Tampilkan postingan dengan label pengingat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengingat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Bukan Hasilnya, Melainkan Ikhtiarnya

"Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, 
maka itu lebih baik dari unta merah."
[HR. Al Bukhari]

Hadits satu ini pertama kali aku dengar saat mengikuti Training for Tutor di kampus, salah satu hadits yang membuat semangat para peserta untuk mulai mengazzamkan diri membina adik-adik kampus. Karena, bila satu saja diantara manusia yang mendapatkan petunjuk melalui kita, itu lebih baik dari unta merah, yang katanya seharga dengan kendaraan paling mahal yang ada di dunia ini. Daebak! ^^

Saya pernah membina beberapa kelompok, mulai dari Rohis SMA saya dulu, Mentoring Program Studi, Mentoring Jurusan, dan beberapa kelompok binaan lainnya. Huwaaa, keren donk yah? | Tunggu dulu, kelompok-kelompok itu pada bubar, hanya bertahan sampai beberapa waktu saja. Satu semesterlah paling lama, kemudian bubar secara teratur. -___-"

Selama beberapa waktu, saya malas membina lagi. Kecewa lebih tepatnya. Saya merasa saya bukan seorang pementor yang baik, karena selama membina saya gak melihat ada perubahan yang cukup baik yang terjadi pada binaan-binaan saya. Padahal saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjadi murabbi yang baik untuk adik-adik saya, mencoba mencari cara agar adik-adik saya semakin hari semakin baik dalam amalan kesehariannya.

Sempat juga membina adik-adik SMA Swasta, ujiannya jauuuuh lebih berat dibanding ketika saya membina adik-adik di SMA saya dulunya. Anak-anaknya itu sepertinya kepaksa banget hadir di mentoring itu, bawaannya mau pulang terus. Dan apa yang saya sampaikan sepertinya cuma lewat-lewat saja, gak berbekas.

Jadinya, saya memutuskan untuk berhenti membina adik-adik itu. Kebetulan juga saya mau fokus ke pembinaan di kampus saja, karena saya juga membina satu kelompok halaqah di kampus. Saya lepaskan mentoring SMA itu. Saya jahat yah. >,<

Beberapa waktu saya gak pernah datang ke SMA itu lagi, satu per satu adik binaan saya mengirimi pesan. Ada yang bertanya kabar, ada yang bilang kangen, ada juga yang pengen bisa mentoring lagi. Aaaah, rasanya saya merasa sangat menyesal. Kenapa saya begitu egois, melepaskan amanah hanya karena merasa tidak dihargai dan dianggap sebagai pementor. :(

Sepertinya ada yang tidak beres di hati saya. Yah, saya masih berorientasi pada hasil, niat saya masih belum lurus, masih ingin mendapatkan penghargaan dari manusia. Bukankah harusnya cukup saja Allah, Rasulullah dan orang-orang mukmin yang menilai apa yang kita lakukan. Ikhlas saja, meskipun hasil yang diharapkan tidak seperti yang kita harapkan.

Kita tidak pernah tahu amalan mana yang benar-benar Allah ridho terhadap kita karenanya. Benar-benar kita tidak tahu. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan sebanyak mungkin kebajikan di wasilah-wasilah kebaikan yang ada, karena Allah...

Karena yang perlu dan harus diingat adalah bagaimana usaha yang kita lakukan dalam proses untuk menggapai yang kita harapkan itu, bukan seperti apa hasilnya. Dan bukanlah kewajiban kita juga untuk memberi hidayah kepada orang-orang di sekitar kita, yang berhak memberi hidayah hanyalah Allah. Kita sebagai manusia hanya diwajibkan untuk menyampaikan kebaikan yang kita ketahui, bukan membuat orang itu mengikuti apa yang kita sampaikan. [QS. Al Baqarah: 272]

Saya jadi ingat sama kalimat murabbiyah saya dulunya. Katanya, "Sampaikanlah apa yang perlu untuk disampaikan, luruskanlah apa yang harus diluruskan. Tentang hasilnya seperti apa, Allah lah yang berhak memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Jika tidak sekarang, mungkin nanti di suatu hari, apa yang pernah disampaikan itu akan kembali teringat oleh mereka. Dan bisa jadi saat itulah hidayah itu menghampirinya dek. Jadi, jangan pernah berkecil hati karena binaan kita tidak bisa jadi seperti yang kita harapkan. Semua itu sudah sunnatullah, tidak semua orang akan langsung berubah, proses dan waktu bermain di sana."




