Sabtu, 08 Juni 2013
Misteri Nama Ayah
Entah berawal dari mana semua ini, nama ayah itu seakan sebuah aib yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Dulu. Waktu masih sekolah. Aku kira itu cuma cara anak jaman dulu buat ngebully temennya, eh ternyata nyampe sekarang juga masih sering denger anak-anak sekolah saling nyebutin nama ayah-ayah mereka. Duniaaa...
Waktu SMP aku itu terkenalnya dengan sebutan 'Anak Alam' atau 'Desi si Embek'. Si embek, karena aku hampir tiap hari slalu ngiket rambut jadi dua, persis kambing kata mereka. Ish, dasar anak-anak nyebelin. Nah kalo anak Alam itu, karena nama ayahku Alamsyah. Jadi, hampir tiap ada kata-kata 'alam', mereka nyebutnya dengan lantang selantangnya. Pas ngaji juga, kan di tiap Jum'at slalu baca al qur'an. Pas ada ayat 'alam', mereka semua teriak sambil ngeliat ke arah aku dengan senyum nyebelin. Semoga Allah mengampuni mereka semua, :D
Di SMA juga sama, entahlah anak-anak ini doyan banget ngerjain orang pake nama ayah. Dan, herannya kenapa juga aku itu kesel yah kalo mereka nyebut nama ayahku. Emang kenapa, kan gak masalah juga kalo mereka nyebutin nama ayah kita. Jadi terkenal donk ayahku, harusnya. -___-"
Lucunya yah pas ayahku ngambil rapor, anak-anak itu saking seringnya manggil aku dengan panggilan 'alam', jadi pas ngeliat aku jalan ke kelas dan ayah jalan di depanku. Mereka dengan santainya bilang, "Hei Lam, siapo yang ngambil rapot." Rasanya yah, aku pengen ketawa, tapi sambil mukul mereka pake sapu kelas. Untungnya ayah gak denger, kalo denger bisa dilarang temenan lagi aku sama mereka. :))
Dan tadi juga sama, pas wali murid dari anak-anak kelas 6 datang ke sekolah buat ngambil hasil kelulusan. Mereka kan ngisi daftar hadir, dan anak-anak itu sengaja mau lihat daftar hadir itu cuma buat nyari tau nama ayah/ibu temen mereka doank. Ya ampun, gak dulu gak sekarang sama ajah keknya. Ckckck...
Kenapa Berbeda?
Ada yang bilang, seeorang kadang melakukan kesalahan bukan karena dia sengaja melakukannya. Melainkan karena dia tidak tahu, apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan.
Tiap kita pasti memiliki pandangan sendiri terhadap sesuatu. Mungkin bagi kita pandangan kita itu adalah sesuatu yang benar, tapi mungkin tidak untuk orang lain. Kenapa? Karena seringnya kita tidak tahu atau malah tidak mau tahu, apakah itu sesuatu yang salah atau kah benar.
Seperti kemarin. Ada mobil yang melaju dengan santainya di jalan satu arah, pengemudi itu merasa dia berjalan pada jalan yang benar. Hingga ia terus-terusan mengklakson pengendara lain yang menghalangi jalannya. "Ini orang pasti bukan orang sini." pikirku
Yah. Kita memiliki banyak sekali orang-orang di sekitar, dengan latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan dan profesi yang berbeda. Sebagian dari kita memiliki karakter bentukan dari tempat di mana kita tumbuh dan berkembang.
Dengan siapa kita berteman, berbagi cerita, dengan siapa kita mengisi hari-hari, juga dengan siapa kita mendapati jawaban dari tanya yang sempat muncul dalam benak kita, merupakan satu dari banyak hal yang mempengaruhi siapa diri kita.
Maka aku akan coba memahami, bahwasanya kita jelas berbeda. Aku, kamu dan dia tidak tumbuh di tempat yang sama, dengan lingkungan yang sama, juga dengan teman-teman yang sama. Kita jelaslah berbeda.
Mungkin menurut pemahamanku, apa yang aku lakukan ini dan itu adalah sesuatu yang benar. Mungkin bagimu malah sebaliknya, aku adalah sosok yang aneh. Yang tidak sama dengan orang-orang yang ada di lingkunganmu. Aku dan kau berbeda.
