Tampilkan postingan dengan label corat coret iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label corat coret iseng. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

Orang yang Baik


“kenapa?” 
“hmmm, karena ia orang baik, yang datang dengan cara yang baik.” 

karena saya tak pernah tau;
apakah ia adalah sebuah nama yang selama ini Tuhan jaga,
apakah ia sang pemilik tulang rusuk ini,
apakah ia yang sepanjang waktu memantaskan diri tuk menjadi imam saya kelak…

yang saya tau hanya sebatas ini;
ia orang baik,
ia memiliki niat yang baik,
ia datang dengan cara yang baik,
ia meminta saya dengan sgala kesanggupannya…

dan, saya merasa ‘diperjuangkan’ olehnya;
dengan aral dan liku yang ada,
ia tetap memperjuangkannya,
dengan apa adanya saya,
ia mampu menerimanya…


lalu, apa saya memiliki alasan lain untuk mengabaikannya?
cinta, kurasa adalah hadiah yang kan Tuhan berikan nantinya;
untuk mereka yang ridho atas tiap ketentuanNya,
mereka yang berupaya kuat untuk menjaga diri dan hati karenaNya,
mereka yang menjalani tiap episode hanya berharap barokah dariNya,
ya, semoga dari mereka-mereka itu ada namaku di dalamnya…


-celoteh si gadis kecil-

Selasa, 25 Juni 2013

Apa Kabar?

Mungkin hanya sebuah sapaan pembuka bagi seseorang ke orang lainnya. Bisa dibilang juga sih itu pertanyaan basa basi, yang kadang gak terlalu membutuhkan jawaban, apalagi kalo orang itu ada di hadapan kita. Tampak sehat, baik-baik saja, dan masih sama seperti yang dulu.

Tapi, kau tau? Apa kabar sejatinya adalah ungkapan lain dari kalimat 'aku rindu', katanya seperti itu. Yah, ada yang bilang 'apa kabar' hanya sebuah kalimat ganti dari sebuah kerinduan. Aku juga gak tau pasti, apa kah tiap 'apa kabar' dari seseorang slalu diasumsikan sebagai pernyataan rindu, dari orang tersebut. Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. :)

Kadang ada beberapa orang yang jarang sekali bisa ditemui, hanya bisa menyaksikannya lewat gemerlapnya dunia maya. Cukup tau saja, dia masih ada, masih sehat, sepertinya masih baik-baik saja. Lalu kemudian tak ada pesan ataupun panggilan yang ditujukan untuknya, meski hanya untuk bertanya 'apa kabar?'

Namun seringnya aku mendapat tanya itu justru dari orang yang kerap kali berkomunikasi denganku, melakukan interaksi yang cukup intens. Teman dekat, sahabat, teman lama, ataupun keluarga. Mereka sering menyampaikan tanya itu, kepadaku, "apa kabar Aciii? lagi apa oi?"

Padahal yah orang yang nanya itu, baru juga tiga hari yang lalu ketemu dan makan es krim bareng. Makanya aku bilang, sebenernya dia itu lagi kangen sama akunya. Jadi sok-sok-an deh nanya kabar segala, padahal kalo akunya sakit, dia juga mungkin orang pertama yang dikasih tau. :p

Yap. Mungkin karena manusia emang insan yang paling gengsian buat nyatain perasaan yang ada di hati, mau bilang "aku kangen" rasanya gak mungkin deh. Pasti akan jadi aneh dan akan ada banyak pertanyaan lain yang akan dilontarkan, "ada apa? lagi kumat yak? atau salah makan?" =))

Apapun itu deh, yang jelas kalo ada yang nanya kabar, berarti orang itu peduli sama kita. Tapi, kudu hati-hati juga, siapa tau yang nanya kabar itu orang yang pernah kita janjikan sesuatu, yang mungkin janji itu kita abaikan dan terlupakan deh. Jadinya, dia nanya kabar, supaya kamunya inget. Gituh. Nah loh! :p


Btw apa kabar, kamu?

