kek. Biar kita yang agak bandel ini kagak pada shock ngeliatnya, huuuufffh, >,<
Terus jam 11-an aku sama dia janji ketemuan di depan BLPT, menghadiri walimahan temen ngajarnya Kiki. Ba'da dari situ barulah kita ke nikahan temen SD-SMP-SMA ku, namanya Agung Prima. Waktu sekolah kita temenan cukup baik, dia dulu duduknya di belakangku pas SMA kelas 2. Lagian, menghadiri undangan itu kan juga wajib.
Oya, waktu Kiki bilang acara temennya itu di Gedung Serbaguna BLPT, aku langsung ke inget sama kejadian setahun yang lalu, kalo gak salah. Waktu itu sama, aku juga nemenin Kiki ngehadirin nikahan, yang nikah Mb Evi sama Kak Momo.
Rencananya yah, ba'da kondangan kita mau jalan ke Palembang Indah Mall, ada yang mau dicari juga di sana. Jadinya, sebelum pergi aku udah bilang ke Kiki buat bawa helm. Eh, dianya malah lupa. Akhirnya, aku memberanikan diri buat ngebonceng dia tanpa helm, padahal kan banyak polisi kalo siang hari gitu.
Pas pergi sih, aman terkendali. Masalahnya pas pulang itu, di angkatan 66 itu polisinya 'agresif', sampe ke tengah-tengah jalan gitu, biasanya kan dia cuma nongkrong di posnya doank. -___-"
Jadilah, aku mencari celah biar gak ketangkep polisi. Tapi, celahnya gak ketemu, aku pun memutuskan untuk meminta Kiki jalan kaki sampe ke seberang. Karena takut kejadian yang sama terulang lagi, kami memutuskan untuk beli helm. Keberuntungan emang gak sedang berpihak ke kami deh, di toko itu kagak ada helm murah, semuanya mahaaal.
Kami pun nekat tetep pergi ke PIM tanpa helm buat Kiki, eh dijalan sebelum mall yang dituju sudah berdiri tegap si Pria Berompi Hijau. Dan, Kiki harus turun lagi deh,
Tapi, tepat di depan mall itu, banyak banget pria-pria berompi hijau. Hampir ajah aku nurunin Kiki di jalan, sebelum akhirnya sadar kalo mereka itu adalah para tukang becak yang kompak dikasih rompi hijau sama pihak tertentu. Saking parnonya sama rompi hijau, tukang becak yang pada pake celana pendek ajah tetep ngebuat panik.
Jadinya, aku sama Kiki ketawa-tawa terus di motor sampe masuk ke mall. Ih nyebelin banget sih, kenapa juga harus rompi hijau, kan bisa pake rompi pink, ungu atau biru kek. Biar kita yang agak bandel ini kagak pada shock ngeliatnya, huuuufffh, >,<
Hey! Pria Berompi Hijau
Melihatmu, mendebarkan jantungku,
Mengingatmu, menyesakkan pikiranku,
Melewatimu, berpacu denyut nadiku,
Berhadapan denganmu, sungguh akan kuhindari itu.
Kau, pria berompi hijau,
Entah kenapa aku slalu panik saat melihatmu berdiri tegap di sudut jalan itu,
Slalu merasa ada yang kurang pada diriku,
Entah apa itu, aku merasa rasa khawatir itu senantiasa melingkupiku.
Dan, duhai pria berompi hijau, baik-baiklah sama kami yah? Hahaha
Langganan:
Postingan (Atom)













