Kamis, 09 Desember 2010

Ujian dari-Nya, Wujud Cinta-Nya


Futur itu ujian, Allah ingin melihat upaya Qta untuk keluar dari sana.
Istiqomah itu ujian, Allah ingin melihat sejauh mana Qta bisa bertahan di jalanNya.
Lelah itu pun ujian, Allah tengah membedakan Qta dari mereka yang lalai.
Santai itu juga ujian, Allah sedang menanti upaya Qta untuk menyadari betapa buruknya aktifitas santai di tengah aktifitas dakwah.
Marah itu ujian, Allah hendak menguji semampu apa Qta menahan diri Qta.
Sabar itu juga ujian, Allah hendak menguji seberapa kuat Qta menjaganya tuk tetap ada di diri Qta.
Persahabatan itu pun ujian, Allah ingin mengetahui sejauh mana Qta mampu memahami arti dari sebuah kesetiaan, kasih sayang, dan kepeduliaan.
Pertengkaran itu ujian, Allah ingin melihat telah sampai mana kedewasaan dan kebijaksanaan yang slalu Qta banggakan itu..

Senin, 06 Desember 2010

Beginilah Seharusnya CINTA..

Di sana, ada cita dan tujuan
Yang membuatmu menatap jauh ke depan
Di kala malam begitu pekat
Dan mata sebaiknya dipejam saja
Cintamu masih lincah melesat
Jauh melampaui ruang dan masa
Kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
Lalu di sepertiga malam terakhir
Engkau terjaga, sadar dan memilih menyalakan lampu
Melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
Dengan cita yang besar, tinggi dan bening
Dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
Dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
Dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
Teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman
Walau duri merantaskan kai, walau kerikil mencacah telapak
Sampai engkau lelah, sampai engkau payah
Sampai keringat dan darah tumpah
Tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum di jalan cinta para pejuang


-Mencintai Sejantan Ali-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

-Pengorbanan Cinta Salman-
Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorangPersia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” ???

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasadikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan.. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..

Subhanallah kisah yang indah..^_^

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya!

Sumber: Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” Karya Salim A. Fillah

Rabu, 01 Desember 2010

Selamat Hari Lahir Untukmu >> My Beloved Sister

Awan berarak ceria tiada titisan hujan,
Pohon melambai tanda sokongan,
Kususuri perjalanan bertemankan senyuman,
Dihari lahirmu sahabatku,

Dedaun berguguran,
Membuktikan kedewasaan,
Walau tanpa madah dan hadiah, *tenang, aku punya hadiah kok. Hihihi*
Namun cukup untukmu sekadar ucapan...

Selamat Hari Lahir,
Iringan doa kuhulur,
Bersyukur kepada-Nya,
Atas nikmat usia,

Usiamu ibarat mutiara,
Tiada berganti lagi,
Hiaskan iman bersulam taqwa,
Agar sempat menuju haruman syurgawi,

{Selamat Hari Lahir, Saujana}


1 December 2010, hari ini tepat 22 tahun usiamu. Gak nyangka ya Wik, sudah 22 tahun dirimu diberikan nikmat usia oleh-Nya. Dan dari 22 tahun itu, kurang lebih 4 tahun Allah memberikanku anugerah ber-ukhuwah denganmu.

Sungguh, sebuah kebahagiaan dapat menjadi salah seorang sahabatmu. Begitu banyak waktu dan moment yang kita lalui, tidak melulu bahagia sih, karna kita juga sering menciptakan suasana yang tak nyaman diantara kita…

Aku ingin slalu bisa menjadi sahabatmu, orang yang kau percayai, seseorang yang kau cari jika kau ada masalah dan aku juga yang dapat menenangkan hatimu yang galau. Kau memang tak sempurna di mata orang lain, pun di pandanganku. Namun, justru ketidaksempurnaan itu membuat aku banyak belajar. Bahwasanya, tidak semua yang aku harapkan bisa aku dapatkan. Karena, jika aku mencari sahabat yang tanpa kekurangan, selamanya aku tak akan pernah memiliki sahabat…

Pesanku untukmu dan untukku sendiri, ingatlah bahwasanya ukhuwah itu tak semulus jalan tol, kadang terlalu curam lagi berbatu. Berkelok tajam dan berbahaya. Ada begitu banyak hamparan penghalang yang menjadi terhentinya langkah ini, kita mesti lebih berhati-hati lagi saat melaluinya. Jika kita terlalu cepat berjalan, kadang kerikil-kerikil tajam ataupun duri yang bertebaran tak dapat lagi kita hindarkan. Namun, jika terlalu lama meniti langkah, kita akan tertinggal jauh di belakang…

Dan, UKHUWAH kita ini TAK BERSYARAT!!!