Aku akan tersenyum saja, saat ada yang bilang aku ini orang yang aneh. Seseorang yang bilang ingin menikah tapi tidak mau pacaran, yang lebih memilih jalan kaki ketimbang dibonceng pulang oleh dia yang tinggal dekat rumah, yang memilih tetap memakai pakaian lengkap di kolam renang, yang buru-buru cari kesibukan di saat ada dia yang ingin pamit dan berjabat tangan.
Yah, aku mungkin aneh menurutmu. Tapi, aku bukanlah orang aneh di lingkunganku, aku adalah aku. Yang tidak jauh berbeda dengan mereka yang memiliki pemahaman yang sama denganku.
Begitu juga denganmu. Mungkin sepemahamanmu, sejauh ini kau melakukan apa yang dalam benakmu adalah bukan sesuatu yang salah. Karena orang-orang di sekitarmu melakukan hal yang sama, jadi bukankah ini harusnya tidak masalah.
Berjabat tangan bukankah hal yang biasa, semua orang juga melakukan hal itu. Laki-laki dan laki-laki, perempuan dan perempuan, laki-laki dan perempuan. Toh presiden kita pun melakukan hal itu juga, jadi tak masalah donk. Bercampur baur antara lelaki dan perempuan bukankah tidak masalah, kan gak ngapa-ngapain juga. Toh mereka semua juga teman, bahkan sudah seperti keluarga. Masalah? Terus, apa salahnya jika berakrab dengan teman-teman kita sendiri. Kan hanya teman, kenapa sih itu harus jadi masalah?
Itu adalah statement yang sering sekali aku dengar. Hmmm, aku juga sering berpikir seperti itu. Tapi, kau akan mengerti dan paham jika kau mau mencoba memahami, mencari tau alasannya seperti apa, bukan malah sibuk bertanya ini dan itu, lalu ogah untuk mencari tau jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan itu.
Hmmm, singkat cerita. Yuk ikutan tarbiyah, biar kita bisa satu pemahaman. Biar kita tidak akan lagi merasa jauh berbeda, biar aku dan kamu tidak akan ada jarak karena pemikiran kita yang tak sepaham. Sungguh, aku tak sebaik yang kau pikirkan. Aku hanya seorang yang sedang belajar dan mencoba melakukan apa yang sudah aku pelajari. Bukankah tiap kita memang menginginkan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik di tiap waktu. Belajar bersama, aku rasa bukan ide yang buruk, ya kan?
Tiap kita pasti memiliki pandangan sendiri terhadap sesuatu. Mungkin bagi kita pandangan kita itu adalah sesuatu yang benar, tapi mungkin tidak untuk orang lain. Kenapa? Karena seringnya kita tidak tahu atau malah tidak mau tahu, apakah itu sesuatu yang salah atau kah benar.
Seperti kemarin. Ada mobil yang melaju dengan santainya di jalan satu arah, pengemudi itu merasa dia berjalan pada jalan yang benar. Hingga ia terus-terusan mengklakson pengendara lain yang menghalangi jalannya. "Ini orang pasti bukan orang sini." pikirku
Yah. Kita memiliki banyak sekali orang-orang di sekitar, dengan latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan dan profesi yang berbeda. Sebagian dari kita memiliki karakter bentukan dari tempat di mana kita tumbuh dan berkembang.
Dengan siapa kita berteman, berbagi cerita, dengan siapa kita mengisi hari-hari, juga dengan siapa kita mendapati jawaban dari tanya yang sempat muncul dalam benak kita, merupakan satu dari banyak hal yang mempengaruhi siapa diri kita.
Maka aku akan coba memahami, bahwasanya kita jelas berbeda. Aku, kamu dan dia tidak tumbuh di tempat yang sama, dengan lingkungan yang sama, juga dengan teman-teman yang sama. Kita jelaslah berbeda.
Mungkin menurut pemahamanku, apa yang aku lakukan ini dan itu adalah sesuatu yang benar. Mungkin bagimu malah sebaliknya, aku adalah sosok yang aneh. Yang tidak sama dengan orang-orang yang ada di lingkunganmu. Aku dan kau berbeda.
Aku akan tersenyum saja, saat ada yang bilang aku ini orang yang aneh. Seseorang yang bilang ingin menikah tapi tidak mau pacaran, yang lebih memilih jalan kaki ketimbang dibonceng pulang oleh dia yang tinggal dekat rumah, yang memilih tetap memakai pakaian lengkap di kolam renang, yang buru-buru cari kesibukan di saat ada dia yang ingin pamit dan berjabat tangan.
