Tampilkan postingan dengan label repost. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label repost. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Ada di Langit

Aku tinggal dibumi. Tapi, carilah aku di langit. Sebab aku tertahan diantara bintang-bintang. Kau jemput aku dengan doa-doa setelah shalatmu. Kau tengadahkan tanganmu atau bersujud, berdoalah untuk memintaku. Aku tertahan dan garis batas yang membentang diantara kita selebar langit dan bumi.  
Aku tinggal di bumi, tapi carilah aku dilangit. Di sepertiga malammu saat Tuhan turun ke langit bumi. Mintalah aku yang berada di genggaman tangan-Nya. Percuma mencariku di bumi, sebab kunci itu ada d langit. Kunci yang akan menghapus garis batas diantara kita. Mengubah garis yang tadinya neraka, menjadi surga. 
Aku berada di tempat yang tidak bisa kau temui di bumi. Tapi kau bisa menemuiku di langit, meski bukan wujud kita yang bertemu. Melainkan doa-doa kita yang menggetarkan singgasana-Nya. Temukan aku di langit, didalam doa-doa panjangmu. Didalam harapanmu. 
Meski kita tidak saling tahu nama, tidak saling tahu rupa. Jemputlah aku dilangit. Sebab aku tahu, kau mengenalku bukan karena nama dan rupa. Doa kita telah bertemu sebelum fisik kita.  
Mudah bagi-Nya membuat kita kemudian bertemu. Tidak hanya bertemu namun juga disatukan. Sebagaimana doa-doa yang sebelumnya telah kita panjatkan.
Pertemuan kita yang pertama berada di langit, kan? Sekarang kau tahu, mengapa aku memintamu mencariku di langit? 
- Kurniawan Gunadi -

Adalah sesuatu yang berharga, diberi kesempatan untuk bisa membaca karya-karya manis dari orang-orang keren, seperti Mas Gun ini. Tulisannya tidak terlalu nyastra seperti penulis kebanyakan, tapi justru itu, saya suka tipe tulisan seperti ini. Sederhana, tapi mengena. Andai bisa menulis sekeren itu, alangkah menyenangkannya. :)

Rabu, 22 Januari 2014

Quote

"Tidakkah kita menyadari bahwa dalam setiap skenario hidup, Allah tak menelantarkan kita dengan teka-teki tanpa petunjuk-Nya? Dia hadirkan sinyal-sinyal cinta-Nya untuk mengantarkan keyakinan dalam setiap hal yang kita putuskan."

-Fu, JDA page 195

Jumat, 30 Agustus 2013

#TumblrQuote


Aku, Kamu dan Kita

"Kehadiranmu menguji ketaatanku, kehadiranku menguji keimananmu. Aku ujian bagimu, dan kamu ujian bagiku." - @pewski

Begitu seterusnya cara Tuhan, memantaskan aku dan kamu untuk semua urusan, terlebih soal hati.

Dia menjaraki aku dan kamu, menjadikan kita sepasang insan yang tak saling menyapa. Hingga jemariNya menyatuhkan kita dalam genggaman keridhoanNya, aku dan kamu akan menjadi 'kita' dalam sebuah taman indah yang Dia suka.

Baik-baiklah di sana, di tempat yang tak ku tahu di mana.

Untuk seseorang, yang slalu hadir dalam do'a-do'a yang tak bernama; kamu.


