Sabtu, 29 Desember 2012

Libur Tlah Tibaaa, Yuhuuuuu

Ini penghujung tahun, di mana semua orang tengah disibukkan dengan beragam rencana liburan. Aku? Juga sama, tapi bedanya kebanyakan rencana hanya tinggal rencana saja. Huahaha. *ups*

Rencananya sih liburan kali ini mau ke Bengkulu bareng keluarga, juga sama Dwi. Tapi, karena jadwal liburku gak sama dengan ibu jadinya gak bisa liburan bareng deh. Mau pergi bareng kakak dan keluarga kecilnya, gak dikasih izin sama ayah. Karena Danish lagi kurang sehat, dia lagi batuk-batuk sekarang. Kakeknya sayang betul sama dia, kagak mau sakitnya makin jadi.

Akhirnya mutusin buat pergi sendiri, bareng Dwi dan ayukku. Ternyata eh ternyata, kontrak kerja ayukku diperpanjang, artinya kagak ada libur panjang, habis tahun baru langsung masuk seperti biasa.

How about Dwi? Ini temanku yang paling manis, punya jadwal libur yang diatur bareng keluarga. Harus match antara satu dengan yang lain. Keluarganya emang keren deh, ayahnya ke Bali, mamaknya ke Bogor, ayuknya ke Batam. Nah dia mau ikut ke Bengkulu, tapi cuma bisa pergi 4 hari doank. Kenapa? Karena harus gantian jaga kucingnya yang baru di caesar. Daripada pergi cuma 4 hari, belum potong di perjalanan. Bisa-bisa kita pada kecapekan, tepar deh. Huaaaa, sungguh tragis nasib liburanku kali ini.

Pergi sendiri? Mana boleh!!! Anak gadis pergi sendiri ke luar kota, mau dicincang hidup-hidup aku sama orang rumah. Ya udahlah, libur kali ini aku mau mengkhatamkan semua buku yang berbaris rapih di meja kamar, pada belum dibaca ituh. Lumayan, nambahin ilmu baru. Juga mau belajar masak, kalo ada kursus masak satu minggu, ikutan aku. Di mana tapi yah?

Bukunya gak sebanyak ini juga, ini hasil googling. Kalo sebanyak ini mah, sebulan juga gak akan kelar!


Yah, sekian tentang liburan. Bahagia itu gak harus dengan berlibur, karena terkadang merefresh pikiran dengan hal-hal yang nampaknya sederhana akan jauh lebih menyenangkan. *menghibur diri* *kemudian nangis dipojokkan kamar*

Senin, 26 November 2012

Berbenah

"Tiap kita mempunyai cara sendiri untuk membaikkan suasana hati. Masalahnya adalah mau atau tidak? Kalo mau, ada 1.001 cara. Kalo tidak mau, ada 1.001 alasan."

-DesiDahlianti-


Yang tau bagaimana cara membaikkan kembali hati kita itu, ya kita sendiri. Masalahnya kita mau atau tidak untuk mengembalikan hati kita menjadi baik lagi? Karena, mau orang ngomong seperti apa, mau pake cara yang bagaimanapun juga tetep gak akan bisa, kalo kitanya sendiri gak mau.

Coba deh lakukan hal-hal yang kamu sukai, misalnya; makan es krim, jalan-jalan, baca buku, denger musik, nonton DVD, cerita ke temen, atau mungkin kamu suka olahraga? Biasanya sih, biasanya, kalo kita udah melakukan hal-hal yang kita sukai, paling tidaklah hati kita akan sedikit membaik. 

Bisa juga dengan berbenah, membenahi kamar kamu mungkin. Mengatur ulang perabotan di kamar, ditata secantik mungkin dan buatlah senyaman mungkin. Karena kamar adalah tempat sgala aktifitas kamu dilakukan, dari istirahat, ibadah, belajar, main internet, merenung, sampe-sampe tempat terbaik untuk menangis.

