Rabu, 05 Mei 2010

Teruntuk LELAKI yang Kukasihi

Duhai lelaki sederhana, yang tak pandai merangkai kata tuk katakan cinta…
Duhai pemuda pelupa, jangan buatku terus mengulang pesan tuk ingatkan kau tentang suatu janji…
Duhai penjaga hatiku, jangan pernah letih menjadi pelipur lara ini…
Duhai engkau yang kukasihi, kuharap engkau akan tetap begini, sesederhana yang kuingin…

Rona wajahmu memang tak seteduh yang kurindu, namun raut itu seakan selalu menghantuiku…
Suaramu juga tak seindah yang kuingin, tapi suara itu mampu hangatkan hatiku yang dingin…
Cerita-ceritamu yang garing kadang membuatku bosan mendengarnya, namun justru hal itu yang jadikanmu berbeda dari yang ada…
Tawamu kadang hentikan senyum bahagiaku, akan tetapi tawamu pula yang hentikan isak tangisku…

Bila orang lain menyebutmu biasa, ketahuilah kau adalah lelaki luar biasa bagiku…
Jika banyak orang seakan tak memandangmu, sadarilah ada aku yang setia menunggu kepulanganmu…
Seandainya semua orang berpaling menjauh darimu, kuberitahukan kepadamu bahwasanya aku akan selalu menemanimu…
Andaikata bidadari dunia enggan tuk kau jemput, akan ada bidadari syurga yang setia menantimu…
Percayalah akan hal itu…  

Terima kasih tlah menjadi jalan tuk sampainya hidayah ini padaku…

Jika ada yang bertanya bagaimana aku bisa seperti saat ini, dengan tegas kukatakan, karena engkau yang tak letih ingatkanku, menyuruhku shalat, menutup aurat, membaca Al Qur’an dan dekat dengan orang-orang yang ‘baik’.

Ya, kau tak pernah letih ajarkan ku tuk terus memperbaiki diri, walau kadang aku tak mengindahkan perkataanmu, bahkan aku slalu menghindar tuk bertemu denganmu.

Namun tak kulihat binar harapan itu menyurut dari wajahmu yang teduh, sungguh kau membuatku pusing tujuh keliling dengan peraturan anehmu itu, kau tak membolehkanku pulang di atas jam 7 malam, tak juga membiarkanku berteman dekat dengan teman-teman lelaki di sekolahku, kau slalu menungguiku ketika kuterima telepon dari teman-temanku. Aku bosan dengan sikapmu itu, tapi kau tak pernah bosan tuk membimbingku.

Kau hadiahkan aku Mushaf Pink itu dikala usiaku menginjak 18 tahun, walau ku tahu kau sangat tak suka warna itu. Dan ketika kutanyakan padamu, kau pun menjawab, “Biar Aci suka bacanya kalo Al Qur’an-nya berwarna pink.” Kau tau duhai lelaki yang kusayangi, air mataku mengalir di dalam kamar kecilku itu. Aku suka, sukaaaa sekali dengan pemberianmu itu. Itu kado terindah yang pernah kudapat, “terima kasih” mungkin aku belum mengutarakan kalimat ini padamu.

Masihkah kau ingat di miladku yang ke 19 tahun?? Kau menemaniku pergi ke pasar tuk membelikanku 2 potong jilbab yang telah lama ku suka, jilbab pink dan ungu muda dengan motif bunga-bunga. Aku slalu teringat padamu tat kala aku memakainya, sungguh aku bahagia karena engkau ada di sampingku.


Memenuhi inginku yang tak terkira, dengan keterbatasan yang kau punya…

Terima kasih juga tuk tumpukan buku-buku yang kupunya di kamar, karena sebagian darinya adalah pemberian darimu, kau ingin melihat senyum di bibirku, tat kala kudapat ilmu baru dari buku-buku yang kubaca…

Aku masih ingat sekali ketika kukatakan aku akan memakai jilbab, engkau sangat bahagia mendengar kabar itu, kau carikan beberapa potong pakaian muslimah untukku, dan kau tak pernah lupa memujiku tiap kali aku sudah rapi dengan pakaian muslimahku dan siap pergi ke luar. “Kan cantik kalo gini, kenapa ga dari dulu ya?”

Takkan habis kata tuk ceritakan semua tentangmu. Hanya Allah yang bisa membalas semua jasamu, aku hanya bisa berdo’a yang terbaik untukmu, seseorang yang kusayangi…

Terima kasih tlah luangkan waktu

Tuk dengarkan cerita-ceritaku yang tak penting, walau kadang kau tengah disibukkan dengan pekerjaanmu yang dikejar deadline…

Mungkin bagi sebagian orang, teman adalah tempat cerita yang paling nyaman, ataupun yang menjadikan ibu sebagai tempat mencurahkan isi hati. Aku memilih dirimu untuk tempatku berbagi, walau kadang kau tak pandai menanggapi tiap celoteh-ku itu. Sepulang dari kampus ataupun dari majelis-majelis ilmu, ketika di rumah yang kucari hanya dirimu, aku ingin membagi kisahku hari itu, ingin kau mengetahui aktifitasku, ingin kau menanggapi meski hanya dengan seulas senyum yang kau paksakan, aku tetap suka. Maka jangan pernah letih tuk menjadi pendengar setiaku!
 
