Kamis, 21 Maret 2013

Ngegeje with Bumil

Beberapa hari ini ngerasa sepi banget, pertama karena BBku rusak lagi. Jadi dia diopname deh, keknya dia gak akan bisa sama-sama aku lagi deh untuk ke depannya. Kedua, Danish sama abi umminya pergi ke Jogja. Jadi di rumah beneran sepi deh. -___-"

Biasanya kan BBku paling berisik, selang beberapa waktu selalu bunyi, selalu kelap kelip lampu merahnya. Juga slalu ada mainan di waktu kosong, kek beberapa hari ini. Danish juga, biasanya slalu yang paling rempong di rumah. Naik tangga, berantakin kamarku, merangkak ke sana kemari. Kalo Maghrib gini biasanya slalu nungguin adzan di tipi, sambil mraktekin gaya muadzin yang di tipi. Jadi kangen, >,<

Untung aja beberapa hari ini si Nyonya Rifki (Kichan) rajin kirim sMs, jadi ada sedikit hiburanlah. Hahaha. Tapi, ada salah satu isi sMs nya yang bikin gue agak geregetan, yaitu --> "... Kemaren aku USG, si calon baby cowok perkiraan sementaro, jadi gek kalo lo punyo anak cewek be. Mangko pacak bebesan."

Ini sMs maksudnya bagus sih, jadi kalo nanti gue punya anak, bagusnya cewek ajah, biar bisa besanan sama dia gituh. Si Kiki juga emang calon ibu yang baik, anaknya masih usia 4 bulan (dalam kandungan) ajah udah sibuk dicariin jodoh.

Tapi masalahnya adalah calon besannya ini aja masih belum ketemu jodohnya, gimana gue ngerancang jodoh buat anak gue coba -____-" Ish, beneran deh tuh anak, gak nyadar apa gue kan masih gadis imut gini, udah ngajak besanan ajah dia. Huh!

Terus, tadi siang dia sMS nanyain gue lagi ngapain. Nyesel juga sih ngejawab kalo gue lagi ngantri bensin di SPBU, coba jawab ajah lagi di WS, pasti envy itu dia. Huahaha, secara dia kan tinggal di desa gituh deh. :p *evil* | Eh, pas balik gue tanya dia lagi ngapain, dia jawab dengan manisnya "Aku lagi menanti suami pulang untuk makan siang." Ini mah gue yang envy jadinya, hohoho *plaks

Dan, yang paling bikin geregetan adalah sMs berikutnya --> "Semangat ngantri bensinnya yak, sesabar kamu ngantri untuk menikah. :p" | Ini beneran deh, kalo dia maen ke Palembang. Gue cubitin dia, terus gue do'ain biar anaknya selucu Dwi dan semanis gue. Pasti kesiksa banget dia punya anak campuran gue sama Dwi, wkwkwkwk. :))

Udah lama gak ngegeje with Trio An Nahl, jadi kangen mereka. Kangen main-main kek dulu, bonceng tiga di jalanan, pulang malem, makan di pinggir jalan, melakukan hal-hal konyol bareng. Nomo nomo bogosipo, kapan yah bisa ngerasain hal kaya gitu lagi. Rasanya baru kemarin kita bergalau ria dengan skripsi, eh sekarang udah mau 2 tahun ajah lulus dari kampus.

Waktu kok cepet banget yah berjalannya, semua seakan bergerak jauh meninggalkan masa lalu. Akan tetapi, kita masih saja sama. Masih tetap diam di tempat kita masing-masing, masih menjaraki hati kita dengan ruang dan waktu yang entah kapan akan terlewati. Yah, kita. :)

Senin, 18 Maret 2013

Rindu Ayah, Rindu

Kemarin sempet jalan ke salah satu pusat perbelanjaan di Palembang, sambil nyari ibu sama tanteku yang ngilang entah ke mana. Akhirnya muter-muter sendiri deh, dan gak sengaja ngedenger lagunya Ada Band - Yang Terbaik Bagimu, terus ngikut nyanyi-nyanyi sendiri.

Awalnya biasa aja, nyanyi-nyanyi gak jelas, terus senyam-senyum sendiri dan gak lama itu ada yang netes di pipi. Hmmm, tetiba jadi keinget temen sekolahku, yang suka banget sama lagu ini.