Agustus, hari ke tiga puluh

-perempuan berkerudung hitam-

Sabtu, 24 Agustus 2013

#AwasPHP

  • PHP itu adalah Pemberi Harapan Palsu. Suka tepe tepe sama lain jenis dan dijanjiin nikah. Tapi palsu #AwasPHP 
  • PHP biasanya terjadi karena si akhwat lugu, dan si ikhwan belagu #AwasPHP 
  • Karena keseringan komunikasi atas nama dakwah, lalu muncul sebuah celah. Akhirnya lengah. Imannya terluka #AwasPHP 
  • Siapa yang salah? Dua duanya salah. Ikhwan kepedean, si akhwat mudah percaya #AwasPHP
  • Penyebabnya apa? Karena kurang tsiqah sama Allah. Janji manusia dianggap luar biasa #AwasPHP 
  • Penyebabnya apa? Karena takut kehilangan dia, yang sudah telanjur nyangkut di tiang jemuran hati kita. #AwasPHP 
  • Penyebabnya apa? Karena kurang yakin sama Allah. Ngerasa pilihannya itu sudah paling luar biasa. #AwasPHP 
  • Penyebabnya apa? Karena ikhwan merasa boleh main kapling hati seenaknya. Dan si akhwat mempersilahkannya #AwasPHP 
  • Maka kalau sudah mulai terasa ada celah menganga di hati, segera istighfar sebagai penutup lobangnya #AwasPHP 
  • Tapi kalau nekad dibiarkan masuk rasa itu, dua duanya bisa saling menikmatinya. PHP dimulai! #AwasPHP 
  • Ironisnya, Ikhwan hanya tebar janji. Tanpa bukti. Akhwat setia menunggu di kursi. Pegel deh! #AwasPHP 
  • Sehingga ladang dakwah ternodai. Berganti dengan ladang kapling hati. Siapa mengapling siapa #AwasPHP 
  • Lagian hati dikapling, gimana pasang patoknya. Dijual atau dikontrakkan? #AwasPHP 
  • Gara gara PHP fitnah merajalela. Aktivis tercoreng muka. Pelaku satu dua, yang lain kena getahnya #AwasPHP 
  • Gara gara PHP, Jodoh yang datang melamar harus tertolak oleh janji yang sudah dipasang. Menunggu yang tidak pernah datang #AwasPHP 
  • Kenapa pria melakukan PHP. Karena dia butuh banyak cadangan. Bila dengan ini gagal bisa dengan cadangan berikutnya #AwasPHP 
  • Mengapa wanita mau diPHP in. Karena kalau sudah percaya, wanita rela menanti sampai kapan saja #AwasPHP 
  • PHP inilah yang bikin GALAU yang suka membuat ikhwan dan akhwat meracau. Niat dakwahnya menjadi kacau. #AwasPHP 
  • PHP ini menyiksa pelakunya. Sudah cinta tapi tidak segera dihalalkan. Hanya makan janji berbulan bulan #AwasPHP 
  • Bagi lelaki mudah dia berjanji. Tapi bagi si akhwat janji itu adalah pegangan terakhirnya #AwasPHP 
  • PHP membuat hati lelah. Lelah menunggu orang yang ga pernah berniat datang menghampiri. #AwasPHP 
  • PHP membuat nyesek. Menanti orang yang tidak pernah berpikir akan datang menikahi #AwasPHP 
  • PHP dahsyat, bisa merobek robek kehormatan. Mengusutkan jenggot ikhwan dan membubarkan kain panjang jilbab perempuan #AwasPHP 
  • PHP itu nagih. Saat ngerasa bisa ngasih Janji, setiap ada yang cakep dikasih janji dinikahi #AwasPHP 
  • PHP harus diperangi. Ingatkan ikhwan akhwat yang terlena oleh dosa dan kemaksiatan jenis ini #AwasPHP 
  • PHP hanya malah mengotori hati. Hati yang harusnya perawan, menjadi ternoda oleh janji manis seorang ikhwan. #AwasPHP 
  • Korban PHP sudah banyak, tapi anehnya masih saja ada akhwat yang mau ngantri #AwasPHP 
  • Banyak yang rela menggalau. Hanya karena takut kehilangan dia yang super berkilau.#AwasPHP 
  • Jadi kalau kamu pelaku PHP, segeralah selamatkan hatimu. Back to Allah is the best Answer #AwasPHP
Ust. Burhan Sodiq @burhansodiq