Terima kasih tuk waktu-waktu indah itu…

Makan malam berdua denganmu, banyak yang melirik lirih ke arahku. Gadis berjilbab lebar pergi berdua dengan seorang lelaki malam-malam, mau jadi apa? Aku tak peduli, toh aku tak berbuat sesuatu yang salah. Yang jelas aku bahagia, bisa makan makanan yang kusuka bersamamu, ^___^

Pergi ke tempat hiburan, kau slalu menyempatkan waktumu yang sibuk tuk mengajakku sedikit merefresh pikiranku ke tempat-tempat yang tak pernah kudatangi sebelumnya. Aku merasa istimewa saat kau mau melakukan itu,…

Makan Ice Cream berdua, mungkin hal itu biasa bagi banyak orang. Tapi bagiku, makan ice cream bersamamu adalah suatu kenangan indah, aku memaksamu tuk membelikanku ice cream dan makan di sana. Meskipun kau sempat menolak, tapi dengan santainya kutarik tanganmu tuk masuk ke toko itu…
Dan banyak waktu indah yang telah kita lalui bersama…

Terima kasih telah jadi ayah kedua bagiku…
Sedari kecil aku tak begitu dekat dengan ayah, sikapnya yang tegas dan seakan terlihat keras membuatku agak takut dekat dengannya, takut berkata salah, takut sikapku menyinggungnya dan beragam ketakutan yang melekat sejak kecil itu masih kerap kali kurasakan hingga kini. Dan jarang sekali kulalui waktu bersamanya, kadang ia terlalu sibuk tuk sekedar berbincang dengan gadis kecilnya ini, jujur aku rindu sosok ayah yang slalu melindungiku, yang menjadi orang pertama yang kuhubungi ketika aku mengalami masalah, aku ingin sosok itu ada, dengan wajah teduhnya menyambutku dengan senyum ketika aku pulang, tapi jarang sekali kudapati ia pulang lebih awal dariku, bahkan mungkin aku telah lelap di tidurku barulah ia pulang.

Tapi, aku tak pernah merasa sosok itu hilang. Karena ada engkau yang slalu menjadi pengganti hadirnya sosok yang kurindu itu, engkau tak pernah letih menjadi orang yang melindungiku, betapa sering kudapati engkau lebih khawatir ketimbang ayah atas sikap remajaku yang tak seperti dirimu dan kakak perempuanku itu, engkau yang slalu sibuk mengingatkanku, kau juga kerap kali yang memberiku uang jajan ketika aku tak berani meminta pada ayahku…

Terima kasih telah menjadi ayah kedua bagiku, walau kau takkan pernah bisa menjadi seseorang yang seperti ayahku. Karena ayahku tetaplah pribadi yang istimewa, memang ia terkesan cuek denganku, tapi sering kali kudengar ia menanyakan pada ibuku tentang kita, bagaimana perkembanganku, apa yang sedang aku lakukan, dan dia pun tetap menjadi sosok yang takkan pernah tergantikan oleh siapapun di dunia ini. Begitulah caranya menyatakan cinta, dengan cara yang tak pernah kupikirkan. Ia punya cara sendiri tuk mencintaiku, dirimu, kakak perempuanku, juga ibuku yang istimewa itu. Dia tetaplah orang kedua di dunia ini yang harus kuhormati, setelah ibuku. Akan tetap begitu, hingga posisinya belum tergantikan oleh si ‘dia’ yang ditakdirkan untukku. Menghormati dan menyanyanginya adalah wujud baktiku padanya…

Dan maafkan aku…

Kadang kuminta sesuatu darimu dengan ketaksabaran yang kupunya, menginginkanmu tuk penuhi inginku, betapa sering aku berbuat dzhalim padamu, dan betapa sering kau hanya tersenyum melihat sikap kekanak-kanakan ku itu…

Kadang aku memaksamu tuk terjaga dari tidur lelapmu, hanya tuk membantuku hilangkan rasa sakit karena kakiku yang sering kram tat kala di siang harinya ku lalui hari dengan banyak langkah yang ku jejaki, dengan puluhan tangga yang harus kutapaki. Maafkan aku sering mengganggu malam-malammu, karena sampai saat ini hanya kau yang mengerti cara hilangkan kram di kaki itu…

Sering kali aku mengirim pesan agar kau menjemputku, tak jarang kuhadiahkan wajah manyun ketika kau terlambat menjemputku. Namun kau hanya tersenyum, berbuat hal aneh agar aku tersenyum dan akhirnya aku pun ikut tersenyum dengan tingkahmu yang tak lucu, tapi kau paksakan agar terlihat lucu… ^__`

Maaf juga karena sakitku yang rewel, minta ini minta itu. Dan kau slalu penuhi pintaku itu, membelikan jeruk yang kusuka, roti bakar yang kumau, dan beragam makanan yang kerap kali kau berikan tuk aku, karena lidahku yang banyak maunya ketika sakit, walau kadang makanan itu tak kusentuh…

Wahai lelaki yang kukasihi, sungguh takkan pernah habis kisah tentangmu yang terangkum dalam memori indah yang begitu mengesankan…
Terima kasih tuk semuanya, bahagia karena Allah menganugerahkan dirimu tuk temani hari-hari indahku,…
Kakakku, sungguh aku mencintaimu karena-Nya…

Banyak do’a yang kulantunkan untukmu, semoga engkau tetap menjadi kakak yang ku kenal di awal hijrah, berharap engkau tetap menjadi contoh bagi adik-adikmu, semoga engkau segera dipersatukan dengan bidadari itu, agar aku bisa segera mempunyai kakak ipar, punya keponakan dan ada yang memanggilku ‘amma’. Meski hanya do’a yang bisa kuberi, kuberharap hal itu takkan membuatmu kecewa karenanya. Mungkin hanya itu yang bisa kuberikan sebagai wujud kasihku padamu.
Ana uhibbukafillah ya akhi…

Dengan Cinta-Nya

Adindamu (Desi Dahlianti)