Yah, aku mungkin aneh menurutmu. Tapi, aku bukanlah orang aneh di lingkunganku, aku adalah aku. Yang tidak jauh berbeda dengan mereka yang memiliki pemahaman yang sama denganku.
Begitu juga denganmu. Mungkin sepemahamanmu, sejauh ini kau melakukan apa yang dalam benakmu adalah bukan sesuatu yang salah. Karena orang-orang di sekitarmu melakukan hal yang sama, jadi bukankah ini harusnya tidak masalah.
Berjabat tangan bukankah hal yang biasa, semua orang juga melakukan hal itu. Laki-laki dan laki-laki, perempuan dan perempuan, laki-laki dan perempuan. Toh presiden kita pun melakukan hal itu juga, jadi tak masalah donk. Bercampur baur antara lelaki dan perempuan bukankah tidak masalah, kan gak ngapa-ngapain juga. Toh mereka semua juga teman, bahkan sudah seperti keluarga. Masalah? Terus, apa salahnya jika berakrab dengan teman-teman kita sendiri. Kan hanya teman, kenapa sih itu harus jadi masalah?
Itu adalah statement yang sering sekali aku dengar. Hmmm, aku juga sering berpikir seperti itu. Tapi, kau akan mengerti dan paham jika kau mau mencoba memahami, mencari tau alasannya seperti apa, bukan malah sibuk bertanya ini dan itu, lalu ogah untuk mencari tau jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan itu.
Hmmm, singkat cerita. Yuk ikutan tarbiyah, biar kita bisa satu pemahaman. Biar kita tidak akan lagi merasa jauh berbeda, biar aku dan kamu tidak akan ada jarak karena pemikiran kita yang tak sepaham. Sungguh, aku tak sebaik yang kau pikirkan. Aku hanya seorang yang sedang belajar dan mencoba melakukan apa yang sudah aku pelajari. Bukankah tiap kita memang menginginkan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik di tiap waktu. Belajar bersama, aku rasa bukan ide yang buruk, ya kan?
Pergi Jauh
Pada suatu ketika, ada semacam perasaan ingin pergi jauh,
jauh sekali.
Lalu, kaki berhenti melangkah,
karena tak ada tempat yang hendak dituju.
Bukan ke puncak gunung yang tinggi,
bukan ke pantai yang menghampar luas,
bukan juga ke dasar lautan ataupun ke ujung dunia.
Aku tak mampu, langkahku terhenti pada mereka yang akan mencari,
mencari dengan segenap kekhawatiran di hati,
ke manakah gadis keras kepala ini pergi.
Kemudian kudengar sebuah suara berkata,
"Jika tak bisa pergi ke tempat yang jauh, pergilah ke tempat yang tinggi."
Setidaknya kau akan merasa jauh,
jauh dari tempat di mana ingin kau tingggal pergi.
jauh sekali.
Lalu, kaki berhenti melangkah,
karena tak ada tempat yang hendak dituju.
Bukan ke puncak gunung yang tinggi,
bukan ke pantai yang menghampar luas,
bukan juga ke dasar lautan ataupun ke ujung dunia.
Aku tak mampu, langkahku terhenti pada mereka yang akan mencari,
mencari dengan segenap kekhawatiran di hati,
ke manakah gadis keras kepala ini pergi.
Kemudian kudengar sebuah suara berkata,
"Jika tak bisa pergi ke tempat yang jauh, pergilah ke tempat yang tinggi."
Setidaknya kau akan merasa jauh,
jauh dari tempat di mana ingin kau tingggal pergi.
Rabu, 05 Juni 2013
Sesulit Itukah?
Beberapa waktu yang lalu aku masih beranggapan bahwa 'patah hati' hanya sebuah peristiwa, di mana hatimu merasa sakit karena seseorang, lalu akan membaik beriringan waktu, ya sesimple itu. Sampai suatu hari, aku mendapati seseorang yang tidak seperti seseorang yang kukenal. Alasannya; karena ia sedang patah hati.
Dia teman sekolahku, kita sangat akrab dulunya. Tapi sekarang udah jarang ketemu, padahal rumahnya gak begitu jauh dari rumahku. Kemarin ada kesempatan jalan bareng, berburu es krim tepatnya. Kita ngobrolin banyak hal, dari pekerjaan, harapan, kenangan, juga tentang apa yang tak terkatakan oleh lisan.