Senin, 22 April 2013

Untukmu yang Biasa Saja


aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja,
yang dengan rela mampu membakar ego saat Dewinya sedang terluka.
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja,
yang mampu menyeka keringatku saat sakit menyiksa raga.
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja,
yang di tubuhnya terbaca sikap-sikap lembut namun tetap perkasa.
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja,
yang saat letih kurasa, ia akan berkata ‘kamu tak sendiri, aku ada’
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja,
yang tidak akan pergi saat kesalahan mungkin terjadi berulang kali,
yang mampu mendeskripsikan cinta sebagai wujud pemaafan darinya.
aku meminta pada Tuhan, seorang yg biasa saja,
sebagai pelengkap hidupku yang juga tak sempurna,
agar bahagia, agar tenang kurasa.
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja,
yang juga meminta pada Tuhan untuk seorang yang biasa saja.
seperti aku, seperti dia.

- Tia Setiawati Priatna

Kamis, 18 April 2013

Why Do We Need Friend?


We need friends for many reasons,
all throughout the four seasons...

We need friends to comfort us,
when we are sad,
and to have fun with us when we are glad...

We need friends to give us good advices,
we need someone we can count on to treat us nice...

We need friends to remember us,
once we have passed, sharing memories that will always last

[Repost: laninalathifa]

Jumat, 05 April 2013

Kita Berjalan Pada Ketidaksengajaan

Pada waktu-waktu yang tak pernah kita duga,
kita akan berjalan biasa-biasa saja,
santai,
seolah tak ada apa-apa.
Lalu akan sangat mungkin,
kau bertemu aku,
pertama kali,
lewat kehadiran raga, suara,
ataupun kata-kata dalam keindahan bahasa.
Kemudian,
tanpa kau duga,
kau akan jatuh cinta,
dan kau merasa
: tak penting apakah aku merasa yang sama.

Kupikir-pikir,
kita semua selalu berjalan pada ketidaksengajaan,
tak mengira akan ada cinta,
tak menduga akan ada hal istimewa
melalui perjumpaan sederhana.
Namun ketahuilah,
bahkan hal paling sederhana sekali pun,
tak akan luput dari rencana Tuhan,
: Sang Penguasa Semesta.

Tia Setiawati Priatna

Saya suka tulisan ini, suka sekali. Bukan karena kenapa-napa sih, hanya saja tulisannya itu sederhana tapi begitu berkesan. Manis. Yah, anggap saja saya mau ngarsipin buat my future husband, :p | Siapa ya orang yang kelilipan itu, hahaha *plakss*

Minggu, 11 November 2012

Pertanyaan Yang Tepat

Habis blog walking, banyak membaca tulisan-tulisan keren dari orang-orang yang juga keren. Jujur, kadang tiap baca blog seseorang, aku ngerasa minder, mereka kok bisa yah buat tulisan keren gitu? Kata temenku sih, ini tentang Jam Terbang, kawan. Semakin banyak membaca, banyak melihat, banyak mendengar, akan semakin banyak hal juga untuk ditulis, maka semuanya akan terbiasa nantinya. :)

