Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Agustus 2013

Gara-gara Facebook

Kamu punya akun facebook? Saya juga punya, dua malahan. Hehe...

Dulu aku itu termasuk salah satu pencinta berat situs jejaring sosial satu itu, hampir di tiap hal penting yang aku lewatin aku share di FB lewat status-status, yang kalo sekarang ngeliatnya ngerasa agak alay. Hahahaha..

Walaupun ada twitter, facebook tetap menempati ruang sendiri dalam hati masing-masing orang, termasuk aku. :)

Aku punya banyak 'teman' di facebook, dari ribuan teman yang aku miliki di sana paling hanya beberapa persennya saja yang bener-bener pernah berkomunikasi dan melakukan interaksi, baik itu lewat chatting, saling kirim di wall, comment, like atau share status. Selebihnya, aku dan mereka bisa dianggap 'tidak berteman'.

Nah. Gara-gara facebook, aku punya banyak teman baru. Kita gak cuma berteman di dunia maya loh, tapi juga sampai ke dunia nyata. Aku punya banyak kenalan yang sekarang menjadi teman baik, gara-gara facebook. Yah, facebook hanya medianya. Yang mengatur sgalanya tetap Allah donk, dengan skenario terbaik yang DIA tuliskan. :)

Ari namanya, dia seorang mahasiswi kebidanan di Jogja. Aku sempat nulis status tentang Jogja, dan diapun langsung meminta nomer henpon via inbox dan mengajak kopdaran. Dalam waktu yang relatif singkat, aku bertemu dengannya di Malioboro. Saat itu dia memberiku sebuah jilbab warna ungu yang sangat cantik, dan aku hanya bisa memberinya sebungkus kemplang Palembang. -___-" #GakSepadan

Lalu ada Fikri, aku biasa menyapanya dengan Ipi. Aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu, dan sampai sekarang kita tetap kontak. H-3 lebaran kemarin, dia mengirimiku beberapa buah tangan dari liburannya di Jogja. Dia itu tinggal di Wonosobo, tapi sering banget main ke Jogja. Ada batik warna pink, sandal lucu, juga dua kotak manisan Carica yang ia kirimkan. Gadis berlesung pipi dan bertubuh mungil itu, sungguh membuat aku speechless deh.

Gak cuma yang jauh, aku juga punya beberapa teman di Palembang yang kenalnya lewat FB. Ada mb Dewi, yang kini udah aku anggap sebagai mbaku sendiri. Orangnya baik banget, care lagi sama adek-adeknya. Juga anak-anak sekampus, yang gak akrab di kampus tapi kita berteman baik di FB. Sempet kopdaran sama mereka-mereka ini, makan-makan, poto-poto, saling tukar kado, aaaah sukaaaa. >,<


Maka, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan Ci? 
Setelah diberi manisnya ukhuwah sebagai hadiah, 
apa masih harus mencari alasan untuk tak bersyukur.

Rabu, 26 Juni 2013

Barakallah,...

"Bahagia itu, saat orang-orang terdekat kita turut merasakan betapa indahnya hidup dalam naungan Islam." -kata seorang guru


Iya, satu lagi saudara sepupuku akhirnya memutuskan berhijab. Rasanya itu seneng banget, jadi merasa punya satu kesamaan yang cukup kuat dengannya. Dia baru mau masuk SMA, biasanya remaja seusianya masih sibuk berlomba tampil semenarik mungkin. Salah satunya dengan memakai pakaian yang sedang trend saat ini; rok mini, celana pendek, dan kawan-kawannya.

Gak bisa dipungkiri juga sih, hijab sekarang ini bukan hal yang asing lagi. Banyak sekolah yang malah mewajibkan siswanya untuk berhijab, ditambah dengan ragam model hijab yang sekarang sedang booming di negara ini. Jadi, meskipun berhijab tetap bisa tampil cantik dan menarik.

Mungkin itu juga salah satu alasan banyak remaja putri yang meskipun masih sangat belia, sudah mau menutup auratnya. Meskipun belom sesuai dengan tuntunan yang seharusnya, minimallah itu adalah jalan untuknya berproses ke arah yang lebih baik. Nanti, semoga nanti akan lebih syar'i lagi. Aamiin. :)

Aku tau, tidak mudah bagi seseorang untuk ber'hijrah'. Dari yang terbiasa dengan sesuatu yang terbuka, kemudian harus menutupinya dengan pakaian yang terasa membelenggu kebebasan itu. Ada banyak pertimbangan yang muncul, seperti ada yang berkecamuk di hati.

Haruskah sekarang? Kenapa gak nanti ajah? Di saat sudah siap, siap dengan sebenar-benarnya siap. Takut nanti hanya akan menjadi penyebab citra hijab itu tercoreng karena tingkah yang masih jauh dari kata 'baik', takut nanti dibilang sok alim lah. Begitu kata logika, yang seringnya ditentang oleh hati yang ingin menyegerakan.

Yah, perasaan macam itu pasti pernah dirasakan oleh mereka-mereka yang ingin berhijrah. Makanya, ketika ada seorang kenalanku memutuskan untuk berhijab, rasanya seneng banget. Itu artinya dia berhasil mengalahkan segala logika keduniaan yang kadang terus menyerang hati yang haus akan ketenangan, karena ketenangan itu akan diraih saat kewajiban telah mampu ditunaikan. Dan, menutup aurat adalah kewajiban yang tak bisa ditawar, meski dengan kata BELUM SIAP.

barakallah adek Nini,
semoga istiqomah dengan hijabnya yah,
saranghae ^^

Senin, 24 Juni 2013

Teman Cerita

"Seringnya yah kita bicara panjang lebar, eh orang yang diajak bicara responnya singkat bahkan gak ada tanggapan. Namanya juga hidup..."

"Barangkali kitanya juga pernah seperti itu. Di suatu waktu, yang entah kapan, kita mungkin sudah lupa..."

-@AciDesii
Itu adalah dua twit yang aku poskan, sebenernya karena kemarin itu lagi ngobrol sama orang. Eh responnya malah datar banget, gak ada tanggapan lebih tepatnya. Padahal aku itu beneran lagi pengen cerita, yah mungkin orangnya lagi sibuk kali ya. Jadinya responnya gitu. Entahlah,...