Aku sempat mendapat kabar kalo temanku ini dirawat di Rumah Sakit dua bulan yang lalu, katanya dia pingsan di kelas. Karena kecapekan dan dia harus beristirahat total beberapa waktu. Yah, aku pikir itu murni karena kelelahan. Ternyata,...
"Melupakan itu gak semudah yang dikatakan loh, Des." ucapnya tiba-tiba
"Aku sudah coba menyibukkan diri, mengambil tiap kesempatan kerja yang ditawarkan, aku kerja dari pagi sampai malam. Hampir slalu telat makan. Tapi, dia tetap betah mengusik pikiranku di waktu malam. Di saat aku tak melakukan apa-apa, aku tetap terpikir tentangnya. Aku capek. Tapi, aku tak sekejam itu untuk membunuh rasa yang ada di hatiku. Aku harus seperti apa?" dia menatapku dengan senyum yang dipaksakan
Hmmm, tentang hal satu ini aku mati kutu deh. Karena semua kalimat nasehat ataupun saran-saran terbaik takkan banyak membantu sepertinya. Hanya hatimu lah yang bisa menjawabnya. Apa yang ia inginkan, apa yang harusnya dia lakukan di saat seperti ini. Karena aku tak pernah menjadi dirinya, aku tak merasakan seperti apa yang ia rasakan, maka aku tak akan mengatakan sesuatu yang mungkin 'sulit' dilakukan olehnya.
Ingin sekali bilang ke dia, "Hei kawan, sebenarnya tentang urusan perasaan tak usah terlalu berlebihanlah dalam menyikapinya. Walaupun sakit, meski ada luka yang bersarang di hati saat ini. Nanti, waktu dengan sendirinya akan mengobatinya. Yah, perkara cepat atau lambat itu tergantung padamu. Mau terus-menerus merasakan sakit, atau ingin segera baik dan berusaha menyembuhkannya."
Tapi, lidahku terlalu keluh untuk mengatakannya. Di matanya ada binar bahagia saat bicara tentang seseorang itu, di matanya juga ada kilatan harapan untuk bisa bersama orang itu lagi. Walaupun lisannya berkata, "Carikanlah seseorang untukku, ayolah."
Aduhai kawan, kau tak pandai berbohong. Di wajahmu begitu jelas tergambar betapa kau sulit melupa, bukan karena tak bisa, tapi karena kau tak mau melupa. Yah, mungkin waktu dan kenyataan yang akan menyadarkanmu. Bahwasanya ia, seseorang yang menghuni hatimu itu perlahan semakin jauh dan jauh meninggalkanmu. Move on dong dear, banyak hal yang jauh lebih menarik yang mungkin bisa dikenang dan menetap dalam ingatanmu. Lepaskanlah ia, akan ada yang melega setelahnya, hatimu...
*kenapa orang-orang sering banget curhat tentang yang kek begini yah ke aku, -___-" | lantas aku cerita ke siapa donk yaaah? #ehh =))
Dia teman sekolahku, kita sangat akrab dulunya. Tapi sekarang udah jarang ketemu, padahal rumahnya gak begitu jauh dari rumahku. Kemarin ada kesempatan jalan bareng, berburu es krim tepatnya. Kita ngobrolin banyak hal, dari pekerjaan, harapan, kenangan, juga tentang apa yang tak terkatakan oleh lisan.
Aku sempat mendapat kabar kalo temanku ini dirawat di Rumah Sakit dua bulan yang lalu, katanya dia pingsan di kelas. Karena kecapekan dan dia harus beristirahat total beberapa waktu. Yah, aku pikir itu murni karena kelelahan. Ternyata,...