Dini dan Regen, Dini temen sebangku ku, dan Regen ini duduknya tepat di belakangku. Mereka berdua ini paling suka muter lagu ini di kelas, pas guru lagi gak ada atau pas istirahat. Kalo lagi ada yang bawa gitar, mereka request lagu itu deh. Dan nyanyi paling heboh, dan kita semua suka.

Beberapa bulan sebelum ujian akhir, ayahnya Regen meninggal dunia. Saat itu kita lagi ada belajar tambahan di sekolah, dan sepulang sekolah kita langsung ke rumahnya. Suasana haru jelas terasa di sana, ayahnya itu baru pulang dari rumah sakit, dan kondisinya sudah cukup membaik. Semua gak nyangka, Beliau akan pergi secepat itu.

Sejak hari itu, gak ada lagi yang muter lagu itu di sekolah. Takut Regen jadi sedih, takut dia jadi keinget sama ayahnya. Kita takut dia jadi gak semangat lagi, karena kita semua sayang sama dia. Si temen cowok paling baik juga paling usil, sering banget ngejahilin aku. Entahlah tuh anak maunya apa, dimarahin bukannya ngerti malah makin jadi jahilnya. Hufffh >,<

Sampe suatu hari, di playlist handphone temenku yang dirandom, lagu itu keputer sendiri. Dan, kita semua cepet-cepet minta lagunya diganti sama yang lain, eh tapinya Regen cuma bilang, "Biarlah, jangan diganti." kita semua ngeliat ke arahnya, "Aku rindu ayah, rindu." tangisnya pecah, aku sama Dini cuma diem dengan mata yang memerah dan bakal nyusul ikutan pecah.


Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu  
Patuhi perintahmu jauhkan godaan yang mungkin kulakukan  
Dalam waktuku beranjak dewasa  
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak   

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya  
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya  
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu  
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
 
Andaikan detik itu kan bergulir kembali  
Kurindukan suasana basuh jiwaku  
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu  
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati 

[Yang Terbaik Bagimu - Ada Band]


Jadi rindu ayah juga, rindu sekaliiii. ^^

Sabtu, 16 Maret 2013

Tak Bicara

 
Akan ada di suatu hari, kita tak inginkan bicara antara satu dan lainnya,
Bukan karena kita tak lagi cinta, juga bukan karena kita menyimpan benci di hati,
Kita hanya sedikit meredam rasa yang tak harusnya ada, marah,
Lalu sedikit mengingat dan berfikir tentang suatu hari di masa lalu,
Bahwa kita pernah sama-sama membutuhkan, berusaha untuk bisa bersama, selamanya.

Jika nantinya aku begitu, maklumi saja,
Aku takkan membenci, apalagi menjauh dan pergi,
Karena aku tau, kau adalah sosok yang kupilih,
Yang menempati posisi orang tua yang membesarkanku, 
Meski ku tak pernah tau, bisakah kau menyayangiku layaknya mereka.

Andai nanti kau begitu, aku akan tetap tersenyum manis menatapmu,
Karena aku tau, kau hanya butuh waktu, sendiri,
Kau takkan membenci, menjauh atau menambatkan hati pada yang lain,
Kau adalah kau, sosok yang memintaku dengan baik untuk mengisi duniamu yang sepi,
Yang dengan sendirinya, kau akan menyadari bahwa ternyata aku terlalu berisik.

Adakalanya, kita butuh waktu 'tuk tak saling bicara,
Bukan untuk dilanjutkan terus menerus tapinya,
Karena bisa jadi kita akan enggan untuk kembali saling menyapa,
Kita, hanya butuh waktu untuk sejenak mengingat,
Bahwasanya kau dan aku adalah dua sosok yang totally berbeda,
Kau dan aku, adalah makhlukNya yang penuh kekurangan, juga tak terhindar dari kekhilafan,
Maka, sudah selayaknya lah kita 'tuk bisa saling memaafkan dan menerima, seutuhnya.

Terinspirasi dari obrolan singkat bersamanya, teman lingkaranku

Selasa, 05 Maret 2013

Tanda Sayang

Tiap kita pasti memiliki orang-orang yang disayangi juga dicintai, baik itu keluarga, teman, atau juga seseorang, mungkin?! Nah, biasanya kepada mereka yang disayangi itu sikap kita akan berbeda dengan mereka yang biasa-biasa saja, yah bukan berarti kita tidak menyanyangi mereka sih. Hanya saja biasanya ada perlakuan yang beda, terhadap orang-orang yang selama ini berada dalam lingkup kehidupan kita, *kok jadi ribet yak? :))

Menyayangi seseorang biasanya akan membuat kita menjadi sangat perhatian, ingin melindungi, juga inginkan dirinya slalu dalam kebaikan-kebaikan. Tak ingin rasanya membuat dia kecewa, apalagi sampai terluka. Hanya saja, kadang sikap kita terhadap orang itu jadi agak sedikit over. Saking sayangnya kali yak? Hihihi.

