Tampilkan postingan dengan label uncategorized. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uncategorized. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2014

Tulisan : Satu

“Satu fikrah saja kadang tak sejalan, akan ada beberapa hal yang mungkin menjadi bahasan untuk diperselisihkan. Apalagi jika landasan berpikir dan beberapa hal prinsip yang dianut totally berbeda. Maka jika tak kuat-kuat dalam mengontrol kesabaran dan semua maunya keras kepala, perselisihan tak bisa dihindarkan.” 

Itu kalimat yang sempat disampaikan oleh seorang teman. Dia menikah dengan seseorang yang mempunyai visi dan misi yang sama, baik dalam kehidupan pernikahnnya maupun kehidupan pada umumnya.

Tapi, terkadang masih saja ada beberapa hal yang menjadi sesuatu yang bertentangan antara dia dan suaminya. Hal-hal kecil yang sempat tak diprediksi sebelumnya.

Itu bukan menjadi masalah yang berarti sih sebenarnya, jika baik dia dan suaminya menyadari; bahwasanya pernikahan terjadi bukan karena dua orang yang sama bertemu lalu mengikat janji suci. Tapi pernikahan adalah penyatuan dua insan yang berbeda untuk dapat hidup bersama, menyelaraskan perbedaan yang ada menjadi suatu padanan indah dan saling melengkapi atas kekurangan yang ada.

Hmmm, aku ngomong kayak gini seperti dah pengalaman ajah. Hahaha, itu semua diambil dari teori di buku-buku dan beberapa pengalaman dari orang-orang dekat. Hanya ingin kembali menegaskan, bahwa kelak ‘dia’ adalah orang yang mungkin gak sama seperti aku ini. Maka harus pandai-pandai dalam menyikapi kemungkinan-kemungkinan yang ada atas perbedaan itu. ^^


Sebenernya sih nulis tema ini karena ada seorang teman yang setelah menikah jadi jarang ikut kajian rutin (halaqah) dan kesannya gak produktif. Padahal sebelumnya beliau itu orang yang sangat aktif dan rajin. Alasannya karena sang suami yang tidak memberi izin bepergian, walau untuk hadir halaqah yang satu pekan sekali itu.

Suaminya itu seorang ikhwan tarbiyah loh, aktivis kampus juga dulunya. Tapi kenapa kesannya gak paham ya, kalo halaqah itu sebagai tambahan ‘nutrisi’ untuk ruhiyah dan fikriyah sang istri.

Entahlah, aku sih gak bisa menjudge seseorang hanya karena satu dua keputusan yang dia ambil. Siapalah aku, semisal; hanya seseorang yang menilai suatu makanan dari apa yang tampak di hadapan, padahal sendirinya belum mencicipi makanan itu.

Hanya saja, sangat berharap jika kelak Allah takdirkan saya menikah. Maunya punya suami yang mendukung dan terlibat aktif dalam pembinaan ruhiyah dan firkriyah saya. Setidaknya tidak melarang saya untuk tetap berkontribusi pada aktivitas dakwah, yang menjadikan saya seseorang yang seperti sekarang ini, dan di jalan ini saya bisa berjodoh dengannya. Hihihi, aamiin donk. ^^

Senin, 10 Maret 2014

Suka Membaca?

Ketika ditanya apa aku suka membaca? Iya, aku suka membaca. Tapi tidak bisa dikatakan bahwa membaca adalah hobiku. Aku hanya suka, hanya suka membaca. :)

Aku suka membaca. Aku suka membaca buku, aku suka membaca artikel, aku suka membaca tulisan singkat yang disebar di grup-grup yang aku ikuti, aku suka membaca cerita dari mereka-mereka yang ada di dekatku, aku suka membaca tulisan berisi 140 karakter yang berbaris rapi di lini masaku, aku suka membaca curahan hati teman-teman mayaku lewat sebuah status yang dia posting, aku suka membaca tulisan yang ada di blog-blog yang aku ikuti, yah, aku suka membaca.

Sama halnya aku suka membaca arti dari tatapan mata orang yang melihatku, ah sepertinya orang ini tidak menyukaiku. Aku juga suka membaca apa maksud Tuhan dengan apa yang terjadi padaku, walau seringnya aku belum bisa memahami apa yang coba kubaca. Aku suka membaca makna lain dari banyak hal yang tak mampu kumengerti, sepertinya Tuhan masih menyimpan jawaban dari tanya yang tak kudapati jawabnya itu, dari ketidak mengertianku itu. :)

Tapi entah kenapa, saat suasana hatiku sedang tidak bersahabat, membaca sesuatu bisa membuatnya jauh lebih baik. Ketika aku tak tau apa yang bisa membuat hatiku lekas berdamai dengan semuanya, dengan serta merta aku mengunjungi sebuah toko buku; di mana ada berjuta kisah, berjuta cerita, juga banyaknya pola pikir yang menjelma dalam kalimat-kalimat sederhana, yang bermakna tak pernah sederhana, tercetak rapi pada buku-buku yang berdesakan memenuhi ruangan di gedung tiga lantai itu.

