Senin, 18 Februari 2013

Donor Darah

"Dibutuhkan darah A untuk ............., pasien leukimia, malam ini...."

Itu adalah satu diantara banyaknya pesan yang masuk di handphone tentang donor darah, di tiap bulan atau bahkan tiap pekan pesan serupa sering mampir di handphoneku. Ada sebuah kalimat yang tersirat dalam barisan pesan itu, ADA YANG MEMBUTUHKAN BANTUANMU.

Saya hampir slalu menghela nafas, sambil kemudian memforward pesan tersebut ke beberapa contact di handphone. Rasanya saya ini kurang bisa bermanfaat, sehingga harus mentransfer ke orang lain yang dirasa lebih bisa diandalkan.

Bukannya saya tidak mau mendonor darah, dulu saya malah pernah beberapa kali ke PMI untuk mendonorkan darah saya yang kebetulan sama dengan darah si pasien yang saya kenal itu. Tapi, setibanya di PMI petugas langsung mengatakan, "Dek, tunggu di luar saja." Ketika saya bilang saya mau donor, petugas itu melihat saya dengan seksama lalu meminta saya keluar. Saya tanya kenapa, dia hanya bilang "Tidak lulus kualifikasi!"

Perasaan yah, badan saya ini dibilang paling gemuk diantara temen-temen saya yang emang lebih kurus dari rata-rata orang kurus, #ehh. Yah, berat badan saya saat itu 45 KG. Tapi, tetap ditolak, karena katanya gak mencukupi kriteria yang seharusnya.

Akhirnya saya keluar dengan perasaan sedih, karena gak bisa bantu apa-apa, selain do'a. Apalagi sekarang, berat badan saya ini hanya 42 KG, dan saya didiagnosis menderita tekanan darah rendah, yang tidak akan pernah diizinkan untuk mendonor, orang saya aja butuh didonor, kata temen saya suatu hari. -___-"

Padahal yah, donor darah itu manfaatnya banyak, selain untuk membantu orang yang membutuhkan juga baik untuk si pendonor. Darahnya akan mengalami pergantian darah yang jauh lebih baik, darahnya juga akan jauh lebih sehat. Dan, katanya kita jadi bisa gemukan dikit kalo rajin donor darah, hmmm! :)

Kapan Yaaaah??

Kemarin sepulang dari suatu acara, tepatnya di lampu merah. Aku gak sengaja ngeliat seorang cewek dengan kerennya mengendarai sepeda melintas di sampingku, lalu berhenti sejenak di barisan paling depan.

Entahlah, itu karena orang yang ngendarainnya atau karena sepedanya yang keren yak, yang jelas aku jadi mupeng banget. Jadi pengen maen sepeda. Terakhir kali maen sepeda itu pas masih SMP kelas 1, waktu itu kan lagi musimnya ke sekolah pake sepeda. Sekarang? Jarang yang mau begitu, banyakan pake motor.

Dulu, aku dan beberapa temen ke sekolah ngendarain sepeda, kita janjian untuk pergi dan pulang bareng. Jemput-jemputan gitu deh, seinget aku dulu temen cewek yang ikutan itu cuma 1 orang, jadinya kita berdua deh ceweknya, selain itu semua cowok. Biasanya kita itu suka tuker-tukeran sepeda pas pulang, sekalian pengen nyoba enak gak pake sepeda model lainnya.

Nah, sepedaku itu udah dikasih ke orang lain karena saking lamanya gak dipake daripada mubazir kan, mending dihibahkan deh. Tapi, sekarang pengen banget bisa maen sepeda lagi. Jalan-jalan sore gituh, katanya sih naek sepeda itu salah satu olahraga yang cukup baik, untuk orang yang punya tekanan darah rendah kek aku gini. -___-"

Jadi, kapan yaaaah bisa sepedaan lagi? Kali aku bisa jadi lebih keren dari cewek bikers kemarin sore ituh, #ehh

Penyenang Hati


“Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), 
dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” 
(QS. al-Furqan: 74) 


Anak sholeh dan sholehah adalah dambaan bagi setiap orang tua, karena memiliki anak yang sholeh dan sholehah merupakan salah satu pilar bagi terwujudnya keluarga yang sakinah, keluarga bahagia yang meneduhkan hati para penghuni di dalamnya. Anak yang sholeh dan sholehah dalam bahasa al-Qur’an dilukiskan sebagai qurrota a’yun, penyejuk mata dan penyenang hati bagi kedua orang tuanya.

Seperti kata seorang teman, kewajiban seorang ibu itu adalah 'mencarikan' ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak, begitupun sebaliknya. Maka, saat memilih calon suami berpikirlah apakah ia akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita kelak? Tidak hanya sekedar menjadi seorang suami yang baik saja.