Yah, seorang sahabat yang menyayangi sahabatnya pasti inginkan yang terbaik untuk sahabatnya itu. Berharap dia akan slalu membersamai langkah kita, tak boleh stop, berbelok atau bahkan mundur. Ia harus ada di samping, mensejajarkan langkah yang kadang tak bersamaan.

Seorang ibu yang menyayangi anaknya cenderung agak sedikit 'cerewet', diingatkan terus menerus, dan berusaha agar si anak menjadi anak yang lebih baik. Walau kadang si anak tetep kekeuh dengan kebandelannya itu, ckckck, terlalu! -___-"

Tanda sayang seseorang itu berbeda-beda, ada yang dengan cara mengomel untuk mengingatkan atau dengan mendiamkan untuk menyadarkan, ada juga dengan berbicara yang baik agar bisa dipahami atau dengan mendekati hatinya agar lebih bisa diterima dengan hati juga tentunya.

Jadi keinget sama seorang Ustadz yang pernah mengisi acara di kampus, "Seorang suami itu harusnya mengingatkan istrinya, jika si istri mulai lalai dalam menjalankan perintahNya. Bukan malah didiamkan, itu baru namanya cinta. Saya pernah menegur istri saya yang tidak memakai kaos kaki ketika pergi ke warung, saya bilang ke istri saya untuk tetap menjaga aurat, sebab alasan saya menikahinya karena ketaatannya. Salah satunya indikasinya ya dengan menjaga aurat. Mungkin ini masalah yang sederhana, namun jika hal kecil kadang diabaikan maka masalah besar akan berbondong-bondong menghampiri. Begitu juga dengan seorang istri yang harusnya menegur jika suami mulai malas-malasan shalat berjamaah di masjid dan lebih memilih shalat di rumah, jika bukan kita yang memakmurkan masjid, lantas siapa?"


Jika cinta, maka ingatkanlah, tegurlah lalu do'akan agar yang dicintai slalu dalam koridor ketaqwaan. Terima kasih untuk kamu-kamu yang slalu mencintaiku, yang gak pernah bosen untuk memberikan masukan-masukan terbaik. Sungguh, aku mencintaimu karena Allah, mencintai kalian semua karena Allah. Saranghae, ^^

Kamis, 28 Februari 2013

Layang-Layang

Senin sore kemarin saya dipanggil murabbiyah ke rumahnya, rasanya dag dig dug, takut-takut kalo ternyata saya ditanya ini itu, huahahaha. Emang murabbiyah itu KPK yang akan menanyakan banyak hal,^^

Sesampainya di rumah itu, saya disambut senyum simpul Adek Fariz yang langsung menunjuki saya layang-layang yang sedang dikejar Mas Fauzan dan teman-temannya. Fariz dan Fauzan adalah anak murabbiyah saya, ada satu lagi, namanya Hamam. Fauzan, Hamam dan Fariz.

Tiga bocah lucu ini slalu bisa membuat saya dan teman-teman halaqah tertawa dengan ulahnya, kadang fokus kita saat mendengarkan taujih yang disampaikan murabbiyah kami berganti ke mereka yang sibuk menanyakan ini itu ke umminya, sembari menampakkan ekspresi polos dan agak sedikit konyol itu. Anak-anak itu emang segolongan manusia yang mempunyai cara sendiri untuk membahagiakan orang-orang di sekitarnya, berharap kau pun begitu nanti, Nak. :)

Kembali ke layang-layang. Kata Ummu Fauzan, anak-anak ini slalu lebih tertarik untuk mengejar layangan lego, memamerkannya ke mana-mana lalu memainkannya dengan begitu senangnya. Padahal mereka tidak memperlakukan hal yang sama terhadap layang-layang yang dibeli abinya.