Satu hal lagi, setelah kita berusaha dengan ikhtiar yang paling baik. Maka do'a adalah langkah selanjutnya, do'akan slalu mereka dalam do'a-do'a kita, dalam do'a rabithah yang kita lantunkan. Semoga Allah berkenan memberi hidayahNya, semoga Allah berkenan mengistiqomahkan kita semua, dan semoga Allah berkenan menyatukan kita kelak di SyurgaNya. Aamiin allahumma aamiin.

Selasa, 25 Juni 2013

Bersamamu, kawan...

"Hidup ini keras." katamu suatu hari, "Aku tau." jawabku singkat.

Maka dari itu, aku memilih bersamamu. Karena mungkin menjalani hidup yang keras tanpamu di sisi, takkan kurasa bahagianya. Maka, temanilah aku. Kita buat hidup yang keras ini menjadi lebih indah, dengan tawa dan duka kita, bersama.


Aku tau, kita tak berjalan dengan beralaskan permadani yang lembut, tak juga beratapkan payung yang nyaman, atau berhiaskan dan bertabur bunga-bunga.

Kita menjalani hidup yang sama dengan yang lain, kadang ada kerikil yang menggores luka, ada duri yang menyayat sakit. Tapi, kau harus ingat, ada juga hujan yang mendamaikan, terbit pelangi setelah guyurannya hilang. Juga ada bintang-bintang di langit malam kita yang pekat, bukankah itu juga harus kau perhitungkan.

Kelak, ada banyak hal yang kan kita lihat, hadapi dan lewati. Maka, genggam aku dengan erat. Jangan lepaskan tangan, karena kau adalah kekuatanku, kawan.

Menjelang tahun ke-7 hijrahku,
 terima kasih masih mengenggam erat tanganku. 
Aku mencintaimu, karena Allah.

Minggu, 16 Juni 2013

Menjaga Lisan

Katanya sih lidah manusia itu lebih tajam dari pada pisau belati sekalipun. Ada juga yang bilang, mulutmu harimaumu. Sesuatu yang bisa menerkammu kapan saja, jika tak kau jaga dengan baik.

Ada banyak orang terluka karena ketajaman kata-kata yang disampaikan. Ada banyak air mata yang menetes diam-diam, saat ada perkataan yang menancap tajam, terdengar dan terngiang di telinga. Ada banyak hati yang sakit karena kalimat-kalimat yang bagai racun disebar sembarangan.

Luka karena pisau dapat sembuh beriring waktu, namun konon katanya luka karena lisan teramat lama disembuhkan. Akan melekat pada ingatan, meskipun bagi mereka yang tak memiliki jiwa pendendam.

Berbahaya sekali bukan, sebuah mulut yang diciptakan dengan begitu banyaknya fungsi itu. Kau bisa membuat orang terkagum karena suaramu yang merdu. Kau bisa memakan makanan paling lezat yang ada di hidangan. Kau bisa menjelaskan ini dan itu dengan panca indera satu itu. Tapi, kau pun bisa membuat seseorang terpuruk, terpojok, terluka, juga tersakiti dengan lisan yang tak kau jaga dengan baik.

Jadi ingat kejadian di masjid tadi sore, ada seorang ibu yang marah-marah karena ada seorang gadis yang tidak sengaja membuka pintu toilet, di mana ada ibu itu di dalamnya. Padahal gadis itu sudah memanggil beberapa kali, apakah di dalam orang atau tidak, dan tidak ada jawaban.

Mungkin gadis itu salah, tapi dengan ibu itu marah-marah sambil menggunakan kata-kata kasar, jadinya seakan yang salah itu adalah ibu tadi. Dan semua orang yang ada di sana jadi tidak suka dengan ibu itu, karena sikap dan lisannya yang kurang baik.

