Minggu, 19 Agustus 2012

Tunggu Menunggu

 Kamu tak usah menunggu, ikuti saja jalanmu, kelak aku yang akan menyusulmu.
(Rizky Septian)
Berselancar di twitterland, nemu kata-kata ini. Suka ajah!

Bener banget tuh, gak usah pake istilah tunggu-tungguan deh.
Kalo emang belum siap, ya biarkan saja dia berjalan duluan.
Menyusuri jalan kehidupan dengan langkah-langkah kecilnya.

Emang kamu bisa mastiin dia itu tercipta cuma buat kamu?
Kali ajah ada kamu kamu yang laen, yang dijadikan Tuhan tempat persinggahan sementaranya, sebelum akhirnya dia berlabuh di tempat yang tepat.

Kamu juga gak usah pake mau disuruh nunggu dia,
Ya mending kalo dia dateng, kalo gak?
Apa kamu mau ambil resiko tentang itu?

Kalo emang ternyata dia itu soulmate-nya kamu,
Yang Tuhan ciptakan buat menyempurnakan hidupmu,
Sejauh apapun kamu berjalan, sebanyak apapun tempat yang kamu datangi,
Dia akan menyusulmu, mensejajarkan langkahnya dengan langkahmu,
Lalu berjalan menyusuri guratan-guratan takdirNya dengan sebuah ikatan yang resmi,
tentunya bersertifikat HALAL!


Jangan mau ya disuruh nunggu hal yang gak pasti,
karena ketidakpastian itu akan sangat menyiksamu.

Menggambarkanmu


Kata orang, jodoh kita itu gak akan jauh berbeda dengan diri kita.
Paling gak sih mirip-mirip dikit, ^^

Seperti temenku yang baru menikah, awesome! Wajah mereka mirip banget, uda kaya kakak adek ajah.
Tapi, ada juga yang kemiripannya bukan dari penampilan, tapi dari tingkah laku.
Dan tidak sedikit yang kemiripan mereka tidak terlihat dari penampilan atau pun tingkah laku, melainkan dari cara berpikir, hal-hal yang disukai, dan hal-hal sederhana yang menurutku sangat serasi.


Lalu, aku berpikir. Kamu bakal mirip aku dari yang mana yah??
Apakah wajah kita nanti akan mirip? Hmmmm,...
Apakah kamu akan menyukai hal-hal yang aku suka, hujan, bintang, anak-anak, es krim, dan beberapa hal manis yang agak sedikit childish.

Saat aku mulai berpikir tentang kamu, aku berusaha sebaik mungkin untuk memantaskan diri jadi pendampingmu. Meski dengan keterbatasan yang aku miliki, karena aku tidak sempurna. Dan tidak akan pernah menjadi sempurna, karena mungkin aku lebih di satu sisi tapi banyak yang kurang di sisi lain.

Mengutip kalimat dari Istikharah Cinta:

Kamu tau mengapa Allah menciptakanmu dengan segala kekuranganmu yang ada??

Sebab akan ada saatnya Allah menyempurnakan kekurangan itu dengan hadirnya seseorang yang memiliki apa yang tidak kamu miliki.

Seseorang yang mampu menerima kekuranganmu adalah orang yang mampu menutupi kekurangan itu dengan apa yang ia miliki. InsyaAllah.

Aku percaya itu!
Aku percaya, Allah hanya akan memberikanku kepada seseorang yang istimewa. Kepada kamu yang terikat takdir denganku, tanpa adanya peta, kita berusaha mencari jalan terbaik dengan bermodal petunjuk-Nya, untuk bisa berdampingan bersama nanti.

Sabtu, 18 Agustus 2012

Cerita Ramadhan #Edisi Rempong

Sabtu, 18 Agustus 2012

Seperti malam-malam sebelumnya, aku i'tikaf di Masjid Al Aqobah 1 PUSRI, hari itu aku cuma bertemankan si Dwi.
Ketika sahur, aku dan Dwi pergi ke dapur masjid untuk meminjam gelas.
Di sana, aku melihat seseorang yang aku kenal.
Dan sepertinya dia panitia i'tikaf di sana, wuiih uda berubah tuh temenku, uda jadi ikhwan (emang selama ini akhwat apa? Hehe),

Dan, merasa mengenalku, dia langsung menyapaku, "Des?!"
Dengan rasa percaya diri yang tinggi melangit, aku langsung merespon, "Eh Mario, po kabar?"
Bukannya menjawab, dia langsung ngebalikin badan terus masuk ke dapur.
Karena bingung, aku cuma diem di tempat, sambil ngeliat temennya si Mario itu masih berdiri tidak jauh di depanku, terus dia bilang "Bukan Mario, Rolis namanya."