Aku mau repost tulisan dari Ukhti Lanina Lathifa, Pertanyaan Yang Tepat

Mendapat kabar teman dekat akan menikah itu sesuatu ya. Sungguh sesuatu. Seolah-olah saya disodorkan pertanyaan besar, “Kamu kapan?” Padahal dia sendiri tak pernah melontarkan pertanyaan demikian.
“Ukht, insyaAlloh saya akan dikhitbah…”
Selalu speechless campur haru campur bahagia campur-campur lah pokoknya, tiap kali curhatan seperti ini mendarat di telinga.
Kenapa speechless? Karena dia sepantaran dengan saya. Berarti jelas kesiapannya di atas saya. Kematangannya (segala sesuatunya) selangkah atau bahkan beberapa langkah mendahului saya.
Kenapa haru? Sebab ketika seorang wanita dikhitbah (dipinang) oleh seorang laki-laki pilihan-Nya, itu artinya ia akan bergantian “mengabdikan” diri kepada seorang lelaki yang dulu teramat asing baginya. Dulu, gadis itu hanyalah seorang anak perempuan ayah. Sebelumnya, gadis itu hanyalah seorang anak perempuan yang sangat merajuk kepada ayah. Dulu, gadis itu adalah perempuan yang sangat dicemburui ayah jika berdekatan dengan lelaki asing. Dulu, gadis itu adalah perempuan yang sangat dikhawatirkan ayah. Dulu, sebelum lelaki asing pilihan-Nya itu datang meminta ijin sang ayah untuk menggenggam separuh hati gadisnya. Dulu, sebelum lelaki asing yang ditunjuk-Nya itu datang untuk meminta ijin bergantian menjaga gadisnya.
Kemudian kenapa bahagia? Jelas. Karena perempuan yang lusa akan dipinang itu adalah sahabat, saudara, sekaligus separuh hati tempat saya berbagi cerita.
Sekali lagi, ini bukan masalah, “Saya kapan?” Sebab sungguh, pernikahan benar-benar bukan sebuah perkara yang bisa digesakan. Pernikahan bukan perkara balapan, saingan, bahkan saling adu percepatan.
Jika dia mendahului saya, ini sama sekali tidak berarti “Saya kalah cepat.” Sebab, menikah hanya menuntut kita siap. Jadi pertanyaan yang tepat adalah, “Sudahkah saya siap jika suatu ketika lelaki pilihan-Nya itu datang meminang?”
Pertanyaan yang tepat adalah, “Sampai dimana persiapan dan kesiapan saya?”
Pertanyaan yang tepat adalah, “Sudahkah saya siap menanggalkan status gadis menjadi seorang istri dengan segala konsekuensinya?”
“Sudahkah saya siap berganti amanah, dari yang dulu seorang perempuan ayah, kemudian kini menjadi seorang perempuan suami penjaga keharmonisan rumah?”
“Sudahkah saya siap menghabiskan sisa waktu sebagai perempuan yang bersanding dengan lelaki yang menjadi tulang punggung masa depannya?”
Pertanyaan yang tepat, “Sudahkah saya siap?”
Kepada-Nya yang menetapkan segala sesuatu berpasangan, Kepada-Nya yang menakdirkan Hawa bersanding dengan Adam, aku minta dimampukan untuk merasa siap pada saat yang telah Engkau tetapkan. :’)

Kenapa aku repost tulisan ini? Karena aku juga sedang dalam situasi ini, temen deketku 4 hari lagi akan menikah. Orang-orang di sekitar seakan kompakkan menanyakan hal ini, "Kapan nyusul?"

Dan, aku pun bertanya, pada diriku, "Sudahkah kamu siap Ci?"

Rabu, 24 Oktober 2012

Manis #Repost


Cinta adalah separuh aku separuh kamu. Dan diantaranya terdapat serabut doa, yang kita panjatkan untuk masing-masing kita; setiap harinya.
-Tia Setiawati Priatna-

Senin, 22 Oktober 2012

Special #Repost


“Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli; laksana mutiara yang tersimpan baik.” (Terjemah Al Qur-an surat Al-Waqi’ah ayat 22-23)

Perihal bidadari bermata jeli dan terjaga seperti mutiara yang tersimpan baik ini, dibahas beberapa kali di dalam Al-Qur’an, salah satunya juga di surat Ath-Thuur. Bagaimana dengan manusia? Apapun yang spesial tentunya yang tidak dilihat orang banyak, dijaga, dapat perlakuan istimewa, sehingga menjadi terasa beda dalam makna kebaikan, lebih baik ataupun terbaik. Saat dirimu bukanlah bidadari surga, kenapa tidak menjadi manusia spesial yang terjaga?