Aku itu dibilang suka cerita, iya. Tapi dibilang jarang cerita, juga iya. Kadang banyak hal yang ingin dibagi, diceritakan ke orang lain, orang terdekat tentunya, tapi mereka sepertinya juga punya hal-hal yang ingin dibagikan. Jadinya kadang niat cerita itu hilang, karena diminta untuk mendengarkan cerita mereka.

Dan, mungkin memang gak seharusnya mengharap orang slalu bisa menjadi pendengar untuk tiap cerita yang menurut kita adalah sebuah hal yang menarik untuk dibahas dengan seseorang. Karena mungkin bagi orang itu, sesuatu yang tidak berkenaan dengannya bukan sebuah hal yang menarik. *eh, kok aku jadi suudzhon yah. :D

Makanya lebih suka cerita ke blog, yang inginnya dibicarakan jadi lebih enak jika dituliskan saja. Tidak mengharap ada yang membaca, kalau pun ada yang membaca, itu atas kerelaan mereka sendiri. Setidaknya aku merasa didengarkan, meski hanya sebuah layar yang tak bisa diajak berkomunikasi.

Dulu pernah nonton drama Korea, di mana salah satu peran di dalamnya adalah seorang gadis yang lebih suka membaca dan menonton. Dia tidak memiliki banyak teman, dia tidak bergaul dengan orang di luar rumahnya.

Kenapa dia memilih membaca dan menonton, karena permasalahan yang ada dalam buku atau film tidak akan berpengaruh dalam hidupnya. Mereka yang merasakan konflik di sana, hanya untuk disaksikan dalam bentuk ditonton dan dibaca. Dan dia menemui kebahagiaannya sendiri dari apa yang disukainya.

Aku tidak separah itu tapinya. Tapi, salah satu alasan aku suka membaca novel ataupun menonton sepertinya sama dengan alasan gadis itu. Di novel atau film, banyak hal yang kadang tidak ditemui dalam kehidupan. Merasa hidup ini sangat berwarna, apalagi kalo habis nonton drama lucu, mood jadi baik banget sampe berminggu-minggu. Begitu juga kalo baca novel yang endingnya sedih, moodku bisa buruk selama beberapa waktu. Rasanya pengen banget bilang ke penulisnya untuk ngeganti endingnya, hahaha.

Yah, aku merasa menulis di sini ataupun di beberapa tempat yang aku rahasiakan adalah salah satu cara agar aku tidak jadi stress, karena tidak bisa mengeluarkan hal-hal yang seharusnya tidak pernah ada dalam pikiran apalagi jika harus menetap lama di sana.

Tapi gak semua yang dituliskan di blog itu adalah cerita tentang aku, tentang apa yang aku rasakan, atau apa yang aku inginkan. Kadang suka nulis asal-asalan, sesuatu yang mungkin aku dapatkan dari membaca, mendengar juga menonton. Jadi gak semua tulisanku itu berkisah tentang akunya, karena banyak juga cerita tentang kamunya loh. *uhuk =))

Minggu, 23 Juni 2013

Pelayanan

"Jika tak bisa tersenyum dan beramah tamah, harap jangan jadi pedagang."

Entah kudengar dari mana kalimat itu, tapi kurasa ada benarnya juga.

Seperti kemarin, aku dan Dwi pergi ke pasar untuk nyari kado buat Mb Dona, yang tlah melangsungkan akad nikah kemarin sore. Nah, hari ini resepsinya. Jadi kita ngasih kadonya hari ini deh. :)

Ada seorang Bapak penjual yang ramahnya pake banget deh, sebenernya kita itu cuma mau liat-liat doank dan rencananya masih mo muter buat nyari yang paling pas di hati dan dompet tentunya. Hihihi.

Eh saking ramahnya, kita jadi kecantol deh di tempat itu. Dan gak jadi muter-muter, kebetulan udah sore juga, mo cepet-cepet pulang. Tapi kita gak asal milih loh, in shaa Allah itu hadiah akan bermanfaat banget nantinya buat mereka.

Nah sepulang dari situ kita mo nyari kertas kado, sekalian makan es krim di depan swalayan itu. Karena si Dwi gak punya uang kecil, jadinya kita pesen makanan juga di sana. Biar gak diomelin kalo bayar pake uang cepek, padahal belanjanya cuma berapa ribu.

Pas ibu penjual itu ngasih kembalian, ternyata kembaliannya itu kurang. Kita coba jelasin, eh ibunya tetep kekeuh kalo dia ngasih kembalian dengan cukup. Ya sudah, kita tinggal pergi deh. Sambil bilang ke ibu penjual itu, "iya bu kami coba ikhlasin uang tadi"

Tapi, satu hal yang mungkin ibu itu lupa, dia akan kehilangan dua pelanggan. Bukan karena benci apalagi dendam, hanya males ajah kembali ke sana. Bukan karena uang kembalian itu juga, cuma agak kurang suka cara ibu itu ketika kita jelasin. Mo marah-marah gituh deh, jadi serem. -___-"

Hmmm, seandainya ibu itu tau yah. Bahwa akan sangat merugi baginya memberi makan untuk keluarga dari uang yang bukan haknya dia, walopun itu tidak seberapa besarnya. "Semoga Allah mengampuni kekhilafan kita semua ya, bu?"

Jumat, 05 April 2013

#CeritaHijrah Part 1

Kemarin ngebaca salah satu artikel tentang cerita hijrah seseorang, jadi tertarik untuk ikutan nulis. Biar gak lupa nantinya, biar ceritanya bisa diinget terus kalo dituliskan. ^^

Jadi begini ceritanya *jiyaaaah. Pertama kali memutuskan untuk menggunakan jilbab dan ingin berubah jadi wanita shalehah *uhuk* itu September 2006, sebelumnya juga niat itu udah ada, tapi slalu aja ada alasan untuk bilang BELOM SIAP. Sampe akhirnya beneran berjilbab di September itu, di awal semester 1.