Membaca dan mencoba memahami apa yang kubaca, selalu mampu membuat hatiku lekas membaik. Perasaan yang harusnya tidak pernah ada, tiba-tiba menguap seketika. Melayang jauh, seperti balon udara yang lepas dari genggaman tangan mungil seorang bocah kecil, menatap takjub dan kemudian menangis tersedu saat menyadari balonnya jauh dari pandangan, lepas dari genggaman tangan.

Aku tidak berlebihan, memang seperti itulah faktanya. Membaca membuat tanya-tanya yang sempat ada, terjawabkan dengan cara sederhana, sangat sederhana malah. Hanya saja, terkadang aku memperumit semuanya dengan satu tanya; kenapa harus? 


 Dan, masihkah kau ingat? Kata yang disampaikan kepada Kekasih Allah, Muhammad SAW saat ia menerima mukjizat luar biasa dari Tuhannya, iqro’! Dan semuanya berawal dari satu kata itu. Maka sudah selayaknya lah kita mengawali segalanya dengan membaca; membaca dengan menyebut namaNya, membaca dengan berharap diberikan kecerahan hati olehNya, membaca dengan tujuan mendapati banyak hikmah atas izinNya.

Hai kamu, selamat membaca. :)

Kamis, 06 Maret 2014

Tetap Anak Ibunya

Seorang teman pernah berkata; "Anak laki-laki itu tetap anak laki-laki ibunya. Meskipun dia sudah menikah dan sudah menjadi Bapak dari anak-anaknya, dia tetaplah anak ibunya."

Saat itu aku hanya berkata, bukankah aku juga tetap anak ibuku, meski kelak aku jadi seorang ibu untuk anak-anakku. Lalu, apa bedanya?

Jelas beda Aci! Anak perempuan adalah 'milik' suaminya, ketika akad itu terucapkan, ketika jari tangan sang ayah telah menggenggam erat jemari laki-laki; yang beberapa waktu lagi akan menggantikan posisinya, yang dia titipkan anak perempuannya untuk dilindungi, dipimpin dan dibahagiakan.

Sedangkan sang ibu untuk anak laki-lakinya, tetap menjadi salah satu sayap bidadari yang akan menemani sang anak dalam kehidupannya, dulu, sekarang dan hingga nanti. Dan satu sayap lainnya lagi adalah sang istri.

Maka sudah sepantasnya sang ibu menjadi sangat selektif, saat berkenaan tentang calon istri anak laki-lakinya. Apakah perempuan ini bisa menjadi istri yang baik untuk anak laki-lakinya, apakah ia bisa melayani dengan sebaik-baiknya untuk sgala sesuatu yang dibutuhkan anak laki-lakinya, apakah ia bisa menjadi perempuan yang akan mendukung dan slalu setia membersamai anaknya, dan sejuta tanya lain yang ada dalam benaknya.

Sama halnya untuk sang ayah, akan begitu hati-hati saat meng-iya-kan permintaan untuk meminang anak gadisnya. Apakah laki-laki ini bisa membuat anak gadisnya bahagia, apakah ia bisa menjaga anak gadisnya sebaik penjagaannya selama ini, apakah ia menjamin tak akan membuat anak gadisnya terluka.


Tahukah kau, si anak laki-laki sang ibu. Aku akan lebih respect padamu, saat kau nantinya menjadi anak berbakti dengan mendengarkan kata-kata ibumu. Yang takkan melangkah jika ridhonya tak kunjung diberi. Daripada memaksakan kehendak hati. :)

(Akan) Baik-baik Saja

“Kau baik-baik saja?” Tanya seseorang melalui sebuah pesan singkatnya
“Aku (akan) baik-baik saja. :) ” Jawabku singkat


Ya, aku akan baik-baik saja. Tapi tidak untuk saat ini. Aku butuh waktu sedikit lebih banyak, agar semua benar-benar bisa baik-baik saja. Aku tau, hidup akan terus berjalan. Tapi tentang baik-baik saja atau tidak, menurutku itu lain persoalan. :)

Dan aku kembali tersadar, ternyata aku hanya anak manusia biasa. Yang bisa kecewa dan sakit hatinya. Kurasa aku pun berhak mendapat kesempatan yang sama, mendapat sedikit kelonggaran waktu untuk bisa kembali berdamai dengan hatiku sendiri.

Saat aku enggan keluar kamar dan malas berkegiatan. Ini bukan salah siapa-siapa. Aku hanya sedang mengajak hatiku agar bisa segera membaik, dengan caraku sendiri.

Saat mataku mulai meneteskan bulir-bulir beningnya, lalu kemudian aku menangis dengan terisak. Ini juga bukan salah siapa-siapa. Aku hanya ingin, semua yang menyesakkan hilang dengan begitu cepat. Agar nanti tak ada lagi yang tersisa atas apa yang di hati ini.