Repost dari http://blogiseng.tumblr.com/

Minggu, 23 September 2012

Sanguinis-Phlegmatis? Bukan Korelis ^^


SANGUINIS Si Populer
KELEBIHAN:
* Suka bicara -> bangettt
* Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif -> hmm, iya deh
* Antusias dan ekspresif -> Betul!
* Ceria dan penuh rasa ingin tahu -> gue banget
* Hidup di masa sekarang -> masa lalu itu urusan dulu, masa depan itu masih dalam harapan
* Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan) ->> Benerrrr, keinginannya bejibun. Haha
* Berhati tulus dan kekanak-kanakan -> Aci bangettt
* Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara) -> gak ada gue, gak rameeee
* Umumnya hebat di permukaan -> di permukaan doank, yang lainnya mah gak tau?
* Mudah berteman dan menyukai orang lain -> iyo nian
* Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian -> hihihi
* Menyenangkan dan dicemburui orang lain -> Hmmm, gitu yah?
* Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam) -> males punya penyakit hati
* Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan -> harus!
* Menyukai hal-hal yang spontan -> benerrrrr, karna yang terencana itu jarang kejadian

KELEMAHAN
* Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras) -> Jadi maluuuu, 
* Membesar-besarkan suatu hal / kejadian -> Betul!
* Susah untuk diam -> Sangat susah
* Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank) -> gue bangetzz
* Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele -> bawaan suka nge-Gank
* RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek) -> hahaha
* Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias) -> Sssstt, it's secret!
* Mudah berubah-ubah -> kan moody-an
* Susah datang tepat waktu jam kantor -> miss late =_="
* Prioritas kegiatan kacau -> huaaaaa, bener nian
* Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas -> kok tau siiih?
* Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya -> hahaha, iyo nian ini nih
* Egoistis -> kadang-kadang
* Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama -> huaaa, aku bangetttt
* Lebih berorientasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money" -> ini harus diubah!!


PHLEGMATIS Si Cinta Damai

KELEBIHAN
* Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh -> benerin kerah baju
* Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik -> hmmm :)
* Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana -> kadang-kadang, kalo lagi dengerin curhat orang lain
* Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi) -> oyaaa?
* Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi -> jelas! 4 tahun di LDK menjabat di bidang sekretariatan, ckckck
* Penengah masalah yg baik -> Kadang-kadang
* Cenderung berusaha menemukan cara termudah -> Hahaha, harus!
* Baik di bawah tekanan -> emang cocok jadi anak buah
* Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan -> berusaha sebisa mungkin
* Rasa humor yg tajam -> pelawak kaleeee?
* Senang melihat dan mengawasi -> hihihi, trus mengkritik deeeh
* Berbelaskasihan dan peduli -> hmmm, mungkin
* Mudah diajak rukun dan damai -> emang gak suka konflik kok

KELEMAHAN
* Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru -> hahaha, bangettttt!
* Takut dan khawatir -> apalagi menyangkut masa depan
* Menghindari konflik dan tanggung jawab -> hehehe
* Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar) -> Huaaa, anak bunggsu itu!
* Terlalu pemalu dan pendiam -> kadang-kadang, kalo sama orang yang gak dikenal
* Humor kering dan mengejek (Sarkatis) -> humor kering? garing? krik-krik donk? :D
* Kurang berorientasi pada tujuan -> iya sih
* Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri -> motivasinya harus dicari-cari
* Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat -> hmm, mungkin
* Tidak senang didesak-desak -> bangettttttt, berasa kek diancem pake pisau, bisa stresss
* Menunda-nunda / menggantungkan masalah -> iyaaaa, pas deadline baru deeeh semangat. ckckck

Dulu, aku tuh nganggepnya kalo kepribadianku sanguinis-korelis! Eh kata si Kiki, aku sama kaya dia, dilihat dari pengalaman dan pemahamannya selama berinteraksi denganku, aku itu Sanguinis-Phlegmatis. Ternyata iya, lebih banyak condong ke yang ini sih. Tapi gak semuanya sama kok, ada beberapa point justru bukan aku banget.

Rabu, 22 Agustus 2012

Manis dan Romantis

Nemu artikel manis di Inbox FB-ku...