Aku gak langsung berhijab kaya sekarang, "Semua butuh proses non!". Begitu kataku, dulu. Untungnya prosesku itu gak lama, paling dua bulanan lah merasakan jadi kaya 'hijabers' sekarang ini; pake jeans, kerudungnya dililit di leher, pake kaos sesuka hati.

Di Oktober 2006 aku ikutan kajian yang diadakan oleh LDK, jadinya ikutan halaqah gituh deh. Agak minder sih dulunya waktu ketemu sama mb-mb LDK yang jilbabnya panjang-panjang, jadi ngerasa kaya anak nakal gitu akunya. Padahal udah pake jilbab juga sih, -___-"

Sampe beberapa kali pertemuan aku tetep dengan gayaku itu, juga temen-temenku yang 11-12 lah sama akunya. Murabbiku saat itu menyampaikan materi tentang aurat dan pakaian, yah di sana dijelaskan tentang batasan aurat wanita itu seperti apa dan pakaian yang harusnya digunakan oleh seorang muslimah.

Kain yang menutup dada, tidak transparan, pakaian yang longgar, tidak membentuk lekukan tubuh, tidak menyerupai pakaian laki-laki, juga bukan pakaian wanita-wanita kafir. Yah itulah yang saat itu disampaikan oleh murabbiku dan alhamdulillah masih inget sampe sekarang, amalannya banyak mb itu. Hehehe. Semoga Allah selalu memberkahinya, jadi kangen deh. :)

Sejak hari itu pakaian lamaku 'terpaksa' dijual ke beberapa temen SMA yang emang suka sama baju-bajuku, yah uangnya buat beli rok juga baju-baju layak pakai. Soalnya uang jatah beli baju udah dibeliin baju-baju kuliah yang tadi terpaksa dijual itu. Hihihi.

Where there's a will, there's a way. Karena niatan untuk berhijrah itu begitu kuat, akhirnya banyak sekali cara Allah memberikan pertolonganNya. Aku dikasih banyak pakaian mb-mb LDK yang udah gak dipakai lagi, dan pakaian itu masih bagus-bagus loh, cantik lagi. Ibu juga yang sebelumnya kurang suka aku pake jilbab panjang, eh malah ngajakin ke toko langganannya untuk ngebeliin aku beberapa pakaian baru.

Sekarang saat ngebuka lemari, di sana udah terlipat rapih jilbab, gamis, rok, baju-baju, manset dengan bermacam warna, kaos kaki juga. Berikut dengan aksesorisnya, bros, peniti dan jarum pentul. Dan hampir semuanya itu bukan pakaian yang dulu, karena sebagian udah di'pinjam'kan lagi ke mereka yang membutuhkannya.

Seseorang pernah bilang, "Yah enak sih kamu itu banyak duit, jadi kalo mau berjilbab langsung beli. Langsung bisa berubah total. Kami kan dak punya duit, jadi susah kalo mau pake jilbab kaya gitu." Hmmm, andai mereka tau kalo dulunya aku itu cuma punya 2 lembar jilbab harga 10.000an, 2 rok, juga 3 kemeja. Dan itu dipake terus ketika kuliah, sebelum akhirnya dapet 'hadiah' dari mereka yang dikirim oleh Allah.

Hidup ini memang membutuhkan proses. Bedanya ada yang berlama-lama menjalani proses itu dan yang lainnya melesat untuk menuju proses yang lebih jauh. Mau pilih yang mana itu kembali ke kitanya. Tapi yang perlu diinget, waktu kita itu terbatas. Bisa saja kita takkan pernah bertemu hari esok. Menyesal udah pasti, kenapa kemarin tidak semaksimal mungkin membenahi diri untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. :)

Sabtu, 29 Desember 2012

Libur Tlah Tibaaa, Yuhuuuuu

Ini penghujung tahun, di mana semua orang tengah disibukkan dengan beragam rencana liburan. Aku? Juga sama, tapi bedanya kebanyakan rencana hanya tinggal rencana saja. Huahaha. *ups*

Rencananya sih liburan kali ini mau ke Bengkulu bareng keluarga, juga sama Dwi. Tapi, karena jadwal liburku gak sama dengan ibu jadinya gak bisa liburan bareng deh. Mau pergi bareng kakak dan keluarga kecilnya, gak dikasih izin sama ayah. Karena Danish lagi kurang sehat, dia lagi batuk-batuk sekarang. Kakeknya sayang betul sama dia, kagak mau sakitnya makin jadi.

Akhirnya mutusin buat pergi sendiri, bareng Dwi dan ayukku. Ternyata eh ternyata, kontrak kerja ayukku diperpanjang, artinya kagak ada libur panjang, habis tahun baru langsung masuk seperti biasa.

How about Dwi? Ini temanku yang paling manis, punya jadwal libur yang diatur bareng keluarga. Harus match antara satu dengan yang lain. Keluarganya emang keren deh, ayahnya ke Bali, mamaknya ke Bogor, ayuknya ke Batam. Nah dia mau ikut ke Bengkulu, tapi cuma bisa pergi 4 hari doank. Kenapa? Karena harus gantian jaga kucingnya yang baru di caesar. Daripada pergi cuma 4 hari, belum potong di perjalanan. Bisa-bisa kita pada kecapekan, tepar deh. Huaaaa, sungguh tragis nasib liburanku kali ini.

Pergi sendiri? Mana boleh!!! Anak gadis pergi sendiri ke luar kota, mau dicincang hidup-hidup aku sama orang rumah. Ya udahlah, libur kali ini aku mau mengkhatamkan semua buku yang berbaris rapih di meja kamar, pada belum dibaca ituh. Lumayan, nambahin ilmu baru. Juga mau belajar masak, kalo ada kursus masak satu minggu, ikutan aku. Di mana tapi yah?

Bukunya gak sebanyak ini juga, ini hasil googling. Kalo sebanyak ini mah, sebulan juga gak akan kelar!