Untuk semua yang sempat ada, aku tak bisa serta merta melupakannya. Aku tidak sedang amnesia, yang bisa melupakan semua dengan baiknya dalam satu waktu yang sama. Setidaknya aku bisa menghilangkan rasa dan asa yang sempat ada di hati.

Dan aku kembali memahami satu hal, “Melakukan semaksimal mungkin yang kita bisa, tak cukup untuk membuat apa yang tak ditakdirkan Tuhan untuk kita; menjadi milik kita.” But in the end you’ll be happy to say; ‘at least, I try.’


Kelak, jika di waktu lain kita tak sengaja berpapasan. Ketahuilah aku akan baik-baik saja, benar-benar telah baik-baik saja. Maka, tak perlu menghindar ataupun pergi menjauh. Karena nyatanya kau memang sudah pergi, bukan? ^^v

Hari keenam di bulan Maret

Kamis, 20 Februari 2014

Sabar dan Syukur

Ada yang berkata, sejatinya sumber kebahagiaan itu hanya ada dua; 
"Jika diberi ia bersyukur; Jika diuji ia bersabar." 
Namun seringkali kaidah sederhana ini terlupakan.


Sesuatu bisa saja terlihat indah karena kita belum mengalaminya. Maka dari itu seburuk apapun kondisi yang dirasa, itulah yang paling pas buat kita. Pilihan Allah tak pernah salah. Pun semisal kondisi itu tak bisa diubah, maka kita masih bisa mengubah point of view kita terhadap kondisi tersebut.

Sabar & syukur. Hanya itu sebenarnya kunci ketenangan hati. Sabar pada setiap yang dirasa tak enak, syukur saat ada nikmatNya, sekecil apapun. Sebenarnya asalkan sudah bisa mengolah dua sikap itu, maka gak masalah seperti apapun garis hidup yang dicatatkan Allah. Masalahnya saat ini kita masih benar-benar belum bisa mengelolah kedua sikap itu. 

Masih suka sedih melihat kebahagiaan orang lain, masih suka lupa bersyukur pada nikmat-nikmatNya yang terhampar. Masih sering berkata sesuatu akan indah pada waktunya, yang secara tak langsung kita mengganggap hari ini tidak indah. Yang artinya kita lupa mensyukuri kondisi hari ini. Dan masih suka berandai-andai. Padahal itu adalah pintu masuknya setan.

Kadang sering berfikir, mungkin saja dengan ujian-ujian yang ada inilah kita bisa mendekat kepada Allah. Mungkin jika tidak ada ujian, kita lalai dan masih sibuk dengan hiruk pikuk duniawi, tidak sedikitpun memikirkan akhirat. Dan mungkin dengan ujian inilah yang menjadi penghubung kita dengan Allah.


Maka sudah selayaknya lah apa yang ada dalam kehidupan kita patut diiringi dengan sabar dan syukur. Bersabar saja jika saat ini ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai dengan harapan. Dan syukuri semua yang ada, dengan sebaik-baiknya kesyukuran. Tidak mengeluhkan apa yang tiada.

Karena bahagia itu adanya di hati, jika hati sering disibukkan dengan apa-apa yang tiada. Apakah ia masih memiliki cukup waktu untuk mensyukuri hal-hal yang sudah ada? :)

Source: #Obrolan34


Dan kita adalah pasangan sabar dan syukur.
Kamu harus bersabar karena memiliki saya.
Dan saya harus bersyukur karena memiliki kamu.
Iya, kamu. 
Orang-orang yang ada dalam kehidupan saya. :p

Jumat, 14 Februari 2014

Kabar Baik

Aku sedang menanti sebuah kabar,
kabar baik yang akan kudengar,
kabar dariNya dengan perantaraan dirinya...

Kabar baik?
Kabar gembira pastinya;
apakah kau akan mendapat sebuah penghargaan?
apakah kau memenangkan sebuah perlombaan?
apakah kau menemukan sebuah berlian?
ataukah kau akan menerima sebuah lamaran?

Ah, kau terlalu polos, kawan!
apakah kabar baik hanya berisi yang baik-baik,
apakah kabar baik hanya bercerita tentang kebahagiaan,
apakah kabar baik hanya datang bersamaan dengan keriangan...


Kabar apapun yang kelak kan kudengar,
ia tetap merupakan sebuah kabar baik,
kabar yang baik untukku, menurutNya,
bukankah Dia hanya akan menyampaikan yang baik-baik,
bukankah Dia hanya akan memberi yang terbaik...

Aku hanya meyakini satu hal;
apapun yang kan Dia sampaikan kelak,
itu adalah sebuah kabar baik,
Dia kabarkan padaku;
Hei kau, masih ingatkah;
obat pahit itu mampu menyembuhkan, 
dan kadang permen manis itu bisa menyakitkan...