Entahlah yah, aku juga gak ngerti kenapa orang-orang kadang bicara tidak dipikir terlebih dahulu. Apakah perkataannya akan menyakiti orang atau tidak, apakah orang yang dikasari itu akan tersinggung atau bahkan menangis karena ucapannya. Tidak bisakah kita memposisikan diri sebagai seseorang yang diperlakukan seperti itu, tidak senang pastinya kan, malah mungkin jadi benci.

Hmmm, untungnya kita memiliki suri tauladan terbaik, seseorang yang menjadi acuan kita dalam bersikap di kehidupan ini. Adalah Rasulullah SAW, seseorang yang meski sering diludahi, dihina, dicaci maki dengan sebegitunya, tetap menjaga sikap baiknya terhadap orang yang berlaku begitu padanya. Bahkan beliau selalu memberi makan dan menyuapi orang yang bersikap kasar tersebut.

Aaaah, akhlakmu sungguh mulia, duhai kekasih Allah. Bisakah kita seperti itu, yang senantiasa menjaga sikap baik kepada siapa saja, meski ia tidak berlaku baik pada kita, meski ia membenci bahkan memusuhi kita? Bisakah bersabar dalam tiap prilaku yang kurang baik oleh orang yang kita temui, dan tetap menampakkan wajah bersahabat, meski taring orang itu hampir keluar karna amarah yang memuncak?

Jika belum bisa seperti itu, paling tidak kita tidak membalasnya. Pergi jauh saja dari orang itu, kurasa itu akan sedikit menenangkan. :)

Jumat, 05 April 2013

#CeritaHijrah Part 1

Kemarin ngebaca salah satu artikel tentang cerita hijrah seseorang, jadi tertarik untuk ikutan nulis. Biar gak lupa nantinya, biar ceritanya bisa diinget terus kalo dituliskan. ^^

Jadi begini ceritanya *jiyaaaah. Pertama kali memutuskan untuk menggunakan jilbab dan ingin berubah jadi wanita shalehah *uhuk* itu September 2006, sebelumnya juga niat itu udah ada, tapi slalu aja ada alasan untuk bilang BELOM SIAP. Sampe akhirnya beneran berjilbab di September itu, di awal semester 1.

Aku gak langsung berhijab kaya sekarang, "Semua butuh proses non!". Begitu kataku, dulu. Untungnya prosesku itu gak lama, paling dua bulanan lah merasakan jadi kaya 'hijabers' sekarang ini; pake jeans, kerudungnya dililit di leher, pake kaos sesuka hati.

Di Oktober 2006 aku ikutan kajian yang diadakan oleh LDK, jadinya ikutan halaqah gituh deh. Agak minder sih dulunya waktu ketemu sama mb-mb LDK yang jilbabnya panjang-panjang, jadi ngerasa kaya anak nakal gitu akunya. Padahal udah pake jilbab juga sih, -___-"

Sampe beberapa kali pertemuan aku tetep dengan gayaku itu, juga temen-temenku yang 11-12 lah sama akunya. Murabbiku saat itu menyampaikan materi tentang aurat dan pakaian, yah di sana dijelaskan tentang batasan aurat wanita itu seperti apa dan pakaian yang harusnya digunakan oleh seorang muslimah.

Kain yang menutup dada, tidak transparan, pakaian yang longgar, tidak membentuk lekukan tubuh, tidak menyerupai pakaian laki-laki, juga bukan pakaian wanita-wanita kafir. Yah itulah yang saat itu disampaikan oleh murabbiku dan alhamdulillah masih inget sampe sekarang, amalannya banyak mb itu. Hehehe. Semoga Allah selalu memberkahinya, jadi kangen deh. :)

Sejak hari itu pakaian lamaku 'terpaksa' dijual ke beberapa temen SMA yang emang suka sama baju-bajuku, yah uangnya buat beli rok juga baju-baju layak pakai. Soalnya uang jatah beli baju udah dibeliin baju-baju kuliah yang tadi terpaksa dijual itu. Hihihi.

Where there's a will, there's a way. Karena niatan untuk berhijrah itu begitu kuat, akhirnya banyak sekali cara Allah memberikan pertolonganNya. Aku dikasih banyak pakaian mb-mb LDK yang udah gak dipakai lagi, dan pakaian itu masih bagus-bagus loh, cantik lagi. Ibu juga yang sebelumnya kurang suka aku pake jilbab panjang, eh malah ngajakin ke toko langganannya untuk ngebeliin aku beberapa pakaian baru.