Terima kasih untuk waktu-waktu indah yang kau lewati bersamaku.
Terima kasih telah menjadi teman yang cukup bijaksana, walau kadang terlalu detail menilai suatu masalah.
Terima kasih untuk tiap senyum indahmu tuk menghibur hatiku yang sedang gundah.
Terima kasih engkau masih bersedia menjadi sandaran saatku rasa lelah lalui hidup ini.
Thanks for everything,..

Maaf untuk tingkahku yang menyebalkan, tak jarang aku buatmu marah.
Maaf atas kata-kata yang tak pantas, yang sempat terucap dari lisanku.
Maaf, aku belum bisa menjadi sahabat terbaik untukmu.
Maaf juga untuk ketidakmengertianku tentang maumu, karna kadang aku mengabaikan hak-hakmu sebagai saudara.
Dan maaf atas bulir-bulir air mata yang sempat menetes karna ulahku, aku sering buatmu menangis. Maaf ya Wik, T.T

Hmmm, kok jadi mellow ya…


Sekarang saatnya untuk do’a >>

* Aku do’akan semoga kita bisa lulus bulan April ini, amiiiiiiiiiinnn!!!
* Semoga Dwi makin dewasa, idak ngambek-ngambekan lagi. Inget umur Wik, malu sama anak SMA. Hahaha…
* Semoga tetep ISTIQOMAH di jalan dakwah ini, dengan sebenar-benarnya ISTIQOMAH. Pahim kan???
* Semoga Allah mengekalkan ukhuwah ini, hingga kita dapat bertetangga di Jannah-Nya kelak.. ^^
* Semoga rezekinya lancar (jadi, kami biso ngutang. hahaha), usianya barokah, dapat menebar manfaat di mana dan kapanpun, dan semoga setiap harapan yang sempat terucap perlahan menjadi suatu kenyataan. Tapi inget, “Tidak semua yang kita harapkan dapat kita dapatkan, karna Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.”
* Dan yang terakhir, semoga DWI SEGERA MENEMUKAN PANGERAN IDAMANNYA di saat yang tepat dan dengan orang terbaik menurut Allah, amiiiiiin..

Sekali lagi, selamat hari lahir ya honey…



Sungguh, aku mencintaimu karena-Nya...

Selasa, 30 November 2010

Pliiisss dech, Jangan EGOIS!!!!

“Mb, ana tuh cuma nganggep dia temen. Ga lebih kok, beneran mb! Ga mungkinlah ana ada perasaan sama dia, ana tau mb apa yang ana lakukan.” Ungkap seorang akhwat tat kala sang Murabbi mentabayuni-nya perihal kedekatannya dengan seorang ikhwan, salah seorang partner da’wah si akhwat.

Dengan bijak sang Murabbi mencoba menanggapi perkataan binaannya. Ia menghela nafas sejenak sebelum memulai untuk berkata…

“Jangan EGOIS dek!”, tuturnya singkat…

“EGOIS???? Egois gimana mb maksudnya, ana ga paham.”

“Kita sebagai manusia memiliki sisi ke-EGOIS-an yang kadang tanpa kita sadari muncul dengan sendirinya. Tidak usah jauh-jauh, ketika kita sedang melihat selembar foto yang di dalamnya terdapat deretan wajah orang-orang yang kita kenal, dan kita pun ada di dalamnya. Fenomena yang ada ialah kita hanya sibuk mencari mana wajah kita, jarang sekali kita mencari gambar orang lain terlebih dahulu sebelum kita meilhat wajah kita ada di sana. Itu salah satu wujud ke-EGOIS-an kita! Ya, seperti itulah kita.

Terkadang tanpa kita menyadarinya, kita sering berlaku EGOIS. Hanya memikirkan diri kita, perasaan kita, hati kita, dan semua tentang kita. Tanpa mempedulikan terlebih dahulu bahwa kita tidak sendirian, ada orang lain yang turut andil dalam hidup kita. Mungkin adek memang tak memiliki perasaan apa-apa pada ikhwan itu, karena adek hanya menganggapnya teman atau saudara seiman, sehingga adek dengan leluasa bersikap seolah si ikhwan juga memiliki dan merasakan hal yang sama dengan apa yang adek rasakan dan pikirkan. Padahal kita takkan pernah tau apa yang ada di dalam hati seseorang, namun kita seolah paling tau, tanpa mengingat bahwasanya hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, apa yang nyata dan yang tak nyata.