Februari, hari ke empat belas

Selasa, 04 Februari 2014

Pintaku PadaNya, Tadi Malam

Allah, jadikan tiap harap agar tak berlebihan.
Agar setiap rasa slalu dalam kadarnya.
Agar setiap cita tetap dalam niatnya.
-Pesan si Kiki

Yah, aku bisikkan padaNya agar senantiasa menjagaku;
untuk niat yang lurus karenaNya,
untuk hati yang tak ternodai...

Mohon padaNya;
menjaga tiap ikhtiar ini bernaungkan barokahNya,
menjaga asa yang mulai melangit agar tetap menapak ke bumi,
agar kecewa jauh dari hati dan diri ini...


Rabb, aku tak meminta banyak.
Aku hanya ingin Engkau berikan aku;
hati yang slalu berserah pada tiap kuasaMu,
jiwa yang menghamba akan tiap ketetapanMu,
diri yang berpasrah pada do'a-do'a;
yang mohonkan Engkau beri yang terbaik untukku,
untuk duniaku, juga untuk akhiratku kelak...



-anak gadis ayah-

Selasa, 12 November 2013

Kepergian

Dalam hidup ini akan slalu ada (mereka) yang datang dan pergi, pergi untuk datang kembali ataupun pergi untuk tak kembali lagi.


Jika hari ini harus mengantar kepergian, ucapan apa yang harus kuucapkan. Sampai jumpa atau selamat jalan?

Andai tiap kepergian menitipkan pesan; akan adanya perpisahan panjang. Maka kan kuutarakan sgala yang tak sempat terucap, sudikah kiranya kau mendengarkan sejenak?

Duhai diri-diri yang kan beranjak pergi, layangkanlah pesanmu untukku pada do'a-do'a yang kau bisikkan. Rabb-ku kan sampaikan padaku, meski lidahmu telah kelu tak bersuara.

Mengiringi kepergianmu, kumohonkan agar Allah merahmatimu, meluaskan tempatmu di sana. Selamat jalan...

Sabtu, 21 September 2013

Jahat

katamu,
sikap terburuk yang dimiliki seorang teman adalah;
tidak senang melihat temannya bahagia.

mungkin aku termasuk teman yang jahat,
karena memiliki sikap seperti itu. 

entah kenapa, tiap kali melihatmu tersenyum dan bahagia.
aku terluka.

aku jahat ya?

lama aku mencari tahu,
dan akhirnya aku menemukan sesuatu.

aku bukannya tidak senang melihatmu bahagia, kawan.
aku hanya merasa agak terluka,
jika bahagiamu itu bukan aku yang jadi alasannya.

ini iri atau cemburu yah? ^^

Minggu, 01 September 2013

Bulan Baru

Hai, September?!

Katanya,
bulan-bulan yang berakhiran -ber
adalah bulan-bulan di mana hujan turun
dengan seringnya.

Kau tau bukan,
aku suka hujan di atas kesukaanku,
akan hal-hal manis tentang semesta ini.

Hujan adalah temanku,
menatap ke langit dengan sengaja,
menengadahkan tangan
untuk merasakan rintiknya berjatuhan,
lalu berkata kepada Tuhan,
sampaikan salam yang tak pernah kusampaikan;
pada dia, pada mereka juga pada langit biru.

September, please be nice to me.

-gadis berpayung ungu-

Senin, 26 Agustus 2013

Hari Bahagianya

Seseorang pernah berkata, "Kita sibuk membantu orang-orang yang dekat dengan kita mempersiapkan sgala keperluan pernikahannya, eh pas nanti kita mau nikah, dianya malah gak bisa bantu apa-apa, karena udah pergi jauh atau mungkin sudah sibuk dengan dunianya sendiri."

Lalu seseorang lainnya menimpali, "Makanya luruskan niat saat berbuat, apapun itu dan dalam hal apapun juga. Niat yang lurus bermuara dan berujung pada Allah, maka ridhoNya juga rahmatNya akan mengiringi di tiap waktu dan langkah kita saat kita berbuat."


Dan akupun berpikir, adalah menyenangkan bisa membantu seseorang menyiapkan ini dan itu, membahas ini dan itu seputar 'Hari Perayaan Cintanya'. Meski kadang suka ikutan pusing dan capek, tapi kalo melihat senyum bahagia dan wajah yang penuh rasa syukur (karna memiliki kita dalam hidupnya), semua kepenatan itu serasa hilang seketika. :)

Lagian juga, kenapa harus berharap pada 'makhluk' untuk membalas apa yang udah kita lakukan. Meskipun mereka bisa membalas, balasan itupun seringnya tidak seperti apa yang kita harapkan. Karena manusia hanyalah insan yang slalu nampak salah dan kurang dalam pandangan manusia lainnya.

Berharap saja, Allah akan memberikan kita balasan dari apa yang telah kita lakukan. Bukankah balasan yang Allah berikan akan jauh berkali-kali lipat dari apa yang pernah kita lakukan, kepada orang lain. Mungkin bukan orang yang kita bantu yang akan membantu kita di saat kita butuh bantuannya, tapi orang lain, orang lain yang jauh lebih bisa membantu kita di saat yang tepat.