Sekarang saat ngebuka lemari, di sana udah terlipat rapih jilbab, gamis, rok, baju-baju, manset dengan bermacam warna, kaos kaki juga. Berikut dengan aksesorisnya, bros, peniti dan jarum pentul. Dan hampir semuanya itu bukan pakaian yang dulu, karena sebagian udah di'pinjam'kan lagi ke mereka yang membutuhkannya.

Seseorang pernah bilang, "Yah enak sih kamu itu banyak duit, jadi kalo mau berjilbab langsung beli. Langsung bisa berubah total. Kami kan dak punya duit, jadi susah kalo mau pake jilbab kaya gitu." Hmmm, andai mereka tau kalo dulunya aku itu cuma punya 2 lembar jilbab harga 10.000an, 2 rok, juga 3 kemeja. Dan itu dipake terus ketika kuliah, sebelum akhirnya dapet 'hadiah' dari mereka yang dikirim oleh Allah.

Hidup ini memang membutuhkan proses. Bedanya ada yang berlama-lama menjalani proses itu dan yang lainnya melesat untuk menuju proses yang lebih jauh. Mau pilih yang mana itu kembali ke kitanya. Tapi yang perlu diinget, waktu kita itu terbatas. Bisa saja kita takkan pernah bertemu hari esok. Menyesal udah pasti, kenapa kemarin tidak semaksimal mungkin membenahi diri untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. :)

Kamis, 04 April 2013

Kita Itu Istimewa

"Mungkin saya bukan orang yang baik-baik banget, tapi saya bukan orang jahat. Jadi, saya yakin Tuhan tidak akan memberikan saya pada orang yang jahat. Yang bisa membuat hati saya terluka, nantinya." -katanya di suatu senja

Pernah denger kalam Ilahi ini,
"..Wanita baik-baik hanya untuk lelaki yang baik-baik, begitupun sebaliknya.."
Teman saya ini sangat meyakini akan hal ini, begitupun saya. Katanya, mungkin saya bukanlah seseorang yang memiliki banyak ilmu untuk nanti bisa saya bagikan kepada orang lain. Saya bukan orang yang cerdas, yang bisa dibanggakan nantinya. Saya juga tidak memiliki keahlian yang biasa dimiliki wanita pada umumnya, tapi saya ini bukan orang yang jahat.

Saya mungkin masih belum terlalu lancar dan fasih membaca al qur'an, tapi saya mau belajar dan terus berusaha membacanya di tiap hari yang saya lewati. Saya mungkin tidak begitu baik terhadap orang lain, tapi saya berusaha untuk tidak membuat orang repot karena saya. Yah, mungkin saya hanya sebongkah batu bata dalam sebuah bangunan. Yang mungkin tidak begitu penting dan menjadi sorotan, tapi saya ada dan saya turut serta dalam berdirinya bangunan itu.

Hmmm, kadang terdengar ini orang minderan yak? Tapi, saya pernah ngerasain ituh, bahkan sering. Apalagi kalo berhadapan sama orang yang dirasa jauuuuuh lebih baik dalam banyak hal dibanding saya yang penuh kekurangan ini. Mungkin hanya tidak ingin kalimat itu keluar dari lisan orang lain, jadi lebih baik ngomong duluan deh. Hehehehe.

Tapi kita perlu inget loh, Allah itu Maha Adil. Jika kita diberikan kekurangan pada satu hal atau beberapa hal, kita pastinya dilebihkan pada sisi-sisi lainnya. Yang mungkin kelebihan itu jarang bisa kita lihat dan perhatikan, kenapa? Karena kita seringnya berfokus pada apa yang kurang bukan pada apa yang ada di diri kita yang bisa kita explore.