Yah, sekian tentang liburan. Bahagia itu gak harus dengan berlibur, karena terkadang merefresh pikiran dengan hal-hal yang nampaknya sederhana akan jauh lebih menyenangkan. *menghibur diri* *kemudian nangis dipojokkan kamar*

Selasa, 13 November 2012

Gak Boleh Sakit

Hampir satu minggu ini, pulang malem terus. Ada aja alasannya, ke sini lah, ke situ lah. Sok paling sibuk deh pokoknya. Dan, hampir tiap pulang slalu kehujanan. Namanya juga lagi musim hujan, yah wajarlah kalo kehujanan. Meski udah pake jas hujan, tetep aja kena imbasnya.

Dua hari ini tiap pulang langsung tidur, istirahat maksimal di waktu malam. Karena besoknya lagi akan mulai berpetualang ke mana-mana, lagi dan lagi, aku sok sibuk deh.

Hari ini ngerasa gak fit banget, tapi harus tetep kuat, karena banyak hal yang belum diselesaikan. Banyak hak saudaraku yang harus ditunaikan, dan banyak kewajiban yang harus dilakukan. Aku gak boleh sakit, gak boleh pokoknya.

Ayo Aciiii, kamu sehat kok, kuat kok, kan Aci Tankguh (Tangguh), masa segini ajah udah tepar sih. Apa kata dunia??! Masih ada hari esok yang menantimu, besoknya juga. Dwi yang sering sakit ajah bisa baik-baik tuh dia, kenapa kamu jadi lemah giniii?

Cukup sekian curhat hari ini, saya mau istirahat total. Makan. Minum obat. Tidur. Sampai jumpa, kawan. ^^

Jumat, 21 September 2012

Ikutan Random

Akhir-akhir ini pikiranku jadi random, loncat sana loncat sini.
Bermain ke masa lalu, lalu lompat ke masa depan, kembali mendarat ke masa sekarang.
Aaaaah, pokoknya random deh.

Mau tau kenapa?
Ini karena temen deketku mau nikah.
Kenapa aku yang ribet?
Entah, aku juga bingung kenapa aku jadi ikutan ribet?


Karena dia temen deketku, dari awal mau akan berproses *bahasanyaaaa dia cerita ke aku, semuanya. Jadi, kebayang kan aku otomatis ngerasain kegalauan dia, dari awal nyampe sekarang nyiapin buat resepsi pernikahannya. Kalo dia lagi bingung dan galau, aku lebih galau dari dia. Aneh? Emang aku aneh, perasaanku masalah orang lain itu kaya masalahku sendiri. Berasa yang punya beban itu adalah aku, karena aku slalu berusaha memposisikan diri sebagai orang yang sedang terlibat dalam suatu perkara, apa pun itu.

Jadi, pekan ini aku disibukkan dengan yang namanya gaun pengantin. Dia maunya pake baju adat, tapi tetap dengan jilbab lebar, tanpa sanggul juga tanpa make up yang gak Islami. Dan, aku juga temenku satu lagi diharuskan mikir solusinya apaan. Huaaaa, aku gak ada pengalaman. Pernah sih pas kakak aku nikah, aku ditugaskan ngurusin mba-ku, karena aku minta ini minta itu ke tukang riasnya, akhirnya aku diusir dari ruang rias pengantin. Hikzzzz, kejamnya tante itu yah? -__-"

Sepertinya, sampe akhir November aku akan ikutan random. Selesai satu hal, ada hal lainnya, dan begitu seterusnya. Tapi, aku seneng banget bisa ngebantu temenku menyiapkan semua ini. Karena, sang calon pengantin pasti pikirannya jauh lebih random dariku. Banyak hal yang berkejaran dan harus segera diselesaikan. Banyak impian yang terbentur dengan realita yang ada, dan semua harus disikapin dengan bijak.

Dan, aku percaya jika aku meringankan beban saudaraku, maka Allah akan meringankan bebanku.

Rabu, 12 September 2012

Silaturahim Itu, Sesuatu

Silaturahim, aku termasuk orang yang suka dengan amalan yang satu ini. Secara, aku suka berkunjung ke rumah orang-orang terdekat, walau sebenernya rumahnya gak dekat loh. Kenapa suka? Karena banyak hal; ingin mengetahui kabar dari orang yang dikunjungi tersebut, ingin menjawab rasa kangen mereka ke aku *pedenyaaaa, terus karena ingin menjalankan hadits Rasulullah;

Diriwayatkan dari Abu Hurariroh RA, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturrahminya.” (HR Bukhori, 5640)


Nah, karena aku ingin luas rezekinya, terus panjang umur. Jadinya aku suka amalan satu ini, silaturahim.

Rezeki yang luas

Dengan silaturahim, kita otomatis dijamu dengan sebaik-baiknya sebagai tamu oleh tuan rumah, disugukan makanan, minuman, dan senyum manis dari mereka. Bukankah hal itu adalah rezeki? Terus, biasanya dengan silaturahim kita dapat berbagi pengetahuan, berita baru juga banyak hal deh. Dan semuanya itu termasuk rezeki, rezeki kan gak harus berupa uang. Bisa jadi, dengan silaturahim kamu bisa mendapatkan jodoh. Jodoh kan termasuk rezeki, hahaha, *apasihciiii??
Panjang Umur

Nah, maksudnya panjang umur ini. Mungkin lebih ke banyak yang akan mengingat kita, dengan kita menyambung silaturahim, karena sejatinya umur kita udah ada jatahnya masing-masing. Dengan silaturahim, orang-orang akan mengenal, mengetahui dan merasakan tentang kita. Biasanya akan banyak hal yang akan diingat dari kita, dan berharap apa yang diingat oleh orang lain tentang kita setelah kita udah gak ada lagi adalah kebaikan kita bukan malah sebaiknya. :-)


Minggu, 09 September 2012. 3 hari setelah miladnya Mb Dona Hariya Harpizah, beliau adalah kakak tingkat kami di kampus. Dan juga mba kami di LDK, dan dia adalah 'seseorang' yang special buatku. Gak tau sejak kapan kita jadi akrab banget kaya sekarang ini, yang jelas seingetku kita mulai jadi akrab ketika mau berangkat ke Bandung. Sebelumnya juga akrab, tapi gak seintens sekarang komunikasinya.