Mungkin saja tanpa kita ketahui, ikhwan itu menaruh hati pada sikap kita yang apa adanya, pada tutur kata kita, pada gerak-gerik kita, pada pola pikir kita, dll. Kedekatan kita selama ini dengan dia telah menimbulkan perasaan nyaman saat dia bersama kita, membuat dia sulit untuk jauh dari kita, dan beragam alasan lainnya yang menyebabkan si dia hingga kini selalu mencari alasan tuk dekat dengan kita. Kita memang tak boleh bersu’udzhon pada orang lain, namun kita juga tidak boleh lengah atas perangkap-perangkap syaithan yang senantiasa mengintai kita, ia punya beribu macam cara tuk menjadikan kita jauh dari-Nya. Ia ingin mencari teman sebanyak mungkin tuk menemaninya di Neraka kelak, mudah sekali baginya membuat apa yang kita pandang menjadi sesuatu yang benar, meskipun hal itu ialah kesalahan yang nyata.

Mb yakin adek bisa mengerti apa yang mb maksudkan dengan JANGAN EGOIS!! Pikirkanlah orang lain, tidak semua orang seperti adek, yang bisa menjaga hati, membatasi interaksi, menahan gejolak-gejolak hati, pun mampu memanajemen hati dengan baik. Banyak orang di luar sana yang gampang sekali terpaut hatinya pada seseorang, meskipun orang itu baru dikenalnya, dan juga tidak sedikit orang yang sulit sekali menaruh hati pada seseorang, walaupun ia telah lama mengenal dan bersama orang itu.

Jadi, mb sarankan batasi interaksi dengan seorang IKHWAN! Kenapa mb menekankan IKHWAN, karena akhwat lebih cenderung dengan ikhwan, begitupun sebaliknya. Kalo dengan orang awam mungkin kita akan biasa aja, tapi tidak menutup kemungkinan orang awam juga menginginkan orang seperti kita. Wallahu’alam Bishowab…”

NB: Ana pikir kita semua telah cukup DEWASA tuk mengetahui mana yang baik dan kurang baik untuk kita… Maka dari itu, JAGA HIJAB donk!!! Tapi bukan berarti EKSKLUSIF, karena hal itu juga tidak baik untuk dakwah maupun untuk kita…
Apalagi dengan sesama ikhwah, harusnya sudah sama-sama tau lah apa yang dimaksud dengan hijab, bagaimana berinteraksi dengan partner dakwah tanpa membuat hijab kita menjadi terlalu longgar, hingga kita tak ada bedanya dengan mereka yang belum mengerti apa itu hijab…

Sumber: Cerita Teman-ku

Senin, 29 November 2010

Ukhuwah berkaki (Episode: Pencarian si Magnum)..

…Ukhuwah Berkaki (Episode: Pencarian si Magnum)…



Magnum, apaan sih??? Itu loh, ice cream yang lagi naek daun. Di mana-mana pada ngebahas si dia, *loh*.. Sampe-sampe, temenku juga kena syndrome Magnum. ckckckck…


Gimana gak, hampir tiap kali dia bĂȘte, pasti dah nyebut minta dibeliin Magnum itu. Padahal kan, harganya muahaaaal, untuk tataran ice cream. Hufffh…



Sedikit bercerita tentang uniknya dunia kami (Aci, Dwi & Kiky)…

Belakangan ini kami lagi akrab-akrabnya, entahlah, tiap abiz ‘berantem’ biasanya kami jadi lebih akrab. Ya seperti saat ini, padahal sebelumnya kami sempat ‘perang dingin’ cukup lama loh. Tapi, karna ada pihak yang mau mengalah (untuk menang), akhirnya perang tersebut berhasil dihentikan. *halah*


Secara, jiwa remaja dan kekanak-kanakan masih cukup melekat di diri kami. Jadinya, kebiasaan yang pada umumnya dimiliki anak remaja itu masih ada di diri kami, *mereka* maksudnya, bukan aku Bayangin aja, uda pada mau lulus kuliah, masih aja doyan ngambek-ngambek-an, kalo mo ke mana-mana slalu berkelompok (biasanya sih ber-6, tapi karna yang 3-nya dah pada lulus , tinggal lah kami bertiga yang masih betah ‘bermain-main’ dengan menyandang status MAHASISWA SEMESTER AKHIR, )dan juga kami masih suka menghayal & melakukan hal-hal konyol yang gak masuk akal (untuk kalangan akhwat seumuran kami pada umumnya)…