*gubrakkkkkk!!!

Rasanya aku mau masukin mukaku ke dalam gelas, tapi gak muat.
Malunya itu loh, masa bisa salah nama sih. -,-

Dia aja bisa ngenali aku, padahal waktu SMA dan sekarang aku jauuuuh beda.
Tapi dia masih bisa hafal aja tuh, dan gak salah nama.

Kenapa aku bisa salah ngenalin orang sih? >,<
Ini pasti karena anak-anak SMP yang bilang kalo Mario sekarang uda tobat, waktu di acara buka bersama. Jadi, kupikir dia itu lah yang namanya Mario.
Huufffh, rasanya gak mau lagi ketemu sama tuh orang, maluuuu.

Bener kata Kiki, Jangan Rempong, Nanti Bikin Malu. Hikzzzz, :((

di Ramadhan 1433 H

Malam ini i'tikaf kan?
Ba'da taraweh yo kito berangkat?
Bawa makanan, selimut + radix.

Perasaan pesan kek ini baru terkirim beberapa kali dan sekarang uda dak biso dikirim lagi, rindu pasti akan rindu.

Tahukah kamu, aku menangis bukan hanya karna bulan yang Mulia ini akan pergi, tapi aku sedih jika harus menyadari akankah kita bisa seperti kemaren di Ramadhan tahun depan? Mungkin kamu tidak akan lagi ada di dekatku, hanya Allah yang tau.

I love you, :)
Pesan 3 layar itu terkirim ke Dwi-cat dan Kikiiiiiiii, beriring air mataku yang terus bercucuran, :((

Entahlah,biasanya aku tidak pernah sesedih ini, aku memang sedih jika Ramadhan beranjak meninggalkanku, khawatir tidak akan bisa beribadah seintens di Ramadhan, khawatir jika kesalahan demi kesalahan malah mengantarku pada kemurkaanNya, juga khawatir mengendurnya semangat fastabiqul khoirots-ku.

Ramadhan tahun ini teramat berkesan untukku, aku tidak pernah merasakan kenikmatan beribadah seluar biasa di Ramadhan ini. Banyak sekali hal-hal indah yang terjadi di tahun ini.

Ramadhan mengajarkanku untuk menahan sesuatu yang belum pada tempatnya, dengan berpuasa.
Ramadhan mengajarkanku untuk menyambung silaturahim yang sempat terabaikan, dengan buka bersama.
Ramadhan mengajarkanku untuk belajar disiplin, dengan shalat-shalat sunnah yang bertaburan.

Ya, Ramadhan mengajarkanku untuk komitmen terhadap waktu, karena banyak waktu yang aku miliki kadang terpakai oleh sesuatu yang kurang bermanfaat. Padahal jika aku mau, aku bisa melakukan amalan-amalan di Ramadhan ini pada bulan-bulan yang lainnya. Dengan mempersedikit waktu tidur dan main.


Tapi, ada satu hal yang membuat kesedihan itu semakin bertambah.
Jika harus menyadari bahwasanya mungkin saja Ramadhan tahun depan aku tidak bisa bersama mereka di sini, mungkin ada yang akan segera pergi dari kota ini, menikah ataupun bekerja mungkiiiin.
Hanya Allah yang tau!

Masa-masa saat ini adalah masa-masa indah yang takkan pernah terlupa, hingga nanti kita akan tertawa bersama mengingatnya, ya kita, aku kamu dan dirinya.

Memohon pada-Nya agar diberi kekuatan untuk tetap bertahan, walau tak ada kau di sini. Karena, kelak DIA akan menggantikanmu dengan seseorang yang istimewa di sisiku, ^^

dedicated: Armelia Rizky Hidayati, S.Pd dan Dwi Sagita, S.Pd

Senin, 06 Agustus 2012

Sahabat

Rasulullah bersabda, “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Jika ingin mengetahui kepribadian seseorang, lihatlah dengan siapa ia bersahabat. Dan tanyakan kepada mereka tentang dirinya, karna sahabatnya lebih mengetahui siapa dia dibanding dirinya sendiri.