Yak, bulan-bulan ini lagi ikutan rempong ngebantu pernikahan ayukku tersayang. Dari awal proses; tukar data, ta'aruf pribadi, ta'aruf keluarga, bahas tentang mahar, lamaran, akad juga resepsi. Semuanya kita bahas sama-sama.

Kadang suka mikir, ini ayuk nanya ini dan itu sama aku, kaya akunya udah pengalaman ajah. Padahal kan aku belum pernah ngalamin proses itu sekalipun, pengetahuan tentang pernak-pernik pernikahan itu didapet dari buku, artikel juga pengalaman bantu temen-temen yang udah nikah. Cuma itu. Apa gak takut yak kalo jadi 'sesat' gara-gara aku, HaHaHa. >,<

Rabu, 21 Agustus 2013

Terjatuh...

Jika tak pandai-pandai memperhatikan langkah saat berjalan, jika tak hati-hati mengatur kendaraan saat melaju, jika tak kuat-kuat kaki menopang beban, kau akan terjatuh, jatuh.

Jatuh adalah peristiwa di mana kau tak bisa merencanakan kapan dan di mana kau akan menjatuhkan dirimu, pada tempat seperti apa dirimu akan terjatuh, kau takkan pernah tau. Karena hal itu bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan, bukan sesuatu yang terjadi dengan kesengajaan.

Kau mungkin berjalan dengan penuh kehati-hatian, dengan tatapan yang tak henti melihat ke sekitarmu, menjaga dengan sangat ketat agar kau takkan terjatuh. Tapi, jika kau harus jatuh, kau tetap akan jatuh. Seketat apapun kau menjaganya, sehati-hati apapun kau melangkahkan kakimu.

*serius amat sih gue*


Yah, intinya pas liburan kemarin aku dan seorang teman perjalananku terjatuh di Perbatasan Gunung Dempo ke Puncak. Itu karena kakiku gak cukup panjang untuk bisa menapakkan dirinya ke jalan, karena kebetulan motor yang kami naiki itu agak tinggi dan berada di pinggiran aspal. Jatoh deh, -___-"

Sumpah, malu gilak aku di sana. Huaaa, rasanya mau sembunyiin ini muka ke balik gunung. Biar gak ada yang ngenalin, hikzzz. Ditambah pas jatuh itu aku dan temenku itu ditolongin sama orang-orang di sekitar tempat itu, dan rata-rata mereka itu laki-laki. Ada adek-adek ikhwannya juga, ikut ngebantu pula. Cobalah yah mereka itu pura-pura gak tau aja, saya kan jadi maluuuu. >,<

Jadi sepanjang perjalanan di sana, ada satu adek ikhwan yang ngeledekin mulu, 'hati-hati Mb Aci, nanti jatuh lagi. hahaha' | Iiiiih, rasanya mau dilempar pake sandal tuh anak. Saya kan jadi gak leluasa mau ke pinggir-pinggir, karena diteriakin kalimat itu terus. -___-"

-selesai-


Andai orang-orang mau sedikit berfikir, di dunia ini mana ada sih orang yang ingin terjatuh dan mengalami luka atas dirinya. Semua terjadi tanpa sengaja, tanpa bisa kita mengulang kembali waktu agar kejadian itu tidak terjadi. Yang terbaik hanyalah berupaya sebisa mungkin untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama, terjatuh pada tempat yang sama, merasakan sakit karena perkara yang sama. Ini dalam hal apapun. :)

[sedikit] Tentang Liburanku

Berawal dari bincang-bincang singkat saat i'tikaf, bersama seorang teman kampus yang tinggalnya di Kota PagarAlam. Fauza namanya, dia kebetulan sedang main ke Palembang dan menyempatkan diri ikut i'tikaf. Kita kaya lagi reuni gitu deh, banyak temen lama yang juga ada di masjid itu. Seru lah. Tapi ya itu, tilawahnya banyak diganti sama ngobrol-ngobrol, kita ngobrolnya di teras masjid tapinya loh.

Nah dia ini nawarin buat liburan ke tempatnya, kontan saja aku langsung kegirangan. Karena rencana buat liburan selalu gagal dan gagal. Ada ajah halangan yang ngebuat aku harus ngebatalin rencana liburanku. >,<

Di sana juga ada beberapa adik tingkat yang tertarik untuk ikutan. Dan kita mulai deh ngerencanain ini dan itu. Hmm, jujur aja sih aku gak begitu yakin kalo rencana ini akan berakhir dengan baik. Hehe..

Aku ngajakin si Dwi buat ikutan, tapi aku tau kemungkinan dia untuk ikut hanya 10% persen saja. Dia agak susah dapet izin pergi-pergi jauh dari orang tuanya. Makanya gak terlalu berharap banyak kalo dia bisa ikutan.