Minggu, 16 Juni 2013

Bukan Salesman

Kuharap kau bukan salesman, yang mengetuk tiap pintu, dan menyampaikan kalimat yang sama.
Karena sungguh aku tak tertarik pada dia yang seperti itu.

Kuharap kau bukan salesman, yang tersenyum ramah pada tiap pelangganmu. Dan berharap ada yang tergoda dengan tawaran yang kau sampaikan.

Kuharap kau bukan salesman, yang mengatakan hanya aku satu-satunya orang yang beruntung. Lalu, berkata hal yang sama pada dia di balik pintu lainnya.

Aaaah, kuharap kau tak seperti itu...


*menyikapi fenomena ikhwan modus yang bertebaran di mana-mana

Coretan Iseng

"Kenapa? Dadamu sakit?"

"Bingkai harapan yang dia hancurkan itu, aku sertakan hatiku di dalamnya. 
Hatiku patah, pecah seperti bingkai kaca itu."


Hatimu tak pernah patah, karena ia tak terbuat dari kayu ataupun sejenisnya.
Hatimu tak pernah pecah, karena ia juga tak terbuat dari kaca ataupun kristal.
Hatimu hanya terluka, karena ia terbuat dari segumpal daging di dalam tubuh.

Lalu, kenapa saat hati terluka, yang mengalir adalah air mata, bukannya darah.
Harusnya jika ia terluka, ia akan berdarah karena tercipta dari segumpal daging.

Sabtu, 15 Juni 2013

Ini Bukan Perlombaan

"Menikah itu bukan lomba lari, yang ada definisi siapa cepat, siapa lelet larinya. Menikah itu juga bukan lomba makan kerupuk, yang menang adalah yang paling cepat ngabisin kerupuk, lantas semua orang berseru hore.
Menikah itu adalah misteri Tuhan. Jadi tidak ada istilah terlambat menikah. Pun tidak ada juga istilah pernikahan dini. Selalu yakini, jika Tuhan sudah menentukan, maka akan tiba momen terbaiknya, di waktu paling pas, tempat paling tepat. Abaikan saja orang-orang yang memang cerewet mulutnya bilang "gadis tua, bujang lapuk", atau nyinyir bilang, "kecil-kecil kok sudah menikah".
Tere Liye

Sering ditanya, "Kapan nyusul?" | "Kapan ngundang?" | "Kapan nikah?" | Kalo jawaban kamu sering, berarti kita senasib. *toss =))

Sebenernya aku itu agak cuek lah kalo ditanya beginian, gak terlalu diambil pusing apalagi dimasukkan ke hati. Biasa aja. Karena menurutku tiap orang punya jalan hidup yang gak pernah sama, aku sama temen-temenku kan gak mungkin semuanya menikah di usia yang sama persis, ya kan?

Semuanya udah ada skenario masing-masing lah dari Allah, kembali ke kitanya gimana nyikapin tentang waktu yang tepat, di mana episode "Penantian Sang Putri Terjawab Sudah" akan dimainkan. Hahaha *apasiiihhh

Yah, kadang sih mereka itu nanyain hal yang sebenernya gak butuh jawaban. Dasar aja itu lisan gak ada bahasan yang lebih penting, yang bisa dibahas. Jadinya gituh deh. Makanya gak usah diambil pusing. Buat yang udah nikah juga, plis deh jangan suka ngebully para jomblo ini terus-terusan. Kena batunya nanti loh. #ehh #KokJadiEsmosi :D

Aku sih ngeliatnya itu sebagai bentuk perhatian aja, anggaplah begitu! Jujur kadang suka mikir, apa aku ini udah siap yah kalo nanti beneran akan menikah. Apa nanti gak akan jadi istri yang nyebelin, yah aku sadar diri saja aku ini suka rempong soalnya. *ups :p

Bener sih, menikah itu gak sesimple yang dibayangkan. Gak juga sesulit yang dikhawatirkan. Bukan sesuatu yang bisa dicoba-coba juga, karena penasaran atau karena banyaknya tuntutan untuk menyegerakan.