Dan sahabat yang baik ialah sahabat yang menutupi aib saudaranya, juga tidak akan berbicara jelek tentang sahabatnya.

Sabtu, 23 Juli 2011

Kita Beda Ya???

Kita beda,..
Kalo lagi di kampus aku lebih suka makan bakso/mie ayam/martabak ketimbang makan nasi, karena menurutku makan di luar itu kudu beda dari di rumah.
Kau malah sebaliknya kawan!
Jadilah, kita saling mengalah agar kita bisa tetap tersenyum manis.
Atau terkadang, kau menemaniku jajan terlebih dulu, baru nantinya aku yang menemanimu makan.
Indahnyaaaa…

Kita beda,...
Aku lebih suka duduk diam saat menghadiri kegiatan,
Kau mana bisa duduk diam dalam waktu yang lama.
Kau akan ‘berkeliaran’ ke sana kemari,
Kau selalu bilang, “Aku ini kinestetik, gak bisa diem!”
Jarang sekali ada waktu untuk kita duduk berdekatan…


Kita beda,…
Tidak masalah bagiku jika harus pergi sendiri,
Ataupun ditinggal olehmu,
Akan jadi masalah, jika itu terjadi padamu.
Kau akan manyun atau bahkan marah karena ditinggal sendirian,
Bukan karena apa-apa, kau hanya tidak ingin merasa sendiri.

Kita beda,…
Saat belajar, kau memilih tempat yang sunyi dan tenang,
Aku malah lebih suka belajar bersama-sama.
Kau akan menghafal dengan cara membacanya berulang dalam hati,
Sedangkan aku lebih suka melafazhkannya dengan suaraku.
Aku lebih suka saat belajar diiringi dengan musik,
Kau malah tidak nyaman jika ada suara lain apalagi musik saat kau sedang belajar.
Jadilah, malam itu kita berdebat tentang hal ini.
Malam di mana kita memilih untuk belajar bersama,
Bukannya belajar, ada juga tidur dengan wajah manyun karena semua keras kepala.
Huuu, aku rinduuuuu…

Kita beda,…
Kau yang selalu perhatian mengirim pesan-pesan indah,
Tapi, aku bukanlah tipe orang yang berekspresi dengan kata-kata.
Mungkin kau jemuh karena tak pernah kau terima pesan indah dariku,
Tapi, kelak kau akan tau perhatian dan cintaku tidak berwujud kata kawan…

Eh, ada yang sama…
Kita sama-sama egois, hahaha…
Aku masih ingat saat kita menginap di rumahnya,
Kau dan aku saling berebut bantal guling,
Karena aku dan kau tak bisa tidur tanpa bantal guling.
Akhirnya semalaman kita habiskan dengan tarik menarik bantal,
Aaaaa, kau memang bandel kawan…

Pelangi itu indah karena ragam warna-warninya,Ia melengkung membelah cakrawala dengan kecantikannya.Begitupun pelangi ukhuwah kita,Berwarna-warni tapi tetap indah untuk dinikmati…

Sabtu, 16 Juli 2011

Istikharah Cinta

"Ada amanah yang harus ana sampaikan ke anti."

Sebaris pesan pendek yang dikirimkan oleh salah seorang saudaraku di kampus, jujur sempat melintas sebuah tanya dalam benakku. Amanah? Amanah apakah itu? Semenit kemudian aku menghapus pertanyaan-pertanyan yang mencoba melintas, "Takkan ada apa-apa kok", tegasku menenangkan diri.


Di masjid kampus itu sudah ada yang menunggu di balik hijab, ya dia, saudaraku itu, sendirian. Dengan ditemani seorang teman yang menunggu di teras masjid, aku mulai mendengar kalimat demi kalimat yang disampaikannya padaku. Sebuah pernyataan dan pertanyaan yang membuatku terkejut, hingga aku terdiam karena tidak tau harus bersikap seperti apa dan apa yang harus kujawab.
"Beliau ingin ta’aruf dengan anti, bagaimana menurut anti?"