Misalnya saja murid saya, mereka itu agak kurang dalam pelajaran teori di kelas, tapi jago banget di bidang olahraga. Kemarin sempet dapat juara saat lomba O2SN, cabang Sepak Bola Mini dan Takraw. Padahal mereka yang ada di tim ituh rata-rata nilainya kacau, agak kacau maksudnya. =))

Yah, mungkin saja kita bukan orang yang dengan kelebihan yang biasa tampak pada orang lain. Jago masak, cerdas, ahli di bidangnya, hafalannya banyak, lembut, ngomongnya teratur banget dan lain sebagainya deh. Tapi, mungkin kita itu adalah teman yang baik, menyenangkan, lucu juga ngangenin. Simple sih, tapi hal kecil kaya gini bisa membuat orang-orang di sekitar kita merasa bahagia loh. Beneran, soalnya temen-temen saya gituh semua orangnya. ^^

Jadi, gak usah deh pake minder-minderan sama orang lain. Just be your self ajalah! Lagian yah, di jaman modern sekarang ini 'makhluk' kaya kita ini udah jarang ditemuin loh. Hahaha. Yah, mereka yang berusaha menjaga auratnya dengan baik, menjaga interaksinya dengan lawan jenis, rutin mendatangi majelis ilmu, senantiasa memantaskan diri untuk seseorang yang nantinya akan menemani kita dalam perjalanan ini, juga berusaha untuk menebar kebaikan sekecil apapun itu.

Itu adalah anugerah, yang gak sembarang orang yang diberikan olehNya. Maka, beruntunglah kamu duhai ukhti. Gak usahlah khawatir kalo kamu gak pantas untuk seseorang, karena emang hanya orang yang pantaslah yang kelak akan jadi pendamping kamu. Hmmm, tapi tep harus belajar masak yak. Kan kasian nantinya kalo suamimu  harus jadi kelinci percobaan untuk masakanmu, hahahaha. Piss V

dedicated for my best friend

Jumat, 22 Maret 2013

Bad Mood?

Hari ini mood aku lagi gak bagus banget. Tadi pagi ngerjain laporan sekolah yang beneran bikin mumet, eh pas udah hampir selesai ternyata datanya gak kesave dengan sempurna. Kesel banget sama yang bikin program itu, kok bisa buat ngesave ajah ribetnya minta ampun. Harus ngelewatin beberapa tahapan, baru beneran bisa kesave dengan baik. >,<

Untuk lanjut nyelesaiin laporan itu beneran gak mood, capek, males. Akhirnya mutusin buat pulang ke rumah, sebelum pulang mampir dulu ke toko deket rumah. Beli beberapa perlengkapan bulanan, sikat gigi, de el el deh. Sesampenya di rumah, salah satu barang yang dibeli tadi gak ada. Dicari ke mana-mana tetep gak ketemu, akhirnya cuma bisa ngempasin badan ke kasur.

Guling-guling bentar, terus coba tuk tidur. Mungkin dengan kek gituh mood aku baik lagi. Eh, belum juga nyampe 15 menit lelap dalam tidur, si Aji sepupuku (5y) manggil-manggil namaku terus ngotak-atik kamar. Terang ajah ini pikiran langsung kebayang kalo dia bakal mainin sgala pernak-pernik di kamar, yang harus dijauhkan dari oknum-oknum yang slalu ingin tau itu. Pasti dibongkar-bongkar kamarku ini, cukuplah Danish yang slalu jadi tersangka utama penghilang buku-buku juga beberapa data penting di kamar. Akhirnya bangun deh, dan kepala ini langsung puyeng, sakit banget. Moodku malah jadi makin buruk kaya gini mah, huaaaaa >,<

Dan, aku pun mutusin tuk duduk di teras belakang. Mainin air, terus gak lama dari situ ngedengar adzan Ashar yang bersahut-sahutan. Allahu akbar! Allahu akbar! Lalu teringat kejadian dua hari yang lalu, saat aku dan guru-guru di sekolah takziah ke rumah salah seorang murid yang ibunya meninggal dunia, karena sakit. Aku duduk tepat di dekat kepalanya, melihat tubuh yang terbujur kaku itu ditutupi kain.

Ketika itu, aku merasa sangat bersyukur di pagi harinya masih mendapati ibuku sedang asyik memasakkan sarapan di dapur. Melihat ayah minum kopi sambil mengomentari berita di tipi Satu itu, juga sempat mendengar ayuk yang cerita tentang pekerjaan barunya. Yah, minus Danish's family. Tapi, semua masih lengkap. Semua masih ada di sampingku, dan aku masih diberikan kesempatan bersama mereka. Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?