Ada hak anak untuk dididik oleh ayah/ibu yang baik, yang nantinya akan mengajarkan banyak hal kepada mereka. Agar anak sholeh dan sholehah itu tidak lagi hanya sebuah mimpi dan harapan saja, melainkan akan terwujud secara bertahap, sejak saat ini, sejak masih sendiri. :)

Kamis, 31 Januari 2013

Nomo Nomo Chuae ^^

Really like this picture!
Nomo nomo chuae,..
Eh, kok jadi kangen nonton drama Korea yah, ada kali satu tahunan.
Huhuhu.-___-"
Aku beneran udah tobat keknya, hahaha.
Hush! Akhwat kok ketawanya gituh, gak baik!
Untung saya bukan akhwat, wkwkwkwk.
*kemudian ditimpuk biji salak*

Efek dari Kepo

Saya punya seorang teman, sebut saja Bila. Bila ini bentar lagi mau nikah loh, yap beberapa bulan lagi. Hari itu dia mengajak saya bicara, curhat lebih tepatnya. Saya juga gak tau kenapa dia tiba-tiba mau bercerita kepada saya, mungkin karena saya bukan orang dengan kesibukkan yang super padat. Hehehe.

"Aku gak tau Des, harus seperti apa. Aku bener-bener bingung, apa harus bertahan atau sampai di sini saja?" Ucapnya mengakhiri pembicaraan sore itu, dengan mata yang sudah berlumur air mata.

Bila tidak begitu mengenal calon suaminya ini, Bila mungkin bukan seorang akhwat, tapi dia tidak pacaran, dia anak yang baik. Dia mengenal calonnya ini hanya dalam hitungan bulan, itupun tidak dengan pacaran. Ya wajar jika Bila ingin mengetahui banyak hal tentang calon suaminya, seperti apa orangnya, teman-temannya, bagaimana si dia berinteraksi dengan wanita-wanita lain.

Wajar donk, kan itu calon suaminya, seseorang yang kelak akan ia patuhi, si dia yang akan menggantikan posisi kedua orang tua yang harus ia muliakan, pada ridhonya ada keridhoan Allah. Maka sudah sepantasnya lah jika seorang wanita menjadi sangat selektif dalam memilih seorang imam untuknya kelak.

Dengan sengaja Bila menstalk TL calon suaminya itu, awalnya biasa saja, tak ada yang aneh. Bulan ke bulan ia baca isi TL itu, sampai ke suatu hari di mana ia melihat keakraban calon suaminya itu dengan seorang wanita. Yah, dengan RT RT yang tertampil di sana.

Kepo? Bila mungkin memang sedang kepo. Tapi, sekali lagi hal itu wajar saja menurut saya. Bukankah akun sosial media seseorang itu sedikit banyak mewakili si empunya akun bukan? Kita bisa melihat, seperti apa dia dengan teman-temannya, siapa saja teman-temannya itu.

Saya sempat bingung harus seperti apa menanggapinya. Karena itu ada di masa lalu, masa yang telah terlewat. Kita tak bisa menilai seseorang hanya dari masa lalunya saja, ya kan?

Seperti kata Bu Ainun, "Masa lalu kamu adalah milik kamu, masa lalu saya adalah milik saya. Tapi, masa depan adalah milik kita." 

Namun, tidak semua orang bersepakat akan hal ini, tidak semua orang. Ada beberapa orang yang sulit menerima masa lalu orang lain, bukan karena dia merasa paling baik dan sempurna. Tapi, karena dia merasa dia tidak cukup baik untuk bisa menerima dengan seutuhnya, tanpa ada rasa yang mengganjal di hati.

Mungkin baginya ia bukan orang yang tepat, bukan orang yang kuat jika suatu hari apa yang di masa lalu itu akan kembali ada di masa depan. Tidak ada yang menjamin hal itu takkan terjadi lagi bukan, tak ada jaminan. Hanya saja, dengan modal kepercayaan juga keyakinan padaNya, Yang Maha Pengabul Asa, kita bisa meminta agar kelak dan selamanya dia takkan pernah menyakiti hati kita, takkan pernah menodai janji suci yang telah terucap. Atau mintalah petunjuk padaNya, agar diberi jalan terbaik untuk masalah yang tengah kita hadapi.

Sedikit mengutip kata-kata seseorang, "Yang terpenting adalah siapa yang tinggal, bukan siapa yang telah pergi." Mungkin saja ada beberapa orang yang pernah hadir dalam hidupnya, yang pernah berbekas di hatinya. Tapi, yang ada saat ini bukankah hanya dirimu seorang. Dan di hari-hari yang akan datang, berharaplah hanya akan ada dirimu saja.