Gimana suasana hati kamu mau baik coba, kalo kamar kamu ajah udah bikin mumet. Berantakan. Gak tertata dengan rapih. Meletakan barang-barang sesuka hati. Yang suasana hatinya baik ajah bakal jadi gak baik, apalagi hati kamu yang lagi kacau balau. Bakal tambah ruwet deh, dijamin ituh.

Kalo semua udah dilakuin dan ternyata suasana hati kamu masih gak baik juga, ada yang salah sama kamu loh, mari berbenah yuukk. Coba deh mendekatkan diri kepada Yang Maha Membolak-balikan Hati, minta kepada Allah agar hati kita ditenangkan, jiwa kita didamaikan, dan pikiran kita diluruskan. Minta pada-Nya dengan segala kerendahan hati, dengan begitu kamu akan siap untuk kembali dibaikkan hatinya. Dan, kembalilah berinteraksi dengan Al Qur'an. Bukankah Al Qur'an itu adalah obat bagi hati [QS. Yunus: 57]

Masih mau hatinya gak dibaikkan? Dibiarkan slalu resah, gelisah atau bahasa kerennya galau? Oke. Selamat menikmati kegalauan ajah lah kalo gitu. Yang kuat yah. :)

Sabtu, 24 November 2012

Tiba-Tiba

Tiba-tiba ingin jadi pemuda Kahfi, yang tertidur panjang. Dan, saat terbangun waktu telah berganti ratusan tahun, segala keadaan telah berubah, bahkan zaman pun turut berubah.

Tiba-tiba ingin jadi peterpan, yang slalu menjadi anak-anak. Tak dewasa, artinya takkan dipenatkan oleh hal-hal yang memusingkan, bahkan kadang menyakitkan.

Tiba-tiba ingin jadi serabut akar, yang dengan ikhlas memberikan asupan makanan kepada sebatang pohon, tanpa pernah berharap diketahui oleh orang-orang.

Tiba-tiba ingin jadi komputer atau handphone, yang jika diformat ulang semuanya kembali ke awal. Zero. Beberapa file yang tak penting bisa dihapus dan dihilangkan selamanya, menjadi kembali bersih.



Tapi, menjadi diri sendiri, itu jauh lebih seru. Penuh dengan kejutan-kejutan, juga penuh warna. Tidak harus slalu tersenyum, jika ingin menangis, menangislah. Jika tak mampu melanjutkan perjalanan, istirahatlah sejenak. Jika dirasa tak kuat, berpeganglah pada sesuatu yang menguatkan. Jika harapan-harapan tak kunjung menemukan jawaban, mungkin Tuhan punya jawaban yang jauh lebih manis dari yang pernah kita tulis.

Nikmatilah tiap waktu yang berjalan, tiap peristiwa yang terjadi kadang mengajarkan kita sesuatu. Sesuatu yang mungkin saat ini belum nampak sebagai media pengajaran, nanti, nanti kita akan bisa merasakan itu. So, stay strong girl! You're amazing, just the way you are. :)

Kamis, 22 November 2012

Gelembung Udara


Gelembung udara,
Saat meniupkannya, ada buncah kebahagiaan tak terkira,
Melihatnya mengembang, melayang dengan bebas tanpa beban,
Hati ini turut terbawa ke suatu kondisi yang begitu menggembirakan.

Satu detik, dua detik, hingga detik ke lima, ia tetap menyilaukan,
Seketika, di detik ke enam ia menghilang, tersapu angin yang bertiup,
Yaaah, ia benar-benar lenyap, tak bersisa dan tak tentu arah ke mana perginya.

Kau tau, gelembung udara itu ibarat gelembung harapan yang tertiupkan dari hati,
Mengembang, melayang bebas tak bersyarat,
Lalu, ia menguap tersapu waktu,
Menyisakan sekeping hati patah, terpaku menatapnya yang menghilang seketika.

Rabu, 21 November 2012

Gelap, Aku Tak Suka!