Beginilah kondisinya sekarang, kata kebanyakan orang dia sedang jatuh hati, hatinya sedang terjatuh, dan selalu berharap terjatuh pada tangkapan si bunga pemekar hati. Apapun yang dilihatnya dan apapun yang didengarnya, semuanya selalu mengingatkannya pada bunga itu. Segalanya terasa manis dan romantis, bahkan kini semangat merah saga pun telah menjadi merah jambu.
Kembali dia bersandar pada tiang itu, kembali senyumnya merekah tak karuan. Dia rogoh kantong celananya untuk menggenggam dan mengambil sebuah produk teknologi, handphone. Hatinya mulai berdegup kencang, untuk kelima kalinya dalam jangka waktu 10 menit ia buka inbox handphone-nya, tertuju pada sebuah pesan, singkat isinya, hanya 3 karakter, ‘jzk’. Ah.. Luar biasa rasanya membaca pesan itu, hampir saja angan lepas dari akalnya. Memang, bukan isinya yang singkat yang membuat hatinya berdegup tak karuan, tapi lihatlah siapa yang mengirimkan pesan itu, dia..

Masih terpaku pada lamunan dan senyumnya. Tiga huruf itu seolah membius dan mengisnpirasi senyumnya. Hilanglah beban yang sedari pagi terus bergantung di pundaknya, semuanya terasa begitu ringan. Pesan singkat itu hadir bak fajar yang menyibak langit malam, kini lebih indah dan terang, manis dan romantis..

Mengalir lembut, sebuah kibasan angin baru saja menyadarkannya dari sebuah lamunan angan, sejenak mengembalikan akalnya. Benar saja, hanya sejenak akalnya kembali, menolehlah kepalanya pada sumber angin itu. Ahh.. berdesir-desir hatinya, kain panjang nan cantik itu sumbernya, secantik perempuan yang mengenakannya. Penutup kepala itu ternyata sumbernya, dan dia si pengirim pesanlah pengenanya. Larian kecil si pengirim pesan itu menciptakan angin yang mendesirkan hatinya.

Semakin panjang saja lamunannya dan semakin tak karuan saja senyumnya hingga sebuah tepukan dari seorang saudara menyadarkannya. “Gak tilawah Bro? Lumayan sambil nunggu Ashar..”

“Oh iya, lumayan sambil nunggu Ashar..”, tergugup ia menyikapi tepukan saudaranya.

Dia ambil mushaf dari tasnya, teringat targetnya hari ini belum terpenuhi. Baru saja semalam ia selesai pada surat an-Naas dan khatam. Kini dia buka lagi mushafnya dari awal, surat al-Faatihah terlewati dengan mudah, maklum sudah hafal semenjak balita. Berlanjut pada surat berikutnya, “Alif Laam Miim..”, ayat pertama ini pun terlewati dengan mudah, bahkan sangat mudah, dan benar-benar terlalu mudah hingga ia pun terhenti pada ayat itu.

Tiba-tiba bibirnya kelu, tak ingin ia melanjutkan bacaannya, hatinya seperti teriris, seperti sedang terjadi persilatan di sana. Al-Faatihah dan 3 huruf pertama surat berikutnya sangat fasih dia baca hingga semuanya menjadi terlewatkan begitu saja. Bacaannya terasa biasa saja, tak ada yang spesial, lebih biasa dari ketika ia membaca berita pengabulan judicial review UU BHP di sebuah surat kabar, tak ada getaran sama sekali di hatinya. Teringat kembali pesan istimewa pada inbox handphone-nya, pesan singkat yang hanya terdiri dari 3 huruf, begitu menggetarkan hatinya, tapi mengapa tidak dengan pesan 3 huruf pada surat terpanjang dalam mushafnya?