"Melupakan itu gak semudah yang dikatakan loh, Des." ucapnya tiba-tiba
"Aku sudah coba menyibukkan diri, mengambil tiap kesempatan kerja yang ditawarkan, aku kerja dari pagi sampai malam. Hampir slalu telat makan. Tapi, dia tetap betah mengusik pikiranku di waktu malam. Di saat aku tak melakukan apa-apa, aku tetap terpikir tentangnya. Aku capek. Tapi, aku tak sekejam itu untuk membunuh rasa yang ada di hatiku. Aku harus seperti apa?" dia menatapku dengan senyum yang dipaksakan
Hmmm, tentang hal satu ini aku mati kutu deh. Karena semua kalimat nasehat ataupun saran-saran terbaik takkan banyak membantu sepertinya. Hanya hatimu lah yang bisa menjawabnya. Apa yang ia inginkan, apa yang harusnya dia lakukan di saat seperti ini. Karena aku tak pernah menjadi dirinya, aku tak merasakan seperti apa yang ia rasakan, maka aku tak akan mengatakan sesuatu yang mungkin 'sulit' dilakukan olehnya.
Ingin sekali bilang ke dia, "Hei kawan, sebenarnya tentang urusan perasaan tak usah terlalu berlebihanlah dalam menyikapinya. Walaupun sakit, meski ada luka yang bersarang di hati saat ini. Nanti, waktu dengan sendirinya akan mengobatinya. Yah, perkara cepat atau lambat itu tergantung padamu. Mau terus-menerus merasakan sakit, atau ingin segera baik dan berusaha menyembuhkannya."
Tapi, lidahku terlalu keluh untuk mengatakannya. Di matanya ada binar bahagia saat bicara tentang seseorang itu, di matanya juga ada kilatan harapan untuk bisa bersama orang itu lagi. Walaupun lisannya berkata, "Carikanlah seseorang untukku, ayolah."
Aduhai kawan, kau tak pandai berbohong. Di wajahmu begitu jelas tergambar betapa kau sulit melupa, bukan karena tak bisa, tapi karena kau tak mau melupa. Yah, mungkin waktu dan kenyataan yang akan menyadarkanmu. Bahwasanya ia, seseorang yang menghuni hatimu itu perlahan semakin jauh dan jauh meninggalkanmu. Move on dong dear, banyak hal yang jauh lebih menarik yang mungkin bisa dikenang dan menetap dalam ingatanmu. Lepaskanlah ia, akan ada yang melega setelahnya, hatimu...
*kenapa orang-orang sering banget curhat tentang yang kek begini yah ke aku, -___-" | lantas aku cerita ke siapa donk yaaah? #ehh =))
Jika dan Jika
Jika tak bisa menolong orang lain, janganlah pula menambah kesulitan padanya.
Jika tak bisa melakukan banyak hal, cukuplah tunaikan yang sedikit dengan baik.
Jika tak bisa bertanggung jawab, jangan pernah menjanjikan sebuah harapan.
Jika tak bisa menunaikan kewajiban, janganlah pula menuntut hak dengan terlalu.
Jika kau tak sungguh-sungguh, jangan datang pada dia yang berhati tulus.
Jika kau tak berniat menetap, jangan datang pada dia yang setia.
Jika kau tak bisa menepati janji, jangan datang pada dia yang menanti dengan hati.
Loh, kok nyambungnya ke sini sih. *dudududu :))
Selasa, 04 Juni 2013
Lembar Amal Yaumi
“Mb, kenapa sih amalan harian kita harus ditulis? Bukannya nanti jatuhnya jadi riya’?”
Seorang adik binaanku bertanya, saat kubagikan lembar amal yaumi yang harus mereka isi di tiap pekan. Dan kuminta untuk mencatat di selembar kertas, tiap amalan yang mereka kerjakan. Berapa kali dalam sepekan mereka tahajud, shalat dhuha, shalat sunnah rawatib, membaca al ma’tsurat, berapa lembar tilawah, olahraga, membaca buku, dll
Dulu aku juga bertanya hal yang sama dengannya kepada murabbiyahku, karena menurutku amalan seseorang itu harusnya hanya dia dan Tuhan saja yang tahu. Gak perlu lah dituliskan dan diketahui oleh orang lain.
Lalu murabbiyahku menjelaskan, para Sahabat Rasulullah SAW selalu dengan lantang menjawab ketika ditanyakan amalan apa saja yang tlah dikerjakan. Dan, Sahabat yang slalu mengangkat tangan adalah Abu bakar. Mereka senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Itu adalah salah satu cara Rasulullah SAW untuk memotivasi para Sahabat.
Awalnya mungkin ada perasaan malu jika catatan amalan kita kosong, ataupun terisi sedikit. Tapi, lama kelamaan kita akan terbiasa, untuk melakukan itu bukan hanya karena malu dilihat oleh murabbi ataupun teman halaqah. Melainkan malu jika amalan kita tidak sebanding dengan banyaknya nikmat yang Allah berikan, amalan kita itu merupakan wujud syukur kita kepadaNya.