Hari ini juga masih dengan banyak hal yang ada di hidup kita, yang kadang jarang disyukuri. Rumah yang nyaman, tubuh yang sehat, keluarga yang lengkap, juga banyak hal-hal yang mungkin tak dimiliki orang lain. Betapa beruntungnya kita. Tapi, terkadang kita masih belum menyadari akan banyaknya nikmat yang patutnya disyukuri, daripada hal-hal yang pergi atau belum didapatkan.

Hanya karena hal-hal kecil yang merusak mood kita pagi ini, siang ini atau sore ini, tak berarti seluruh hari kita buruk bukan? Jikapun hari ini beneran ngebuat kita mengeluh dan kesal, tak berarti seluruh hidup kita buruk. Mungkin, kitanya saja yang terlalu sering mengabaikan hal-hal baik yang datang pada kita dan malah sibuk dengan hal-hal kecil yang agak sedikit merusak hari kita. Makanya kita jadi makhluk yang tak pandai bersyukur.

Hei, kamu itu adalah makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan dari makhluk-makhlukNya yang lain. Diberikan banyak kenikmatan juga hal-hal indah dalam kehidupan, kenapa masih terus-terusan mengeluhkan hal-hal kecil yang tak sesuai dengan harapan kita. Bukankah semakin kita bersyukur terhadap apa yang kita miliki, tawakal terhadap apapun takdir yang ditetapkanNya, maka Dia akan menambah kenikmatan itu kepada kita. Namun, jika kita tak bersyukur, sesungguhnya azabnya sangat pedih. [QS. Ibrahim: 7]

Jadi, masih mau bad moodnya diterusin? ^^

Minggu, 24 Februari 2013

Palestina, Apa Kabarmu?

Hari ini ada kajian yang diadakan oleh DPD PKS di Aula DPRD Provinsi, pesertanya adalah kader dakwah yang ada di Palembang juga sebagian dari Indaralaya (OI). Gak nyangka kalo pesertanya bisa membludak, sampe harus duduk berdesakan. Ada yang bahkan gak kebagian tempat duduk, jadi harus berdiri mendengarkan taujih dari pembicara di depan.

Salah satu pembicara di kajian itu adalah Syeh Abu Mukmin dari Palestina, beliau menghadiri kajian ini dalam rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) di kota-kota yang ada di Indonesia.

Beliau menceritakan tentang kondisi terkini Palestina, tentang kegigihan para pejuang di sana dalam menghadapi kekejaman zionis. Juga tentang kecintaan mereka kepada kita, rakyat Indonesia yang senantiasa peduli pada saudara seiman yang berjuang membela Islam, bukan hanya untuk sekedar memerdekan negara. Tapi lebih dari itu, membebaskan tanah suci umat Islam, kiblat pertama umat Islam, Al Quds dan Al Aqsa.

Beliau berkata, ketika beliau menelepon istrinya yang sekarang di Palestina dan menyampaikan salam dari kaum Muslimin di Indonesia, salam itu disebarkan kepada para wanita-wanita yang ada di sana, dan serta merta tangisan mereka pecah. Ada kerinduan, ada keharuan juga rasa dicintai begitu besar, yang mereka rasakan. Dari kita, saudara seiman mereka yang berjauhan, tak pernah saling mengenal apalagi bertegur sapa. Itulah cinta yang berlandaskan keimanan, cinta karena Allah. Kecintaan yang tak mengenal batasan suku, daerah, negara, dan bahasa.

Mendengarnya berkisah, sungguh diri ini merasa tak ada apa-apanya. Belum mengorbankan apapun untuk perjuangan Islam. Tapi masih merasa telah berjuang banyak hal, sungguh naifnya dirimu Ci! Jika kelelahan dalam berjuang kadang lebih banyak dikeluhkan ketimbang berpikir, bergerak dan berjuang dengan sebenar-benarnya perjuangan.