[flashback] Tahun 2009, kita ngasih kejutan buat Mb Dona dimiladnya. Kebetulan saat itu kita bertiga sedang mengikuti kegiatan Pesantren Ramadhan untuk anak SMP dan SMA Kusuma Bangsa Palembang, sebagai tutor. Kita bertiga menempati kamar yang sama dengan tempat tidur yang sama juga. Pas di jam 00.00 kita ngebangunin Mb Dona, terus karna gak ada sagu buat ditimpuk ke beliau, jadi kita pake bedak baby deh. Hahaha, pokoknya kamar itu kacau deh, berisik dan berantakan.

Back to 2012

Jadi, hari Minggu itu aku dan Kiki pulang kondangan janjian mau ke rumah Mb Dona. Sebenernya niat kita ke sana buat nagih traktiran, tapi karena kita berdua pulang dari kondangan yang otomatis perut udah pada kenyang. Jadi gak niat lagi buat nagih traktiran itu dan digantikan dengan sepiring brownies buatan Mb Dona, enak loh. And, the end.

Sebelum pulang, kita mau mengabadikan moment kebersamaan kita dengan jeprat jepret geje. Dan, taraaaa,...

Kiki, Aci dan Mb Dona

Senin, 10 September 2012

Kondangan dan Pria Berompi Hijau

Kemarin, 09 September 2012. Aku dan Kiki (lagi-lagi) janjian buat ke kondangan, tapi ceritanya nih tempat yang mau kita datengin ini beda-beda, paginya Kiki ke akad nikah Mb Nit (temen DPW-nya) yang menikah dengan ikhwan yang bertugas di Jepang, wuiiiih Jepang, kereeeen!

Terus jam 11-an aku sama dia janji ketemuan di depan BLPT, menghadiri walimahan temen ngajarnya Kiki. Ba'da dari situ barulah kita ke nikahan temen SD-SMP-SMA ku, namanya Agung Prima. Waktu sekolah kita temenan cukup baik, dia dulu duduknya di belakangku pas SMA kelas 2. Lagian, menghadiri undangan itu kan juga wajib.

Oya, waktu Kiki bilang acara temennya itu di Gedung Serbaguna BLPT, aku langsung ke inget sama kejadian setahun yang lalu, kalo gak salah. Waktu itu sama, aku juga nemenin Kiki ngehadirin nikahan, yang nikah Mb Evi sama Kak Momo.

Rencananya yah, ba'da kondangan kita mau jalan ke Palembang Indah Mall, ada yang mau dicari juga di sana. Jadinya, sebelum pergi aku udah bilang ke Kiki buat bawa helm. Eh, dianya malah lupa. Akhirnya, aku memberanikan diri buat ngebonceng dia tanpa helm, padahal kan banyak polisi kalo siang hari gitu.

Pas pergi sih, aman terkendali. Masalahnya pas pulang itu, di angkatan 66 itu polisinya 'agresif', sampe ke tengah-tengah jalan gitu, biasanya kan dia cuma nongkrong di posnya doank. -___-"

Jadilah, aku mencari celah biar gak ketangkep polisi. Tapi, celahnya gak ketemu, aku pun memutuskan untuk meminta Kiki jalan kaki sampe ke seberang. Karena takut kejadian yang sama terulang lagi, kami memutuskan untuk beli helm. Keberuntungan emang gak sedang berpihak ke kami deh, di toko itu kagak ada helm murah, semuanya mahaaal.

Kami pun nekat tetep pergi ke PIM tanpa helm buat Kiki, eh dijalan sebelum mall yang dituju sudah berdiri tegap si Pria Berompi Hijau. Dan, Kiki harus turun lagi deh, kesian! Dirasa aman, kita jalan lagi.

Tapi, tepat di depan mall itu, banyak banget pria-pria berompi hijau. Hampir ajah aku nurunin Kiki di jalan, sebelum akhirnya sadar kalo mereka itu adalah para tukang becak yang kompak dikasih rompi hijau sama pihak tertentu. Saking parnonya sama rompi hijau, tukang becak yang pada pake celana pendek ajah tetep ngebuat panik.

Jadinya, aku sama Kiki ketawa-tawa terus di motor sampe masuk ke mall. Ih nyebelin banget sih, kenapa juga harus rompi hijau, kan bisa pake rompi pink, ungu atau biru kek. Biar kita yang agak bandel ini kagak pada shock ngeliatnya, huuuufffh, >,<

Hey! Pria Berompi Hijau

Melihatmu, mendebarkan jantungku,
Mengingatmu, menyesakkan pikiranku,
Melewatimu, berpacu denyut nadiku,
Berhadapan denganmu, sungguh akan kuhindari itu.

Kau, pria berompi hijau,
Entah kenapa aku slalu panik saat melihatmu berdiri tegap di sudut jalan itu,
Slalu merasa ada yang kurang pada diriku,
Entah apa itu, aku merasa rasa khawatir itu senantiasa melingkupiku.
Dan, duhai pria berompi hijau, baik-baiklah sama kami yah? Hahaha

Sakusia


Ini gambar yang dikirimin sama temen via WhatsApp, gak tau juga kenapa dia ngirimin gambar ini ke aku. Mungkin karena cantik kali yah?

Pas ngeliat gambar ini aku jadi inget sama pohon yang ada di sekitaran masjid di jalan ke arah rumahku, pohonnya tinggi, gak banyak daunnya, tapi, bunganya itu loh, cantik! Dulu, waktu SMP aku sering banget pergi ke sekolah pagi-pagi biar bisa ngeliat bunganya yang warna ungu dan pink itu berguguran dari pohon, yah berasa kek musim gugur gitu deh.


Apalagi kalo mau hujan, bunganya itu terbang ke mana-mana, aku dan beberapa temenku biasanya muter-muter di bawah pohon, biar bunganya jatuh ke muka. Dulu kan gak malu, malah kadang suka malu-maluin. Jadi mah cuek ajah kalo diliatin orang di jalan. Hahaha

Sekarang, pohon itu udah tua, jadi gak pernah berbunga lagi. Aku gak pernah lagi ngeliat warna ungu dan pink itu bertebaran di sekitar jalanan masjid itu. Lagipula, sekarang aku gak jalan kaki lagi, kalopun lewat paling hanya sepintas. Kangen ih masa-masa itu, masa-masa polos dan gak ada beban, kecuali PR yang menggunung dari guru.