Kalimat itu lama sekali aku mencernanya, ta’aruf? Berkenalan denganku? Tidak salah? Atau aku salah dengar? Dia? Seseorang yang sama sekali belum pernah melihatku, bagaimana bisa?


"Kenapa harus ana?" tanyaku seadanya, karena terlalu bingung harus berkata apa. Lalu tanpa kusadari ada setetes air yang jatuh dari mataku, membasahi pipiku. Entahlah, aku juga sampai saat ini tak mengerti kenapa air mata itu menetes. Terharukah? Ataukah terlalu kaget, I don’t know about that…

Mulailah hari-hariku dipenuhi dengan ketidak tenangan, ada galau yang menyeruak, ada harapan-harapan yang mulai tumbuh, juga ada banyak pertanyaan yang menghinggapi. Hampir di tiap waktu terbaik untuk berdo’a aku manfaatkan dengan meminta petunjuk dariNya, berharap akan ada jalan untukku. Untuk kebimbangan yang kini melandaku. "Ya Allah, tunjukkanlah pilihan terbaik untukku." Begitu pintaku di tiap do’a-do’a yang terlantun!


Aku pun berbicara dari hati ke hati kepada beberapa orang terdekat, meminta pertimbangan mereka untuk masalahku ini. What should I do???

Malam-malamku tak pernah terlewat dari sujud kepadaNya, juga air mata yang tak henti mengalir setiap aku bicara tentang hal itu padaNya. Karena, hanya Dia-lah yang begitu rela mendengar curahan hatiku ini. Dan hanya Dia juga yang pasti akan memberikan jawaban terbaik.

Hingga suatu hari aku bicara kepada seorang teman, aku menanyakan padanya, "Sebenarnya bagaimana kita bisa mengetahui jawaban dari istikharah kita" Dia berfikir sejenak, lalu kemudian menjawabnya dengan singkat. "Dari bashiroh ukh, ada ketenangan untuk jawaban yang anti putuskan menjadi pilihan anti." Kalimat itu seakan menghujam dalam di hatiku. Lantas, malam itu juga aku memutuskan untuk menerima ta’aruf itu

Tapi, sama sekali tak kutemukan ketenangan untuk jawaban itu. Aku makin gundah bahkan lebih dari sebelumnya, sungguh melelahkan membawa hati seperti itu di saat aku disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang begitu menyita waktuku juga membutuhkan perhatian yang ekstra. Aku begitu kalut, masalah ini sungguh menyita segenap pikiran dan hatiku, hingga aku tak sedikitpun tertarik untuk menyentuh hal lainnya.

Malam berikutnya, aku kembali berbincang pada-Nya. Dan aku bicara padaNya, 
"Ya Allah, jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untukku mengenal seseorang, atau mungkin dia bukanlah orang yang kau pilihkan untukku. Maka, aku tak akan menerima proses ini, jika itu adalah jawaban yang kau berikan, mohon tenangkanlah hatiku, mohon dengan sangat Ya Rabb." 
Dan akhirnya aku mencoba untuk memilih tidak memulai proses itu. Tahukah apa yang terjadi? Sesaat setelah itu, hatiku menjadi begitu damai, sangat damai, bahkan lebih damai dari seminggu yang lalu, sebelum aku mendengar pesan tersebut.

Mungkin inilah yang dinamakan bashiroh, kutemukan jawaban istikharahku. Di luar dari belum turunnya restu keluargaku, orangtuaku yang ingin aku menyelesaikan kuliah terlebih dahulu, juga kedua kakak perempuanku yang belum menikah dan usiaku yang masih terbilang muda.
Maka, lengkaplah jawaban-jawaban yang terpencar itu, hingga ku dapati jawaban itu menjadi utuh. Aku belum bisa memulai proses itu, meski ia hanya sebuah proses awal. Karena bagiku, ta’aruf bukan hanya berkenalan saja, tapi juga satu langkah awal untuk menuju sebuah ikatan yang bernama pernikahan. Lantas, bagaimana mungkin aku sembarang memutuskan untuk hal sepenting ini, aku berharap hanya orang yang berhaklah yang akan aku kenal dan akan mengenalku dengan sebaik-baiknya perkenalan… [Fiksi]

Ditulis dalam rangka
"1 Minggu Menulis Bersama"