Mungkin, karena mendapatkannya begitu sulit. Makanya kebahagiaan pun datang berlipat saat berhasil menggapainya, dan tak ingin rasanya ia terlepas lagi. Saya rasa bukan hanya mereka yang seperti itu, tapi juga anak-anak lain di luar sana.

Begitu juga dengan sesuatu yang saat ini ingin kita gapai, ada kepuasan tersendiri saat kita mampu meraihnya. Dengan usaha yang semaksimal mungkin. Aaaah, manisnya buah dari sebuah perjuangan, yang dengan hati kan kita rasakan indahnya ituh.

Hmmm, jadi pengen maen layang-layang juga. Maukah bermain denganku? 

Minggu, 24 Februari 2013

Palestina, Apa Kabarmu?

Hari ini ada kajian yang diadakan oleh DPD PKS di Aula DPRD Provinsi, pesertanya adalah kader dakwah yang ada di Palembang juga sebagian dari Indaralaya (OI). Gak nyangka kalo pesertanya bisa membludak, sampe harus duduk berdesakan. Ada yang bahkan gak kebagian tempat duduk, jadi harus berdiri mendengarkan taujih dari pembicara di depan.

Salah satu pembicara di kajian itu adalah Syeh Abu Mukmin dari Palestina, beliau menghadiri kajian ini dalam rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) di kota-kota yang ada di Indonesia.

Beliau menceritakan tentang kondisi terkini Palestina, tentang kegigihan para pejuang di sana dalam menghadapi kekejaman zionis. Juga tentang kecintaan mereka kepada kita, rakyat Indonesia yang senantiasa peduli pada saudara seiman yang berjuang membela Islam, bukan hanya untuk sekedar memerdekan negara. Tapi lebih dari itu, membebaskan tanah suci umat Islam, kiblat pertama umat Islam, Al Quds dan Al Aqsa.

Beliau berkata, ketika beliau menelepon istrinya yang sekarang di Palestina dan menyampaikan salam dari kaum Muslimin di Indonesia, salam itu disebarkan kepada para wanita-wanita yang ada di sana, dan serta merta tangisan mereka pecah. Ada kerinduan, ada keharuan juga rasa dicintai begitu besar, yang mereka rasakan. Dari kita, saudara seiman mereka yang berjauhan, tak pernah saling mengenal apalagi bertegur sapa. Itulah cinta yang berlandaskan keimanan, cinta karena Allah. Kecintaan yang tak mengenal batasan suku, daerah, negara, dan bahasa.

Mendengarnya berkisah, sungguh diri ini merasa tak ada apa-apanya. Belum mengorbankan apapun untuk perjuangan Islam. Tapi masih merasa telah berjuang banyak hal, sungguh naifnya dirimu Ci! Jika kelelahan dalam berjuang kadang lebih banyak dikeluhkan ketimbang berpikir, bergerak dan berjuang dengan sebenar-benarnya perjuangan.


Palestina, apa kabarmu?
Pernahkah tanya ini melintas dalam benak kita? Meski hanya sesekali waktu? Atau kah kita hanya mengingatnya saat berita mengenai anak-anak yang syahid di sana terekspos media, beritanya ada di mana-mana. Jika tidak, kita tidak pernah ingat.

Duhai diri, jika kau tak mampu membersamai mereka dengan ragamu, iringilah perjuangan mereka dengan jiwamu. Berikanlah bantuan terbaik yang bisa kau berikan, meski itu hanya dengan seuntai do'a. Itu akan menguatkan mereka.

Allah memang tak pernah meninggalkan mereka, mereka memang tak pernah sendiri. Tapi, adalah tugas dan kewajiban kita untuk membantu meringankan beban saudara yang membutuhkan bantuan. Maka selayaknya lah kita ikut dalam barisan perjuangan ini, dengan apa yang bisa kita berikan. Dengan dirimu, hartamu, juga do'amu.

Terima kasih, hari ini telah mengingatkan kembali. Bahwasanya ada saudara kita, di negeri yang sedang terjajah itu. Ada tangisan dari anak-anak tak berdosa, ada istri-istri yang kini mungkin tak lagi bersuami. Ada ibu-ibu yang senantiasa mengikhlaskan anak-anaknya menuju kesyahidan, meski mereka hanya berpamitan untuk menunaikan shalat Jum'at.

Selasa, 19 Februari 2013

Tentang Ujian

"Tak penting ujian itu baik atau buruk, yang terpenting ujian itu membuat diri semakin taat."