Palestina, apa kabarmu?
Pernahkah tanya ini melintas dalam benak kita? Meski hanya sesekali waktu? Atau kah kita hanya mengingatnya saat berita mengenai anak-anak yang syahid di sana terekspos media, beritanya ada di mana-mana. Jika tidak, kita tidak pernah ingat.

Duhai diri, jika kau tak mampu membersamai mereka dengan ragamu, iringilah perjuangan mereka dengan jiwamu. Berikanlah bantuan terbaik yang bisa kau berikan, meski itu hanya dengan seuntai do'a. Itu akan menguatkan mereka.

Allah memang tak pernah meninggalkan mereka, mereka memang tak pernah sendiri. Tapi, adalah tugas dan kewajiban kita untuk membantu meringankan beban saudara yang membutuhkan bantuan. Maka selayaknya lah kita ikut dalam barisan perjuangan ini, dengan apa yang bisa kita berikan. Dengan dirimu, hartamu, juga do'amu.

Terima kasih, hari ini telah mengingatkan kembali. Bahwasanya ada saudara kita, di negeri yang sedang terjajah itu. Ada tangisan dari anak-anak tak berdosa, ada istri-istri yang kini mungkin tak lagi bersuami. Ada ibu-ibu yang senantiasa mengikhlaskan anak-anaknya menuju kesyahidan, meski mereka hanya berpamitan untuk menunaikan shalat Jum'at.

Kamis, 31 Januari 2013

Efek dari Kepo

Saya punya seorang teman, sebut saja Bila. Bila ini bentar lagi mau nikah loh, yap beberapa bulan lagi. Hari itu dia mengajak saya bicara, curhat lebih tepatnya. Saya juga gak tau kenapa dia tiba-tiba mau bercerita kepada saya, mungkin karena saya bukan orang dengan kesibukkan yang super padat. Hehehe.

"Aku gak tau Des, harus seperti apa. Aku bener-bener bingung, apa harus bertahan atau sampai di sini saja?" Ucapnya mengakhiri pembicaraan sore itu, dengan mata yang sudah berlumur air mata.

Bila tidak begitu mengenal calon suaminya ini, Bila mungkin bukan seorang akhwat, tapi dia tidak pacaran, dia anak yang baik. Dia mengenal calonnya ini hanya dalam hitungan bulan, itupun tidak dengan pacaran. Ya wajar jika Bila ingin mengetahui banyak hal tentang calon suaminya, seperti apa orangnya, teman-temannya, bagaimana si dia berinteraksi dengan wanita-wanita lain.

Wajar donk, kan itu calon suaminya, seseorang yang kelak akan ia patuhi, si dia yang akan menggantikan posisi kedua orang tua yang harus ia muliakan, pada ridhonya ada keridhoan Allah. Maka sudah sepantasnya lah jika seorang wanita menjadi sangat selektif dalam memilih seorang imam untuknya kelak.

Dengan sengaja Bila menstalk TL calon suaminya itu, awalnya biasa saja, tak ada yang aneh. Bulan ke bulan ia baca isi TL itu, sampai ke suatu hari di mana ia melihat keakraban calon suaminya itu dengan seorang wanita. Yah, dengan RT RT yang tertampil di sana.

Kepo? Bila mungkin memang sedang kepo. Tapi, sekali lagi hal itu wajar saja menurut saya. Bukankah akun sosial media seseorang itu sedikit banyak mewakili si empunya akun bukan? Kita bisa melihat, seperti apa dia dengan teman-temannya, siapa saja teman-temannya itu.

Saya sempat bingung harus seperti apa menanggapinya. Karena itu ada di masa lalu, masa yang telah terlewat. Kita tak bisa menilai seseorang hanya dari masa lalunya saja, ya kan?

Seperti kata Bu Ainun, "Masa lalu kamu adalah milik kamu, masa lalu saya adalah milik saya. Tapi, masa depan adalah milik kita." 

Namun, tidak semua orang bersepakat akan hal ini, tidak semua orang. Ada beberapa orang yang sulit menerima masa lalu orang lain, bukan karena dia merasa paling baik dan sempurna. Tapi, karena dia merasa dia tidak cukup baik untuk bisa menerima dengan seutuhnya, tanpa ada rasa yang mengganjal di hati.