Aku jadi ingat di salah satu halaqahku dulu, murabbiyahku slalu merekap lembar amal yaumi di tiap akhir bulan. Dan beliau slalu menyebutkan semua nama lengkap dengan amalannya di bulan itu.
Yah, setibanya di namaku. Rasanya aku ingin sembunyi dibalik lemari, saat amalanku disebutkan. Sungguh malu. Secara kuantitas atau mungkin kualitasnya juga, aku sering tertinggal jauh dari teman halaqahku yang punya 3 anak. Yang otomatis dia itu pasti lebih sibuk dariku, mengurus anak, suami, rumah dan sgala kepentingan rumah tangganya. Sedangkan aku, masih sendiri, hanya mengurus diri sendiri. Kok bisa ketinggalan jauh, waktu-waktuku kuisi apa saja ia?
Jadi kebayang, bagaimana nanti ketika di akhirat. Saat catatan amalan kita disebutkan di hadapan semua manusia, amalan baik akan membuat kita selamat, dan amalan buruk akan membuat kita tamat. Ya Rabb,…
Seorang adik binaanku bertanya, saat kubagikan lembar amal yaumi yang harus mereka isi di tiap pekan. Dan kuminta untuk mencatat di selembar kertas, tiap amalan yang mereka kerjakan. Berapa kali dalam sepekan mereka tahajud, shalat dhuha, shalat sunnah rawatib, membaca al ma’tsurat, berapa lembar tilawah, olahraga, membaca buku, dll
Dulu aku juga bertanya hal yang sama dengannya kepada murabbiyahku, karena menurutku amalan seseorang itu harusnya hanya dia dan Tuhan saja yang tahu. Gak perlu lah dituliskan dan diketahui oleh orang lain.
Lalu murabbiyahku menjelaskan, para Sahabat Rasulullah SAW selalu dengan lantang menjawab ketika ditanyakan amalan apa saja yang tlah dikerjakan. Dan, Sahabat yang slalu mengangkat tangan adalah Abu bakar. Mereka senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Itu adalah salah satu cara Rasulullah SAW untuk memotivasi para Sahabat.
Awalnya mungkin ada perasaan malu jika catatan amalan kita kosong, ataupun terisi sedikit. Tapi, lama kelamaan kita akan terbiasa, untuk melakukan itu bukan hanya karena malu dilihat oleh murabbi ataupun teman halaqah. Melainkan malu jika amalan kita tidak sebanding dengan banyaknya nikmat yang Allah berikan, amalan kita itu merupakan wujud syukur kita kepadaNya.
Aku jadi ingat di salah satu halaqahku dulu, murabbiyahku slalu merekap lembar amal yaumi di tiap akhir bulan. Dan beliau slalu menyebutkan semua nama lengkap dengan amalannya di bulan itu.
Yah, setibanya di namaku. Rasanya aku ingin sembunyi dibalik lemari, saat amalanku disebutkan. Sungguh malu. Secara kuantitas atau mungkin kualitasnya juga, aku sering tertinggal jauh dari teman halaqahku yang punya 3 anak. Yang otomatis dia itu pasti lebih sibuk dariku, mengurus anak, suami, rumah dan sgala kepentingan rumah tangganya. Sedangkan aku, masih sendiri, hanya mengurus diri sendiri. Kok bisa ketinggalan jauh, waktu-waktuku kuisi apa saja ia?
Jadi kebayang, bagaimana nanti ketika di akhirat. Saat catatan amalan kita disebutkan di hadapan semua manusia, amalan baik akan membuat kita selamat, dan amalan buruk akan membuat kita tamat. Ya Rabb,…
Senin, 03 Juni 2013
#GakPenting
![]() |
| Kalo lagi sMs an sama ibu hamil, kamu kudu sabarrrr! Kadang mereka
suka ngirim pesan yang sama beberapa kali, dan ngarep kita bisa
menanggapi pesan mereka dengan jelas sejelas jelasnya. |
![]() | |
| Ini satu lagi, temen gue yang reaksinya super cepet. Jadi, gak begitu diperhatiinnya pesan orang itu apa. Note: ngambek=ngambil |
Langganan:
Postingan (Atom)