H-1 rencana kepergianku, tapi masih gak ada kabar apapun. Ini alamat gak bakal jadi lagi, pikirku. Eh iseng-iseng buka facebook, ternyata adik tingkatku itu ngetag aku di statusnya. Dia beneran bisa ikut ternyata, juga dua temannya yang lain. Aaaaah, love yu love yu love yu dehhh. :*


Aku langsung heboh ngehubungin temenku di Pagar Alam, pesen kursi bus, nyiapin ini dan itu. Yang jelas hal yang paling ribet itu nyiapin pakaian selama di sana, tau sendiri akhwat itu paling ribet. Harus bawa baju/gamis, rok, jilbab, lapisan jilbab, jilbab instan (bergo), kaos kaki, manset, dan yang lain-lainnya.

Dan, taraaaa! Tanggal 12 Agustus aku sama tiga adik tingkatku akhirnya berangkat jalan-jalan, kita berempat naik bus, duduk paling depan dan paling heboh pokoknya. Hahaha..

Ini pertama kali aku pergi berlibur dengan orang-orang yang gak begitu akrab denganku. Karena sebenernya aku itu baru lumayan akrab dengan adik-adik ini sejak i'tikaf beberapa malam terakhir Ramadhan, nomer hapenya ajah aku belum punya. Dan merasa ada yang agak janggal, masa iya aku liburan sama bocah-bocah ini. Apa aku udah gak punya temen lain yang seusia yak?! >,<

Tapi, semua gak jadi masalah. Selama di sana, kita beneran bisa menikmati liburan kita. Bersama mereka, sangat menyenangkan. Jalan-jalan ke Gunung, bukan sampe puncaknya tapi. Kita naik motor ke sana, pinjem motornya Fauza. Subhanallah, view nya keren banget. Ada perkebunan teh yang menghijau di pelataran kaki gunung, jalanan yang berliku serupa ular raksasa yang melingkari Gunung Dempo. Fabiayyi alaaa irobbikuma tukadziban. Coba ada kamu, pasti makin seru. :p



Kita juga mampir ke Air Terjun, ada dua air terjun yang kita datangi. Waktu ke sananya seru banget, eh pas mau pulangnya sungguh tidak menyenangkan. Aku dan temen-temen harus menaiki ratusan anak tangga yang tingginya gak kira-kira, menurut aku sih. Yang jelas sesampainya di atas, kita udah kaya lari berapa kilometer aja. Ini kaki pada pegel semua, beneran. -__-"


Walaupun kaya gitu, kita tetep seneng kok bisa berkesempatan berkunjung ke sana. Airnya itu loh, dingin gilak. Aaaah, pokoknya gak kapok deh main ke sana. Mandi di sungai, siram-siraman, terus makan siang di bebatuan.


Next time, ke mana lagi kita???

Selasa, 20 Agustus 2013

Buku Kecil


Cobalah untuk menuliskan apa saja yang melintas dalam pikiranmu atau sesuatu yang kau temukan tanpa sengaja, pada sebuah buku kecil. Saat kau dalam perjalanan, berada dalam antrian, menunggu dalam kebosanan. Apapun itu, kata-kata manis, kalimat puitis, atau hanya sebuah tanya yang kau sendiri tak tau jawabnya apa.

Kadang banyak hal manis yang terlewatkan, karena kau lupa menuliskannya. Memorimu untuk mengingat, terlalu sering digunakan untuk mengingat hal yang itu lagi itu lagi. Hingga beberapa ingatan yang cukup penting harus terlewatkan. :)

Selasa, 25 Juni 2013

Apa Kabar?

Mungkin hanya sebuah sapaan pembuka bagi seseorang ke orang lainnya. Bisa dibilang juga sih itu pertanyaan basa basi, yang kadang gak terlalu membutuhkan jawaban, apalagi kalo orang itu ada di hadapan kita. Tampak sehat, baik-baik saja, dan masih sama seperti yang dulu.

Tapi, kau tau? Apa kabar sejatinya adalah ungkapan lain dari kalimat 'aku rindu', katanya seperti itu. Yah, ada yang bilang 'apa kabar' hanya sebuah kalimat ganti dari sebuah kerinduan. Aku juga gak tau pasti, apa kah tiap 'apa kabar' dari seseorang slalu diasumsikan sebagai pernyataan rindu, dari orang tersebut. Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. :)

Kadang ada beberapa orang yang jarang sekali bisa ditemui, hanya bisa menyaksikannya lewat gemerlapnya dunia maya. Cukup tau saja, dia masih ada, masih sehat, sepertinya masih baik-baik saja. Lalu kemudian tak ada pesan ataupun panggilan yang ditujukan untuknya, meski hanya untuk bertanya 'apa kabar?'

