Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Bukan Hasilnya, Melainkan Ikhtiarnya

"Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, 
maka itu lebih baik dari unta merah."
[HR. Al Bukhari]

Hadits satu ini pertama kali aku dengar saat mengikuti Training for Tutor di kampus, salah satu hadits yang membuat semangat para peserta untuk mulai mengazzamkan diri membina adik-adik kampus. Karena, bila satu saja diantara manusia yang mendapatkan petunjuk melalui kita, itu lebih baik dari unta merah, yang katanya seharga dengan kendaraan paling mahal yang ada di dunia ini. Daebak! ^^

Saya pernah membina beberapa kelompok, mulai dari Rohis SMA saya dulu, Mentoring Program Studi, Mentoring Jurusan, dan beberapa kelompok binaan lainnya. Huwaaa, keren donk yah? | Tunggu dulu, kelompok-kelompok itu pada bubar, hanya bertahan sampai beberapa waktu saja. Satu semesterlah paling lama, kemudian bubar secara teratur. -___-"

Selama beberapa waktu, saya malas membina lagi. Kecewa lebih tepatnya. Saya merasa saya bukan seorang pementor yang baik, karena selama membina saya gak melihat ada perubahan yang cukup baik yang terjadi pada binaan-binaan saya. Padahal saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjadi murabbi yang baik untuk adik-adik saya, mencoba mencari cara agar adik-adik saya semakin hari semakin baik dalam amalan kesehariannya.

Sempat juga membina adik-adik SMA Swasta, ujiannya jauuuuh lebih berat dibanding ketika saya membina adik-adik di SMA saya dulunya. Anak-anaknya itu sepertinya kepaksa banget hadir di mentoring itu, bawaannya mau pulang terus. Dan apa yang saya sampaikan sepertinya cuma lewat-lewat saja, gak berbekas.

Jadinya, saya memutuskan untuk berhenti membina adik-adik itu. Kebetulan juga saya mau fokus ke pembinaan di kampus saja, karena saya juga membina satu kelompok halaqah di kampus. Saya lepaskan mentoring SMA itu. Saya jahat yah. >,<

Beberapa waktu saya gak pernah datang ke SMA itu lagi, satu per satu adik binaan saya mengirimi pesan. Ada yang bertanya kabar, ada yang bilang kangen, ada juga yang pengen bisa mentoring lagi. Aaaah, rasanya saya merasa sangat menyesal. Kenapa saya begitu egois, melepaskan amanah hanya karena merasa tidak dihargai dan dianggap sebagai pementor. :(

Sepertinya ada yang tidak beres di hati saya. Yah, saya masih berorientasi pada hasil, niat saya masih belum lurus, masih ingin mendapatkan penghargaan dari manusia. Bukankah harusnya cukup saja Allah, Rasulullah dan orang-orang mukmin yang menilai apa yang kita lakukan. Ikhlas saja, meskipun hasil yang diharapkan tidak seperti yang kita harapkan.

Kita tidak pernah tahu amalan mana yang benar-benar Allah ridho terhadap kita karenanya. Benar-benar kita tidak tahu. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan sebanyak mungkin kebajikan di wasilah-wasilah kebaikan yang ada, karena Allah...

Karena yang perlu dan harus diingat adalah bagaimana usaha yang kita lakukan dalam proses untuk menggapai yang kita harapkan itu, bukan seperti apa hasilnya. Dan bukanlah kewajiban kita juga untuk memberi hidayah kepada orang-orang di sekitar kita, yang berhak memberi hidayah hanyalah Allah. Kita sebagai manusia hanya diwajibkan untuk menyampaikan kebaikan yang kita ketahui, bukan membuat orang itu mengikuti apa yang kita sampaikan. [QS. Al Baqarah: 272]

Saya jadi ingat sama kalimat murabbiyah saya dulunya. Katanya, "Sampaikanlah apa yang perlu untuk disampaikan, luruskanlah apa yang harus diluruskan. Tentang hasilnya seperti apa, Allah lah yang berhak memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Jika tidak sekarang, mungkin nanti di suatu hari, apa yang pernah disampaikan itu akan kembali teringat oleh mereka. Dan bisa jadi saat itulah hidayah itu menghampirinya dek. Jadi, jangan pernah berkecil hati karena binaan kita tidak bisa jadi seperti yang kita harapkan. Semua itu sudah sunnatullah, tidak semua orang akan langsung berubah, proses dan waktu bermain di sana."




Satu hal lagi, setelah kita berusaha dengan ikhtiar yang paling baik. Maka do'a adalah langkah selanjutnya, do'akan slalu mereka dalam do'a-do'a kita, dalam do'a rabithah yang kita lantunkan. Semoga Allah berkenan memberi hidayahNya, semoga Allah berkenan mengistiqomahkan kita semua, dan semoga Allah berkenan menyatukan kita kelak di SyurgaNya. Aamiin allahumma aamiin.