Dia mencoba mengulang bacaannya, “Alif Laam Miim..”, tak bergetar. Sekali lagi dia mengulanginya, masih tak bergetar. Sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi, tak ada yang berubah, masih tak bergetar. Melembab matanya dan membesar hidungnya, ingin rasanya menangis, ingin saja ia carikan sebuah alat tremor untuk ditempelkan di dadanya, agar bergetarlah hatinya, tapi itu sungguh terasa bodoh.

Keras ia genggam tangannya sendiri, berharap hatinya bergetar, berharap tangisnya tak keluar. Ia pandangi dalam-dalam mushafnya, mencari inspirasi di sana, berharap menemukan sebuah tremor. Getaran itu tak kunjung datang, dan tangis itu pun masih coba ia tahan hingga adzan pun berkumandang. Tertunduk kepalanya, pandangannya terarah ke mushafnya, tapi kosong, pandangannya kosong.

Tak tertahan, tangisnya pun lahir melalui dua matanya, butir-butir itu jatuh membasahi mushafnya, memburamkan huruf-huruf di dalamnya. Sesenggukkan nafas dan tangisnya di antara adzan yang masih terus menggema. Semakin keras adzan berkumandang dan semakin keras genggaman tangannya..

Sebuah tepukan kedua dari saudaranya, “Subhanallah akhi, ana belum pernah melihat antum tilawah se-khusyuk ini..”, tangisnya pun semakin dalam..

Batinnya hanya satu, tapi kemelut itu benar-benar terjadi, seolah ada yang sedang saling membunuh. Tak ingin rasa ini dimenangkan oleh seorang makhluk, tapi bukankah rasa ini adalah sebuah fitrah? Tapi beginikah sebuah fitrah? Mengapa fitrah ini hampir membunuh fitrah yang lain? Sebuah fitrah cinta yang seharusnya lebih suci dan mulia..

*cerita ini hanya fiktif belaka

Oleh Topan Bayu Kusuma

http://www.facebook.com/?sk=messages&ref=mb#!/?page=10&sk=messages&tid=1136083658097

Kamis, 09 Desember 2010

Ujian dari-Nya, Wujud Cinta-Nya


Futur itu ujian, Allah ingin melihat upaya Qta untuk keluar dari sana.
Istiqomah itu ujian, Allah ingin melihat sejauh mana Qta bisa bertahan di jalanNya.
Lelah itu pun ujian, Allah tengah membedakan Qta dari mereka yang lalai.
Santai itu juga ujian, Allah sedang menanti upaya Qta untuk menyadari betapa buruknya aktifitas santai di tengah aktifitas dakwah.
Marah itu ujian, Allah hendak menguji semampu apa Qta menahan diri Qta.
Sabar itu juga ujian, Allah hendak menguji seberapa kuat Qta menjaganya tuk tetap ada di diri Qta.
Persahabatan itu pun ujian, Allah ingin mengetahui sejauh mana Qta mampu memahami arti dari sebuah kesetiaan, kasih sayang, dan kepeduliaan.
Pertengkaran itu ujian, Allah ingin melihat telah sampai mana kedewasaan dan kebijaksanaan yang slalu Qta banggakan itu..

Senin, 06 Desember 2010

Beginilah Seharusnya CINTA..

Di sana, ada cita dan tujuan
Yang membuatmu menatap jauh ke depan
Di kala malam begitu pekat
Dan mata sebaiknya dipejam saja
Cintamu masih lincah melesat
Jauh melampaui ruang dan masa
Kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
Lalu di sepertiga malam terakhir
Engkau terjaga, sadar dan memilih menyalakan lampu
Melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
Dengan cita yang besar, tinggi dan bening
Dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
Dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
Dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
Teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman
Walau duri merantaskan kai, walau kerikil mencacah telapak
Sampai engkau lelah, sampai engkau payah
Sampai keringat dan darah tumpah
Tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum di jalan cinta para pejuang


-Mencintai Sejantan Ali-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

-Pengorbanan Cinta Salman-
Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorangPersia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” ???

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasadikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan.. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..

Subhanallah kisah yang indah..^_^

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya!

Sumber: Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” Karya Salim A. Fillah