Namun seringnya aku mendapat tanya itu justru dari orang yang kerap kali berkomunikasi denganku, melakukan interaksi yang cukup intens. Teman dekat, sahabat, teman lama, ataupun keluarga. Mereka sering menyampaikan tanya itu, kepadaku, "apa kabar Aciii? lagi apa oi?"

Padahal yah orang yang nanya itu, baru juga tiga hari yang lalu ketemu dan makan es krim bareng. Makanya aku bilang, sebenernya dia itu lagi kangen sama akunya. Jadi sok-sok-an deh nanya kabar segala, padahal kalo akunya sakit, dia juga mungkin orang pertama yang dikasih tau. :p

Yap. Mungkin karena manusia emang insan yang paling gengsian buat nyatain perasaan yang ada di hati, mau bilang "aku kangen" rasanya gak mungkin deh. Pasti akan jadi aneh dan akan ada banyak pertanyaan lain yang akan dilontarkan, "ada apa? lagi kumat yak? atau salah makan?" =))

Apapun itu deh, yang jelas kalo ada yang nanya kabar, berarti orang itu peduli sama kita. Tapi, kudu hati-hati juga, siapa tau yang nanya kabar itu orang yang pernah kita janjikan sesuatu, yang mungkin janji itu kita abaikan dan terlupakan deh. Jadinya, dia nanya kabar, supaya kamunya inget. Gituh. Nah loh! :p


Btw apa kabar, kamu?

Senin, 24 Juni 2013

Remedi

"Ujian hidup itu sama seperti ujian di sekolah, kalo kita gak lulus di satu mata pelajaran, maka akan diulang lagi ujiannya, diulang lagi dan diulang lagi sampai kita lulus." katanya di suatu petang

Jadi, kalo kamunya ngerasa suatu masalah itu gak selesai-selesai, kenapa kamu slalu ada dalam lingkup permasalahan yang itu lagi, itu lagi. Rasanya bosan yah ngadepin hal yang sama dalam waktu yang relatif lama.

Yah, mungkin saja justru itu ujian buat kamu. Diminta bersabar, lebih lama. Dalam menghadapi ujian yang sama, sampai kamunya bisa beneran lulus ujian tersebut.

Tapi, kamu harus inget. Kalo ujian itu udah berhasil kamu lewati, di depanmu akan ada banyak lagi ujian-ujian yang mungkin jauh lebih sulit dari yang sebelumnya.

Jelas donk! Kan udah naik tingkatan, masalah-masalah yang ada otomatis akan semakin complicated. Kuncinya harus SABAR dalam menjalani tiap persoalan hidup yang menghampiri, *tsaaaah | gaya banget deh gue, :))

Teman Cerita

"Seringnya yah kita bicara panjang lebar, eh orang yang diajak bicara responnya singkat bahkan gak ada tanggapan. Namanya juga hidup..."

"Barangkali kitanya juga pernah seperti itu. Di suatu waktu, yang entah kapan, kita mungkin sudah lupa..."

-@AciDesii
Itu adalah dua twit yang aku poskan, sebenernya karena kemarin itu lagi ngobrol sama orang. Eh responnya malah datar banget, gak ada tanggapan lebih tepatnya. Padahal aku itu beneran lagi pengen cerita, yah mungkin orangnya lagi sibuk kali ya. Jadinya responnya gitu. Entahlah,...

Aku itu dibilang suka cerita, iya. Tapi dibilang jarang cerita, juga iya. Kadang banyak hal yang ingin dibagi, diceritakan ke orang lain, orang terdekat tentunya, tapi mereka sepertinya juga punya hal-hal yang ingin dibagikan. Jadinya kadang niat cerita itu hilang, karena diminta untuk mendengarkan cerita mereka.

Dan, mungkin memang gak seharusnya mengharap orang slalu bisa menjadi pendengar untuk tiap cerita yang menurut kita adalah sebuah hal yang menarik untuk dibahas dengan seseorang. Karena mungkin bagi orang itu, sesuatu yang tidak berkenaan dengannya bukan sebuah hal yang menarik. *eh, kok aku jadi suudzhon yah. :D

Makanya lebih suka cerita ke blog, yang inginnya dibicarakan jadi lebih enak jika dituliskan saja. Tidak mengharap ada yang membaca, kalau pun ada yang membaca, itu atas kerelaan mereka sendiri. Setidaknya aku merasa didengarkan, meski hanya sebuah layar yang tak bisa diajak berkomunikasi.

Dulu pernah nonton drama Korea, di mana salah satu peran di dalamnya adalah seorang gadis yang lebih suka membaca dan menonton. Dia tidak memiliki banyak teman, dia tidak bergaul dengan orang di luar rumahnya.

Kenapa dia memilih membaca dan menonton, karena permasalahan yang ada dalam buku atau film tidak akan berpengaruh dalam hidupnya. Mereka yang merasakan konflik di sana, hanya untuk disaksikan dalam bentuk ditonton dan dibaca. Dan dia menemui kebahagiaannya sendiri dari apa yang disukainya.