Oya, mau tau nama pohon itu apa? Namanya sakusia = sakura Indonesia ^^

Jumat, 31 Agustus 2012

Pahlawan Tak Bertopeng



Kalo di serial Sinchan ada Pahlawan Bertopeng, di sekelilingku, justru banyak pahlawan yang tak bertopeng. Dia akan datang, meski tanpa ada jeritan minta tolong ataupun panggilan dari orang-orang yang membutuhkan. Dia akan datang menghampiri mereka yang membutuhkan bantuannya, di mana dan kapan pun dia berada. Allah memang Maha Penyayang deh, Dia titipkan Pahlawan Tak Bertopeng itu ke dunia ini.

Sore itu, di parkiran kampusku, aku kesulitan megeluarkan si Mici dari himpitan motor-motor besar itu. Aku berupaya sebisa mungkin untuk membebaskannya, tapi, apa daya kekuatanku hanya sebatas itu itu saja. Hampir 10 menit aku di sana, tapi tetap tuh motor kagak bisa keluar. Ya iyalah, orang dia cuma digerak-gerakin dikit doank, mana bisa keluar, maklum saat itu aku masih sangat pemula, aku baru bisa mengendarai Mici 2 minggu.

Tanpa adanya permintaan tolong, eh, tiba-tiba ada seorang Pahlawan Tak Bertopeng menghampiriku, dia menanyakan ada masalah apa, dan dengan sigap tanpa ba bi bu lagi, dia langsung membebaskan Mici dari belenggu motor-motor besar itu. Dia seorang pria, mahasiswa di kampus ku juga, jangan tanya siapa, karena aku juga gak tau siapa. Yang pasti dia tersenyum lebar saat aku bilang “Terima Kasih”, lalu pergi menghilang di kerumunan mahasiswa-mahasiswa yang lain.

Suatu hari, aku terpaksa naik bus kota, seperti biasa, rame! Aku harus berdiri karena tidak ada tempat duduk lagi, sepuluh menit berlalu aku masih berdiri, sebelum akhirnya ada seorang anak SMA yang menarik tasku, memintaku duduk di tempatnya. Aku tidak menolak kebaikannya, lagipula saat itu aku bener-bener gak tahan berdiri, ada banyak penumpang laki-laki di dekatku, dan aku harus mengecil-ngecilkan tubuhku agar tidak terlalu dekat dengan mereka. Anak SMA itu seorang lelaki, dan ternyata sekolahnya lebih jauh dari kampusku.

Sebenernya ada lumayan banyak Pahlawan Tak Bertopeng yang aku temui dalam hidupku selama ini, mereka hadir tanpa pamrih, tidak untuk minta hadiah ataupun dipuji-puji. Mereka dengan tulus membantu, lalu kemudian pergi dan menghilang, karena faktanya aku gak pernah ketemu mereka lagi.  

Siapa bilang di dunia ini susah menemukan orang baik, nyatanya banyak sekali orang-orang baik yang beredar di sekililing kita, tanpa pernah kita sadari keberadaan mereka. Seorang perempuan yang memberikan tisu saat kita bersin-bersin di angkutan umum, anak kecil yang memberikan permen yang ia punya saat kita menyapanya, Bapak-bapak yang menunjukkan arah kepada kita saat kita tersesat, seorang pemuda yang tanpa kita minta membukakan pintu untuk kita, dan orang-orang yang tersenyum kepada kita tanpa di‘pancing’ terlebih dahulu. 

Mereka adalah pahlawan tak bertopeng, yang Allah kirimkan untuk kita, agar kita tidak merasa sendirian di dunia ini, ada banyak orang yang akan membantu kita, saat kita sulit, lelah, penat, juga terjatuh. Meski hanya sebuah senyuman yang bisa ia berikan kepada kita. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan??

Pernah Alay

Masih mending pernah jadi alay, daripada pernah dan masih jadi alay.
Alay itu jadi keren kalo ada "pernah" di depannya, bukan "masih", apalagi "selalu".
[Oka @landakgaul]

Baca twit ini bikin senyam senyum sendiri, bener banget tuh. Two thumbs up deh!

Awalnya aku gak pernah ngerasa jadi alay, dan menurutku anak-anak alay itu agak gimanaaa gitu. Tapi, mungkin bagi mereka ke-alay-an mereka itu merupakan sesuatu yang keren, bagi mereka. Dan bagi kita yang melihatnya, itu adalah alay.

Eh ternyata aku dan mungkin juga kalian pasti pernah jadi alay, gak percaya?
Coba deh perhatiin hal terkecil yang mungkin gak pernah kamu anggap itu alay, tapi ternyata hal itu adalah bentuk ke-alay-an kita di jamannya kita.

Contohnya;

[1] Alamat email

Huaaaa, ternyata kita emang alay loh. Hayooo, coba liat alamat email kamu jaman dulu dan mungkin sampe sekarang masih kamu pake. Alay kah?
Alamat emailku: achie_luv.palestine@yahoo.com
Kurang alay apa coba? 
Kalo alay itu kan kata i ditambah ch diakhiri e, jadinya yah Aci =Achie *tepokjidat
Kata love dulu dan kayanya sampe sekarang banyak diganti dengan luv, luph, lope, dan entah ada modifikasi apalagi. =))
Dan, alamat emailnya tuh pasti agak gimanaaa gitu. Jadinya, pas sekarang aku ditanya sama orang 'penting' alamat emailku, aku malah bingung mau kasih emailku yang aktif, atau harus kasih yang baru??
Maluuuuu, cukup sudah waktu masih kuliah, pas ngirim tugas via email, dosenku bilang, "Ini siapa yang anak Palestina ini? Kenapa bisa nyasar ke kelas saya?" *huaaaaa, rasanya pengen minggat dari kelas itu