Selasa, 25 Juni 2013

Bersamamu, kawan...

"Hidup ini keras." katamu suatu hari, "Aku tau." jawabku singkat.

Maka dari itu, aku memilih bersamamu. Karena mungkin menjalani hidup yang keras tanpamu di sisi, takkan kurasa bahagianya. Maka, temanilah aku. Kita buat hidup yang keras ini menjadi lebih indah, dengan tawa dan duka kita, bersama.


Aku tau, kita tak berjalan dengan beralaskan permadani yang lembut, tak juga beratapkan payung yang nyaman, atau berhiaskan dan bertabur bunga-bunga.

Kita menjalani hidup yang sama dengan yang lain, kadang ada kerikil yang menggores luka, ada duri yang menyayat sakit. Tapi, kau harus ingat, ada juga hujan yang mendamaikan, terbit pelangi setelah guyurannya hilang. Juga ada bintang-bintang di langit malam kita yang pekat, bukankah itu juga harus kau perhitungkan.

Kelak, ada banyak hal yang kan kita lihat, hadapi dan lewati. Maka, genggam aku dengan erat. Jangan lepaskan tangan, karena kau adalah kekuatanku, kawan.

Menjelang tahun ke-7 hijrahku,
 terima kasih masih mengenggam erat tanganku. 
Aku mencintaimu, karena Allah.

Jumat, 28 September 2012

Mengenggam Erat

Sedari dulu hati inipun merindu
akan ketenangan jiwa ketentraman hidup
Dimana lagi aku temukan arti sebuah hidup
Kemana lagi kudapati cinta yang hakiki

Ternyata datangnya sinaran

seiring kesungguhan mencari jalan
kebenaran jalan keridhoan
Akan selalu kusyukuri nikmat yang telah diberi
petunjuk hidayat suci Illahi (Illahi)
hamba kan mengabdi


Hidayah Illahi - The Fikr [LirikNasyid.com]



Ini lagu lama, tapi percaya gak aku baru tau lagu ini tahun 2011 kemaren, itu juga dari si Kiki. Sejak itu, jadi suka sama lagu satu ini. Pake banget deh!

Tadi pagi lagu ini menemani hari Jum'atku, entah kebawa sama suasana yang sepi atau gimana. Yang jelas ada sebuah getar di hati, mataku jadi berkaca-kaca. The Fikr berhasil buat mataku merah hari ini, T.T

Hidayah, dulu ada yang pernah bilang,
"Hidayah itu harus dicari, bukan dinanti nanti. Jika telah ketemu, maka genggam erat, agar ia tak pergi meninggalkan kita, yang kan menjadi sepi dan sendiri sepeninggalnya."

Kemarin sore seorang adik binaanku di SMK mengirim pesan pendek, "Mbak, aku sekarang berjilbab loh :D"  Dia ketawa-tawa, aku cuma bisa diem. Speechless. Gak nyangka, beneran. Dia itu termasuk anak yang agak 'unik' dibanding yang lain. Slalu komentar, disuruh bawa kerudung ajah kagak mau. Tapiii? Allah memang Maha Membolak-balikan hati, sungguh ingin diberikan keistiqomahan untuk tetap dalam keimanan.

Hidayah, siapapun memiliki kesempatan untuk mendapatkannya. Hanya saja ada yang mengambil kesempatan itu, ada yang mengabaikannya atau ada yang menangguhkannya dengan mengatakan nanti-belum saatnya.

Kamis, 09 Desember 2010

Ujian dari-Nya, Wujud Cinta-Nya


Futur itu ujian, Allah ingin melihat upaya Qta untuk keluar dari sana.
Istiqomah itu ujian, Allah ingin melihat sejauh mana Qta bisa bertahan di jalanNya.
Lelah itu pun ujian, Allah tengah membedakan Qta dari mereka yang lalai.
Santai itu juga ujian, Allah sedang menanti upaya Qta untuk menyadari betapa buruknya aktifitas santai di tengah aktifitas dakwah.
Marah itu ujian, Allah hendak menguji semampu apa Qta menahan diri Qta.
Sabar itu juga ujian, Allah hendak menguji seberapa kuat Qta menjaganya tuk tetap ada di diri Qta.
Persahabatan itu pun ujian, Allah ingin mengetahui sejauh mana Qta mampu memahami arti dari sebuah kesetiaan, kasih sayang, dan kepeduliaan.
Pertengkaran itu ujian, Allah ingin melihat telah sampai mana kedewasaan dan kebijaksanaan yang slalu Qta banggakan itu..