Aku tidak separah itu tapinya. Tapi, salah satu alasan aku suka membaca novel ataupun menonton sepertinya sama dengan alasan gadis itu. Di novel atau film, banyak hal yang kadang tidak ditemui dalam kehidupan. Merasa hidup ini sangat berwarna, apalagi kalo habis nonton drama lucu, mood jadi baik banget sampe berminggu-minggu. Begitu juga kalo baca novel yang endingnya sedih, moodku bisa buruk selama beberapa waktu. Rasanya pengen banget bilang ke penulisnya untuk ngeganti endingnya, hahaha.

Yah, aku merasa menulis di sini ataupun di beberapa tempat yang aku rahasiakan adalah salah satu cara agar aku tidak jadi stress, karena tidak bisa mengeluarkan hal-hal yang seharusnya tidak pernah ada dalam pikiran apalagi jika harus menetap lama di sana.

Tapi gak semua yang dituliskan di blog itu adalah cerita tentang aku, tentang apa yang aku rasakan, atau apa yang aku inginkan. Kadang suka nulis asal-asalan, sesuatu yang mungkin aku dapatkan dari membaca, mendengar juga menonton. Jadi gak semua tulisanku itu berkisah tentang akunya, karena banyak juga cerita tentang kamunya loh. *uhuk =))

Minggu, 23 Juni 2013

Menyapa Pagi


hai pagi,
Tuhan masih memberi kita kesempatan bertemu kembali,
kau masih tetap sama,
membawa sepercik aroma kesejukan untuk jiwa yang gersang,
segenggam harapan untuk dia yang tak putus menguntai asa,
secawan ketenangan untuk hati yang gundah gulana,
juga sekotak semangat untuk dia yang kan melangkah maju.

terima kasih Tuhan,
untuk hari baru yang kau berikan,
pada hamba yang berlumur akan kesalahan,
pada hamba yang jarang bersyukur atas tiap kenikmatan,
kumohon, untuk hari ini sertai langkahku dengan keberkahan,
naungi tiap gerakku dengan keridhoan,
agar kelak kan kudapati Engkau menatapku dengan senyuman.

Senin, 17 Juni 2013

Untuk Dimengerti

Ada seorang gadis kecil, bermanja-manja di pangkuan seorang pria paruh baya. Memain-maikan tangan yang dulunya kekar, dan kini mulai tampak menua. Lalu memegang wajahnya agar didengarkan apa yang ingin dia katakan, wajah yang tak pernah berubah, wajah seorang ayah yang syarat akan pengalaman hidup.

Kusaksikan pemandangan itu tepat di depanku. Aku harusnya bersikap seperti apa? Ikut dalam adegan kebahagiaan itu atau memilih mundur ke belakang, menyadarkan diri bahwa ia adalah 'milik'nya juga. Dan tetap memasang wajah bahagia di hadapan yang lainnya, yang sedari tadi asyik berbisik-bisik membicarakan tentang apa yang tengah terjadi.

Ah, ternyata aku memang hanya seorang anak manusia biasa. Ada hati yang juga ingin dimengerti, bahwa aku juga bagian darinya. Akupun layak mendapat perlakuan yang sama, bukan terus-terusan mengerti akan semua kondisi yang ada saat ini.

Dan tiba-tiba ada suara di dalam kepala yang meronta-ronta ingin dikeluarkan, "Hei, dia itu ayahku. Jauh sebelum mamamu mengenalnya, dia adalah ayahku. Bisakah kau mengerti ini?"

Dasar gadis bodoh, dia hanya anak kecil yang tak tau apa-apa. Yang dia tau bahwa kau adalah seseorang yang slalu mau menemaninya bermain, dan seseorang yang dipanggil 'mba' olehnya. Dia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang tengah berkecamuk di dalam kepala maupun hatimu.

Maka, kaulah yang harusnya mengerti. Kau pula yang harus memahami bahwa ini sudah menjadi bagian dari skenario dariNya untukmu, mainkan saja peranmu dengan baik. Biar Dia saja yang kan menilai. Karena tidak semua yang terjadi dalam hidup ini mendapatkan penjelasan, karena sebagian darinya ada hanya untuk dimengerti.


*ditulis dengan berlatar cerita seseorang

Minggu, 16 Juni 2013

Coretan Iseng

"Kenapa? Dadamu sakit?"

"Bingkai harapan yang dia hancurkan itu, aku sertakan hatiku di dalamnya. 
Hatiku patah, pecah seperti bingkai kaca itu."


Hatimu tak pernah patah, karena ia tak terbuat dari kayu ataupun sejenisnya.
Hatimu tak pernah pecah, karena ia juga tak terbuat dari kaca ataupun kristal.
Hatimu hanya terluka, karena ia terbuat dari segumpal daging di dalam tubuh.

Lalu, kenapa saat hati terluka, yang mengalir adalah air mata, bukannya darah.
Harusnya jika ia terluka, ia akan berdarah karena tercipta dari segumpal daging.