[2] Friendster

Ih, aku pertama kali alay banget kali yah di Friendster. Aku sampe lupa apa nama Friendsetr-ku itu, padahal itu adalah batu loncatan *jiyaaah sebelum akhirnya aku bisa bertengger di dunia maya dengan mengikuti berbagai jejaring sosial yang ada. Pasti namanya alay, pasti background-nya juga agak gimana gitu. 
Mungkin ajah namaku dulu berasal dari gabungan angka-angka, huruf dan tanda-tanda baca yang gak banget. Bisa jadikan namaku; D3$! D4HL!@NT! *huaaaa ngebayanginnya ajah bisa ngebuat aku ketawa tawa sendiri, *hadeeeeh

[3] Pose

Hahaha, ini nih bikin aku yakin kalo aku dulu emang alay. Dan mungkin sekarang juga akan dianggap alay bagi mereka yang melihatnya, *bodo ah, emang gue pikirin, :p

Anak alay itu kan slalu berpose dengan lambang V, terus tangan dibuat kaya pistol gitu, atau nopang dagu dan biasanya paling doyan poto close up. Berasa kek poto di kotak gitu deh, sempit dan agak gak leluasa. Padahal mah, tempatnya seluas jagat raya.

Kalo bareng temen, posenya kaya Power Rangers, semua pasang gaya masing-masing. Beneran alay deh! Kenapa gak poto biasa ajah gitu, kan bisa poto yang manis-manis gimana gitu. Tapi, alay tetap alay, baginya itu adalah keren, bagiku juga itu keren. =))

Dan, banyak hal alay yang tanpa sengaja dan tanpa kita sadari, itu adalah bentuk ke-alay-an kita, di jamannya kita. Tapi bagi kita, itu GAK ALAY. Karena itu adalah sesuatu yang keren di jamannya kita. Kalopun harus dianggap alay sama anak-anak yang baru melek di dunia kerennya mereka, it's no problem. Toh, gak ada hukuman untuk mereka-mereka yang alay kan? =))

Selasa, 28 Agustus 2012

Telat

Aku: "Ibu, Assalammu'alaykum? Pa kabar buk? Ini Desi, SMA 16, masih inget dak buk?"
Ibu Sosiologi: "Ooo, iya, ibu inget. Hmmm, ini Desi yang sering telat itu kan?" *kemudianhening

Masa' sih ibu cantik itu cuma inget kalo aku ini adalah siswa yang sering telat doank, emang gak ada apa sesuatu yang laen yang bisa diinget, mengingat aku pernah;
  1. Jadi juara kelas loh, *BenerinBrosJilbab
  2. Aku juga sering nyumbang tulisan di majalah sekolah, *PadahalMahAtensiDoank
  3. Aku juga anak baik-baik, *NamanyaJugaAnak-Anak
  4. Aku juga, juga, juga siswa yang paling membantu pembangunan sekolah.

Pembangunan sekolah?
Kok bisa?
Emang si Aci ini anak kontaktor gitu?
Ayahnya pengusaha, jadi banyak ngasih sumbangan.

BUKAN!!!

Di sekolahku itu ada slogan,
"Barangsiapa yang terlambat datang ke sekolah tanpa alasan yang syar'i, maka diwajibkan untuk membawa kerikil, batu bata, pasir, atau semen."

Dan, aku adalah siswa yang pernah membawa semua bahan-bahan bangunan yang dijadikan sebagai sanksi atas keterlambantanku itu. Sekali telat, hanya disuruh piket WC. Dua kali telat, bawa kerikil sebanyak satu kantong asoi 2 KG. Tiga kali telat, bawa batu bata, aku lupa berapa. Empat kali telat, bawa pasir, semen.

Dan jika namamu betah ada di buku piket, maka kamu pasti pernah membawa semuanya itu. Ya, sampe-sampe aku lupa berapa banyak yang uda aku sumbangkan untuk sekolah, saking seringnya telat ke sekolah.

Sekolahku itu unik, kata temen-temen sih, yang sekolah di sana itu adalah anak orang kaya. Tanya kenapa?
Karena di sana kagak ada angkutan umum, paling-paling becak, dan harganya itu mahal loh. Kebanyakan siswanya bawa motor sendiri, atau dianter sama kakak/bapaknya.

Dan sebagai ibu yang perhatian, ibuku mencarikanku langganan becak, berdua bareng temenku, Lesi.
Nah, kita ini emang pasangan paling sempurna. Saling menutupi kekurangan.
Kalo aku on time, Lesi pasti telat.
Kalo Lesi on time, akunya yang telat.
Kalo kita berdua lagi pada on time, mamang becaknya yang telat. *hadeeeeeh

Itulah salah satu penyebab terbesar keterlambatan kami, biasanya, kalo ada yang jadi penyebab dateng telat, selama perjalanan di becak, kita pada diem-dieman doank. Tapi, itu gak bertahan lama. Paling cuma sampe jam istirahat doank, pulangnya kita akrab lagi. Namanya juga ababil. =))

Kata orang-orang sih, ada 2 hal yang bisa membuat orang-orang mudah mengingatmu;
  1. Jadi anak yang baik-baik, manis dan memiliki prestasi tak terlupakan.
  2. Jadi anak yang nakal, biang ribut, suka telat, agak telmi, juga sering berantem.
Dan, aku sedih kalo ternyata guru-guru hanya mengingatku sebagai Desi si tukang telat, kan mirisss!
Hikzzz *nangis di bawah Jembatan Ampera


Jumat, 24 Agustus 2012

Cerita di Syawal

Handphone berdering-dering di sampingku, sebuah nama memanggil, kuabaikan, karena aku tau pasti siapa yang menelpon dan untuk kepentingan apa.

Kemudian ada sMs masuk,
  1. Hi, lagi ngapain?
  2. Hi, lagi ngapain? Fulan
Merasa tidak ada balasan,

Dia menelpon lagi, lagi dan lagi, sampe 4 missed called tertera di sana.