Mungkin baginya ia bukan orang yang tepat, bukan orang yang kuat jika suatu hari apa yang di masa lalu itu akan kembali ada di masa depan. Tidak ada yang menjamin hal itu takkan terjadi lagi bukan, tak ada jaminan. Hanya saja, dengan modal kepercayaan juga keyakinan padaNya, Yang Maha Pengabul Asa, kita bisa meminta agar kelak dan selamanya dia takkan pernah menyakiti hati kita, takkan pernah menodai janji suci yang telah terucap. Atau mintalah petunjuk padaNya, agar diberi jalan terbaik untuk masalah yang tengah kita hadapi.

Sedikit mengutip kata-kata seseorang, "Yang terpenting adalah siapa yang tinggal, bukan siapa yang telah pergi." Mungkin saja ada beberapa orang yang pernah hadir dalam hidupnya, yang pernah berbekas di hatinya. Tapi, yang ada saat ini bukankah hanya dirimu seorang. Dan di hari-hari yang akan datang, berharaplah hanya akan ada dirimu saja.

Tapi, sebaiknya hal seperti ini dikomunikasikan dengan baik dengan dirinya, agar ia tau apa-apa yang merisaukan kita. Mintalah untuk menjaga hatinya, juga hatimu. Karena lelaki yang baik, tidak akan membuat wanitanya tak tenang apalagi bersedih hati. Ya kan? ^^


Hmmm, jadi mikir nih di TL ku ada apa aja yah? Huaaaa, semoga tak ada yang membuat cemburu my future husband, ^^ Apa kabar yang di FB?? Tenang, saya mungkin bukan akhwat yang baik-baik banget tapi saya bukan anak yang nakal, saya gak suka berakrab-akrab ria dengan orang lain. Males.

Senin, 05 November 2012

Diingatkan Kembali

Buka FB, liat-liat status temen di Home. Rame. Ada yang bicara tentang hujan, kemacetan, tugas kuliah, skripsi, pekerjaan, cinta, persahabatan, bahkan ada yang ngomongin politik.

Mataku terhenti kepada salah satu photo yang dishare oleh seorang teman, tertarik, sangat tertarik untuk membacanya. Kubaca hati-hati pesan yang tertulis di sana Dosen Tak Bernyawa, lalu kubuka link sebuah blog yang tercantum diphoto itu Blog Ukhti Novilia.

Ada semacam perasaan takut, khawatir, sedih juga beragam perasaan aneh yang serta merta muncul di hati ini. Kematian. Suatu kepastian yang tak terbantahkan. Kita semua PASTI mati. Yah, itu yang kuyakini. Tapi, apa yang kita siapkan untuk menjadi bekal kita setelahnya. Amalan yang baikkah atau malah tumpukkan dosa yang menjulang tinggi?




"Nanti pasti nikah kok, pasti itu!" Jawab sepupuku saat ditanya oleh tante tadi sore ketika kami lagi duduk di depan tipi. Aku langsung meralat ucapannya, "Nikah itu gak pasti, yang pasti itu kematian."

Ketika bicara tentang pernikahan, kita sangat semangat. Menyiapkan banyak hal; pakaian yang cantik, gedung yang mewah, pernak-pernik yang menarik, semuanya harus sempurna. Jangan sampai ada yang terlupa, ada yang tertinggal. Kesibukkan kita menjadi berlipat-lipat, kadang kita lupa akan diri sendiri, tidak sempat makan, tidak cukup istirahat, atau bahkan lupa ibadah.

Tapi, saat bicara kematian. Kita sering tak memikirkan tentang hal itu. Mungkin karena masih muda, masih banyak waktu untuk menikmati hidup, dan beragam alasan dunia lainnya. Padahal, kematian itu tak mengenal siapa orangnya, berapa usianya, apa pekerjaannya. Ia akan datang, kepada dia yang telah ditakdirkan untuk dijemput oleh Malaikat Izrail. Tak mengenal waktu; pagi, siang, malam atau bahkan dini hari.

Lalu, apakah kita masih bisa melalaikan hal tersebut? Sementara kematian senantiasa mengintai kita, malaikat yang tak pernah lalai mencatat amalan kita, dan Allah tak pernah tidur apalagi mengantuk selalu melihat apa yang kita lakukan.