 
Aku tak suka gelap,
tapi aku tak bisa tidur dengan lampu yang menyala.
Aku tak suka gelap,
tapi gelap slalu mampu menyembunyikan air mata yang menetes tanpa suara.
Aku tak suka gelap,
tapi membisikkan do'a-do'a dan menitipkan asa padaNya terasa lebih syahdu.
Aku tak suka gelap,
tapi gelap bisa membuat hatiku menjadi lebih tenang, juga mendamaikan jiwa yang nelangsa.

Gelap, aku tak suka!
Tak bisa melihat dengan lebih jelas,
Tak bisa berjalan dengan lebih terarah,
Dan, tak bisa menakar ke mana aku harus melangkah.

Gelap, aku tak suka!
Karena semua menjadi teramat samar,
Semua jadi tak nampak dengan benar,
Dan, semua membuat pandanganku menjadi nanar.

Gelap, aku tak suka!
Meski kunang-kunang nampak cantik, ia tak mampu menerangi dengan baik,
Meski lilin tampak romantis, ia tak bisa menghentikan hati yang turut menangis,

Gelap, aku tak suka!
Maka dari itu buat semuanya terang benderang,
Seterang cahaya matahari di waktu Dhuha,
Secerah sinar rembulan di malam purnama,
Memancar bak lampu-lampu jalan di Ibu Kota, buat semuanya terang. Bisa?

Mimpi Si Putri Tidur


Tak tau harus berpikir seperti apa,
Tak tau juga harus mengambil keputusan yang bagaimana,
Apalagi harus berbicara menyampaikan sesuatu,
Tiba-tiba, aku jadi gagu.

Apakah ini benar adanya?
Aku tidak sedang bermimpi kan?
Seakan menari-nari riang bertemankan kupu-kupu di sebuah taman,
Lalu berlarian di pinggir pantai, mengejar mentari yang akan terbenam,

*plakkk

Sakit! Ternyata aku gak mimpi, ini nyata, kawan,
Tapi, kenapa hatiku seperti berada di alam bawah sadar?
Seakan tanpa beban, seakan terbang bebas mengangkasa,
Melayang, melesat bersama burung-burung kecil menuju awan yang tinggi,

Aku tak bisa memejamkan mata, mungkin tak ingin mata ini terpejam,
Khawatir, jika ada yang bilang, "Selamat pagi, mimpi yang indah?"
Aku takut terbangun, dan ternyata semua itu hanya sebuah mimpi, mimpi yang indah,

Jumat, 16 November 2012

Hello?


Hidup ini ibarat perpindahan dari satu masa ke masa yang lain, dari sebuah moment ke moment yang lain, dari seseorang ke seseorang yang lain. Semua berjalan mengiringi langkah-langkah dalam kehidupan, melengkapi kekurangan di sana sini, memperindahnya dengan hal-hal sederhana.


Yup, betul sekali. Saat kita mengatakan "Selamat Tinggal" pada sesuatu, kita akan mendapatkan "Hai" dari sesuatu yang baru. Mungkin ada yang beda, yah pastinya akan berbeda. Namun, justru di sana letak menariknya sebuah kehidupan, kehidupan yang baru. Dengan hal-hal baru, aktifitas yang juga baru, atau bahkan dengan orang-orang yang baru. Inilah kehidupan, kawan. Tiap sisinya membuat kita seakan tertarik untuk senantiasa mencoba dan terus mencoba, sesuatu yang baru.

Selamat Tahun Baru Islam 1434 H, semoga banyak hal-hal baru yang akan menyertai kita, menjadikan kita seseorang yang jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, menyadarkan kita akan hakikat penerimaan atas sebuah takdir yang telah ditetapkan, mengajarkan kita bagaimana menempah diri menjadi seorang hamba yang dengan ikhlas menyerahkan semua akhir dari sebuah keputusan, hanya kepadaNya; Tuhan semesta alam, Sang Penggenggam Kehidupan, Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu. Allah Aza Wa Jala!