Duh, ni orang mau ngapain yah? *pikirku
sMs masuk, "Kalau tidak ada yang mengisi cintamu, bolehkah aku mengisinya?" Fulan
Gubrakkkkk!! *jatoh dari kursi 

Nih orang nekat amat sih? Beraninya dia bilang kek gitu ke aku? Emangnya dia gak nyadar apa, aku tuh uda sangat jelas bilang ke dia waktu silaturahim ke rumah lebaran kemaren. Waktu dia tanya kapan aku mau ngundang? Terus aku jawab, tunggu saja. Uda punya pacar? AKU GAK PACARAN!
Lalu, kenapa masih sMs kek begitu. Bikin ilfil!! >,<

Nelpon lagi, berakhir dengan missed called..
sMs masuk, "Tunggu apa lagi? Apakah kau menunggu ka'bah dipagari pagar hitam?"
*tweng weng, ini maksudnya apa coba. Ka'bah dipagari pagar hitam?

Narik napas, dalem, huuuuffh, sabarrrr, cobaan ini mah. *menenangkan diri

Beneran deh! Aku berasa kek ababil, anak-anak SMP gitu. Masa' yah usia segini, masih nemuin orang yang nyatain perasaan kaya tahun 2000-an. Gak ada yang lebih kreatif apa, bawa coklat, bunga, sambil nyanyi-nyanyi, kan lumayan buat bikin heboh tetanggaku.




Berusaha untuk sebijak mungkin menanggapi pesan itu, lalu kucoba untuk mengirim pesan balik ke dia, "Maaf, cinta aku uda ada yang ngisi. Maaf yah"

Diisi sama Allah, Rasulullah, Keluargaku, Temen-temenku, juga buat seseorang di perjalanan sana.
Aku gak bohong kan? Emang uda ada yang ngisi, ^^

Rasanya pengen ganti nomer handphone, tapi uda 6 tahun pake nomer ini. Uda jatuh cinta, gak mau pindah hati. Secara, aku kan setia. Sama halnya tentang kamu, aku tetep setia di sini. Sampe kamu dateng, di waktu yang tepat dengan cara yang baik dan berharap keberkahan itu menyertai kita, iya, kamu dan aku.*curcol

Minggu, 26 Juni 2011

Aci si Anak Ibu




Beberapa bulan yang lalu aku diajakin sama ibu ke kondangan anak temennya ibu, aku kira ibu ngajakin aku karna ayah gak bisa ikut pergi. Jadi, aku batalkan semua agenda hari itu hanya untuk menemaninya ke kondangan...

Ternyata aku salah, ayah ikut pergi, padahal aku dah nyiapin motor untuk berangkat. Huuu...
Dengan wajah yang agak sedikit manyun, aku hanya duduk manis di kursi belakang, sambil muter lagu-lagu nasyid dengan menggunakan headset...

Kontan saja, kekhawatiranku terbukti...
Temen-temen ibuku pada ngeledekin aku, kata mereka "Aci jangan ikut ibu sama ayah terus, lain kali bawa pacarnya. Masa' udah besar masih ngikut ibu.."

Mukaku langsung memerah, coz bukan hanya satu dua orang yang bilang gitu. Tapi, hampir semua orang yang kenal dengan keluarga kami dan dekat denganku...

Alhasil, aku mikir-mikir lagi deh kalo mo ngikut kondangan bareng ayah sama ibu.
Apalagi, setelah aku perhatikan sekeliling, gak ada temen ibuku yang bawa anak, ada juga anak-anak yang masih SD..

Ckckckck...

Tapi, hari itu tetep menyenangkan kok. Coz aku dapet banyak souvenir, dari temen-temen ibuku. Mereka kira aku masih kecil kali ya, jadi mereka perhatian banget ke aku. ^_____^

Rabu, 22 Juni 2011

Si Mici Menguras Dompetku, :(


"Setiap ada kemudahan di situ juga pasti ada kesulitannya."

Kek-nya kata-kata ini bener-bener cocok deh buat aku saat ini, meski aku sendiri tidak pernah mengakui kalo dengan berkendaraan pribadi itu bisa memudahkan sebagian besar urusanku, apalagi yang berhubungan dengan perjalanan. Tapi, tetep aja hampir semua urusanku jadi dipermudah sejak aku diamanahkan ayah untuk 'memiliki' si Mici (motor ompongku, matic).

Karena ada si Mici, waktuku jadi lebih hemat, ya jelas lah, yang biasanya untuk sampe ke kampus butuh 1 jam perjalanan, eh sekarang cuma butuh 30 menitan. Lebih hemat 30 menit kan? Dan juga lebih hemat ongkos, biasanya kan aku harus mengeluarkan uang 5ribu rupiah (hanya dari rumah ke kampus, kampus balik lagi ke rumah). Belum lagi kalo ada agenda dadakan, harus ke sini lah ke situ lah, bisa-bisa habis 20ribuan deh. Sekarang, hanya dengan 10ribu rupiah aku bisa ke mana-mana sampe 2-3 hari.

Menyenangkan kan? Iya, sangat menyenangkan. Tapiiiii, selain ada banyak kemudahan-kemudahan yang didapat. Aku baru nyadar sekarang, kalo Mici menguras isi dompetku cukup banyak eiy. Dulu, aku gak pernah kepikir kalo punya motor itu ribet juga. Mesti ganti oli tiap bulan, biaya ke salon (cucian motor maksudnya), beli perlengkapan bermotor (helm, sarung tangan, penutup wajah, dll), juga uang cadangan kalo-kalo si Mici pecah ban, nah untuk urusan yang satu ini aku ahlinya deh, entah kenapa ban si Mici slalu pecah, belum nyampe 2 tahun aku 'memiliki'nya, tapi uda lebih dari sepuluh kali aku mengalami yang namanya PECAH BAN, mending kalo cuma pecah bisa ditambal, nah ini harus ganti ban baru. Kebayang kan isi dompetku makin menipis aja...

Untuk bulan ini aja uang jajanku harus disisikan untuk si Mici, ganti jok-nya lah, ke bengkel lah, huuuufffh...*ngelirik dompetku yang makin tipis, apalagi di ujung bulan gini...

Jadi, buat yang mau mulai menggunakan kendaraan, harus kudu siap-siap deh, siap dana lebih untuk keperluan-nya, siap-siap jadi makhluk belang *memandangi pergelangan tanganku yang kontras banget warnanya...

-Curhatan si empunya Mici-