Tapi, sebaiknya hal seperti ini dikomunikasikan dengan baik dengan dirinya, agar ia tau apa-apa yang merisaukan kita. Mintalah untuk menjaga hatinya, juga hatimu. Karena lelaki yang baik, tidak akan membuat wanitanya tak tenang apalagi bersedih hati. Ya kan? ^^


Hmmm, jadi mikir nih di TL ku ada apa aja yah? Huaaaa, semoga tak ada yang membuat cemburu my future husband, ^^ Apa kabar yang di FB?? Tenang, saya mungkin bukan akhwat yang baik-baik banget tapi saya bukan anak yang nakal, saya gak suka berakrab-akrab ria dengan orang lain. Males.

Netralkan Saja!

"Mb, salah gak sih kalo kita memiliki kecenderungan terhadap seseorang, kepada seseorang yang meminta kita menikah dengannya?" Tanyanya di suatu sore

Kecenderungan? Sebuah perasaan? Ada hati yang condong?
Semua adalah fitrahnya manusia. Insan yang begitu manisnya, hingga rasa yang indah, si merah jambu itu memancar dengan terangnya. Tidaklah salah jika hati memiliki pilihannya sendiri, sesuatu yang menarik dirinya untuk condong kepada seseorang. 

Tapi, siapkah jika ternyata pilihan hati itu bukanlah pilihan Tuhan? Bukanlah seseorang yang ditetapkan untuk menjadi pengucap janji setia itu, yang akan menggantikan peran ayah untuk menjaga dengan baik putrinya. Hati yang condong itu dikhawatirkan akan benar-benar terjatuh, sulit untuk bangkit kembali. Karena kecondonganlah yang mendominasi pengambilan keputusan untuk membuat pilihan tersebut. Siapkah?

Manusiawi, sangat manusiawi jika hati memiliki kecenderungan kepada seseorang. Tidak ada yang bisa mengatur kepada siapa hati kita menjatuhkan pilihan. Namun, kita harus ingat bahwasanya hati kita berhak untuk tetap terjaga dengan baik, ia berhak untuk tetap berada dalam zona ketenangan, tanpa adanya keresahan juga riak-riak perasaan yang menggalaukan. Itu adalah haknya hati. Dan kewajiban kita untuk memenuhi hak-hak tersebut. Wajib!

Jika saat ini hati telah memiliki kecenderungan kepada seseorang, netralkan saja rasa itu. Kembalikan saja ia pada situasi sebelum ia mengenal sosok yang masih teramat asing itu. Kembali ke zero. Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa kan? Dari yang tiada menjadi ada, kembalikan lagi menjadi tiada. Dari yang biasa menjadi istimewa, kembalikan saja menjadi biasa. Biasa-biasa saja.

Hei, orang yang akan menikahimu itu belum tentu nanti benar-benar menjadi pasangan hidupmu. Sebelum ijab terucap, tak ada jaminan ia yang akan jadi imammu. Maka, netralkan saja. Demi keterjagaan hatimu dari segala sesuatu yang kelak menuai kekecewaan. 

Mintalah padaNya untuk mendekatkan dan menjauhkan segala sesuatu itu dengan caraNya. Jika memang dia yang terbaik, mintalah untuk didekatkan dengan caraNya. Jika dia bukanlah yang terbaik, mintalah dijauhkan, juga dengan caraNya. Tak perlu ngotot hanya meminta si dia, siapa tau di luar sana ada seseorang yang jauuuuh lebih baik yang dipilihkanNya untukmu. Ingatlah, rezeki dan jodoh itu telah ditetapkan, yakin dengan hal itu kan?


“Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan bakso, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan bakso.”

― novel "Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah". Tere Liye

Rabu, 30 Januari 2013

Episode Rindu

Yah, saya akui, saya sedang rindu saat ini.
Sangat-sangat merindukan mereka,

Tanpa terasa, air mata ini mengalir dengan derasnya. Begini yah namanya rindu. Begini yah rasanya menahan rindu.

Entah, apa karena mereka itu suka nyebelin yah, atau karena mereka itu orang-orang aneh. Saya gak tau, yang jelas mereka telah menyihir saya dengan mantra kerinduan.

Padahal bangun tidur yang pertama kali keliat itu justru poto-poto mereka, yang berjejer tak rapih di dinding kamar. Kalo mo nelpon juga bisa ataupun ketemu langsung mungkin. Tapi, yang namanya rindu itu yah gitu, gak jelas maunya apa.

Mungkin semacam perasaan asing yang datang mengisi kekosongan di hati,
Entahlah, yang jelas saat ini saya sedang rindu, benar-benar rinduuuu.