Itu adalah motto hidup seorang kenalan saya, seorang ibu muda, istri yang shalehah juga muslimah yang tangguh (insyah Allah). Saya cukup mengenalnya, kira-kira satu setengah tahun yang lalu kita pertama kali bertemu. Di sebuah walimatul ursy yang sederhana namun begitu terasa indahnya, [Bandung, Juli 2011]

Karena dia dari Bandung, jadi orangnya itu sangat lembut. Tutur katanya begitu halus, dibanding sama saya sih jauuuuh, kek langit sama bumi. -___-" | Usia kita seumuran, tapi dia udah punya anak satu ajah, saya malah belum nikah, #ehh *curcol

Allah itu menguji hambaNya sesuai dengan tingkatan kemampuannya, jika kita diberi ujian yakinlah bahwa kita PASTI bisa mengatasi ujian itu. Hanya saja, apakah kita bersabar dan terus berikhtiar dalam menghadapinya ataukah mengeluh lalu menyerah tanpa berjuang?

Semakin tinggi tingkatan keimanan seseorang, maka ujianNya pun semakin hebat. Yah, ibaratnya kek ujian sekolah. Soal untuk anak SD pasti beda levelnya sama anak SMA, anak SMA akan dengan mudah menyelesaikan soal yang untuk anak SD, tapi tidak sebaliknya.

Di sana ada penilaian dariNya, untuk melihat sejauh mana hambaNya itu berhak dinaikkan 'level'nya. Apakah sudah layak naik atau masih harus meremedi lagi ujian tersebut? Sampai bisa lulus dengan hasil yang maksimal.

Teteh, begitulah saya biasa memanggilnya. Kisah hidup tentangnya ketika masih kuliah dulu sungguh menggetarkan, saya mendengarnya dari seorang teman dekatnya ketika di Bandung. Teteh itu terbiasa hidup keras, ibunya telah meninggal, ia tinggal bersama ayah dan adik lelaki satu-satunya. Dia harus bekerja keras untuk bisa tetap kuliah, kadang dia harus berjalan kaki menuju kampus, karena tak punya biaya untuk naik angkot.
 
Dan, sekarang beliau menetap di Palembang ikut suaminya. Meninggalkan ayah dan adiknya di sana, pasti sangat berat jika tidak kuat hati mah. Di sini banyak yang begitu menyayanginya, semua yang mengenal teteh pasti suka berteman dengannya. Karena beliau orang yang baik juga lembut.

Beberapa bulan yang lalu suaminya sakit, sempat dirawat di rumah sakit. Saat itu dia sedang hamil besar, harus bolak-balik ke rumah sakit menjaga suaminya. Alhamdulillah sekarang suaminya itu benar-benar sembuh. Sehingga dia bisa tenang menjalani kehidupan baru yang jauh lebih bahagia.

Lalu, Allah kembali mengujinya, saat ini dia sedang sakit. Sakit yang cukup berbahaya, di saat-saat paling membahagiakan, yah saat putri kecilnya sedang lucu-lucunya itu. Saya sempat membesuknya beberapa pekan lalu, saat itu dia hanya bilang sakit biasa. Tapi, wajahnya begitu pucat, badannya pun nampak kurusan dari sebelumnya. Karena katanya tidak apa-apa, saya tidak terlalu menanggapinya. Dan kembali memusatkan pada diri sendiri dan orang-orang terdekat saja, lalai pada dia yang dekat tapi terasa begitu jauh.

Saya merasa jahat, sangat jahat. Sebenarnya saya membesuknya saat itu juga karena disMsin seorang teman, meminta saya untuk bersilaturrahim ke rumahnya. Akhirnya saya menyempatkan diri mampir ke rumahnya, dengan alasan jarak yang lumayan jauh dan saya sangat jarang ada keperluan di daerah sana. Saya mengabaikan hak saudara saya untuk dikunjungi, saya emang jahat!

Padahal dia itu di sini sendirian, hanya bertemankan suami dan putri kecilnya yang baru 6 bulan itu. Betapa teganya saya tidak menemaninya di saat dia membutuhkan teman, saudara untuk sekedar tempat bercerita. Sesibuk itukah sampai tak punya waktu untuk mengunjunginya Ci?

Semoga semua akan baik-baik saja, yah, pastinya semua akan baik-baik saja. Allah bersama kita, Allah bersamamu teh. Allah bersama mereka yang senantiasa mendekat padaNya.