Pernikahan itu sebuah perjanjian yang berat, yang langit pun ikut bergetar saat akad itu terucapkan. Disaksikan oleh para penduduk langit, juga Allah Yang Maha Berkuasa. Maka bukan perkara remeh temeh loh.

Wajar saja jika banyak orang yang masih harus berpikir panjang untuk memutuskan menikah. Menikah juga tidak hanya tentang kapan, tapi juga dengan siapa. Yah, siapa orangnya, masa iya karena ingin segera menikah, lantas asal comot orang buat jadi pasangan, gak gitu donk yah.

Aku pikir ketika seseorang belum menikah, sebuah persoalan yang mungkin agak membebaninya adalah "Kapan menikah?". Sedangkan untuk orang yang sudah menikah, akan banyak persoalan yang menanti dalam hidupnya. Tentang keperluan rumah tangga, masa depan anak-anak, ini lah itu lah. Pasti lebih kompleks lagi. Maka nikmati saja ketika masih single mah, nanti kalo kamu udah nikah bakalan jauh lebih complicated jadinya. *dudududu

Lagian yah, kita kan gak tau apa yang menjadi alasan seseorang, yang mungkin menurut kita sudah layak untuk menikah tapi tetap memilih sendiri. Mungkin saja ada alasan keluarga, yang dia tidak boleh melangkahi saudaranya yang belum menikah mungkin. *BukanCurcol*

Atau memang belom waktunya dia buat menikah, menurut Allah. Yah kek kata temenku, mau ikhtiar sampe guling-guling dari Bogor ke Makassar juga kalo belom waktunya, ya masih harus disuruh bersabar. Atau mau pake lompat kodok ke Palembang juga tep gak akan bisa, kalo belom waktunya.

Gak usah suka maksain orang lain harus sama dengan kita loh. Aku yakin kok, dalam hati tiap insan itu ada keinginan untuk bersegera melabuhkan hati pada seseorang. Tapi, mungkin bukan sekarang, bukan di waktu ini. Akan ada waktu di mana dia akan menemui takdirNya sendiri, di waktu yang tepat, yang sering kita bilang.

Sabtu, 08 Juni 2013

Pergi Jauh

Pada suatu ketika, ada semacam perasaan ingin pergi jauh,
jauh sekali.
Lalu, kaki berhenti melangkah,
karena tak ada tempat yang hendak dituju.

Bukan ke puncak gunung yang tinggi,
bukan ke pantai yang menghampar luas,
bukan juga ke dasar lautan ataupun ke ujung dunia.

Aku tak mampu, langkahku terhenti pada mereka yang akan mencari,
mencari dengan segenap kekhawatiran di hati,
ke manakah gadis keras kepala ini pergi.

Kemudian kudengar sebuah suara berkata,
"Jika tak bisa pergi ke tempat yang jauh, pergilah ke tempat yang tinggi."
Setidaknya kau akan merasa jauh,
jauh dari tempat di mana ingin kau tingggal pergi.

Jumat, 19 April 2013

Jika Hujan Sore Ini

Senja ini,
kutatap langit yang mulai menghitam,
seakan membawa segumpal beban yang siap ditumpahkan.

Matahari telah menjauh pergi sedari tadi,
menyisakan awan pekat yang menari-nari di atap bumi,
memanjakan hati para penyair dan perindu yang menanti bulir-bulir itu berjatuhan.

Jika hujan sore ini,
aku akan senantiasa setia memanjatkan do'a-do'a pada Sang Penguasa Semesta,
mengirim pesan-pesan cinta yang hanya mampu kuutarakan padaNya saja.

Padamu,
pesan itu akan slalu ada,
aku berpesan padaNya untuk menjagamu dengan baik,
tak hanya membuatmu baik tapi slalu memberikanmu yang terbaik.

Jika hujan sore ini,
pada rintik-rintiknya ada pesan yang kutitipkan untukmu,
tolong jaga baik-baik hatimu, untukku nanti.


*lagi ketularan jiwa penyairnya Mb Tia Setiawati, hohoho