Sebuah Kisah…

Jum’at malam, selesai dari syuro’ di kampus. Aku dan kedua sobat ge je-ku itu siap-siap untuk pulang, kali ini gak ‘boti’ loh, aku dan Dwi bawa motor masing-masing. Seperti biasa, aku & Dwi nganter Kiky dulu ke rumahnya…

Di tengah perjalanan, tiba-tiba motor si Dwi berhenti di depan sebuah mini market gak jauh dari rumah Kiky.
Aku pun menghentikan si Mici tepat di belakang Dwi, sembari membuka helm & bertanya “Ngapo Wik??”
Dengan wajah yang sumringah, dia menjawab “Magnum, beli Magnum nyoook?!!”
Hah?? Aku dan Kiky cuma bengong, gimana gak bengong, orang dah malem gini (19.30). Masa’ iya makan ice cream, di jalan pula’. Halloooo, apa kata dunia???

Akhirnya kami ke mini market itu, dengan wajah yang cukup terpaksa, tapi tetep senyum. Karena dah mupeng ngeliat box ice cream dengan cover Magnum itu…
Di liat-liat ke dalam box itu, terus nanya ke abang yang jaga, “Magnumnyo ado??”
“Habis mba!!”, si abang membuat pembeli kecewa, huuuuhuhuuu..

Perjuangan belum berakhir, kami mencari ke beberapa mini market terdekat.


Hasilnya???? Taraaaaaaaa >> MAGNUM HABIS!!!


Dan parahnya si Dwi minta balik ke mini market yang pertama kali kami datangi, untuk beli ice cream yang lain, muter balik daaaaahhh. Ckckck…

Dan, jatuhlah pilihan pada sebuah ice cream kotak dengan 3 rasa buah, belinya hasil patungan bertiga. 6ribu satu orang, oalaaah…


Mengingat waktu yang semakin malam, kami memutuskan untuk makan ice cream di teras mini market itu. Dan tentunya, mengabadikan moment tersebut dalam sebuah album jeprat-jepret ge je…


Sumpah dah, kalo diinget-inget, malu jidaaaaannn. Gimana kalo ketemu adik binaanku, atau gak ketemu temen-temenku di sana, mau taruh di mana mukaku??? Kaya gembel aja, makan dipinggir jalan, sekotak bagi tiga lagiiii. Hadoooh, akhwat macam apa kami ini????

---selesai---

Ini hanya sebuah cerita, yang mungkin gak penting bagi kalian. Tapiii, ini adalah sebuah kenangan indah bagi kami, yang gak akan bisa terulang kembali. Meski bisa, pasti ada rasa yang berbeda di sana. Bukan bermaksud untuk slalu berperan sebagai remaja, hanya ingin memanfaatkan masa-masa ini sebaik mungkin. Karena, mungkin saja kami tidak bisa sebebas ini lagi nantinya. Akan ada batas-batasan yang tak bisa diacuhkan begitu saja…

Sabtu, 17 Juli 2010

Alarm Untukku

Suatu saat, kuminta nasehat pada seorang sahabat…
Aku merasa tak layak akh, katanya…

Aku tersenyum dan berkata…
Jika tiap kesalahan kita dipertimbangkan…
Sungguh, di dunia ini tak ada lagi
orang yang layak memberi nasehat…


Memang merupakan kesalahan…
Jika kita terus saja saling menasehati…
Tapi, dalam diri kita tak ada hasrat untuk berbenah
dan menjadi lebih baik lagi di tiap bilangan hari…

Tapi, adalah kesalahan juga…
Jika dalam ukhuwah tak ada saling menasehati…
Hanya karena kita berselimut baik sangka kepada saudara…

Dan, adalah kesalahan terbesar…
Jika kita enggan saling menasehati…
Hanya agar kita sendiri tetap
merasa nyaman berkawan kesalahan…

*Jalan Cinta Para Pejuang, karya Salim A Fillah, hal 284*

Beberapa waktu yang lalu seorang adik bercerita kepadaku, ia menceritakan tentang seseorang yang membuat hatinya sedikit tersentak. Kurang lebih seperti inilah kronologis kejadiannya, *jiyaaah, gaya bener lu Ci…*

Senior: Alangkah baiknya jika “status” dan sMs yang bernadakan tausiyah itu ditujukan ke dirimu sendiri dik…

Adik: Maksudnya mb??? *bingung, lalu diam sejenak dan kemudian kembali bersuara* >>
Apakah salah jika ana mengirimkan sMs tausiyah dan mempost-kan status berisikan tausiyah?? Jika mb merasa tidak nyaman dengan hal itu, mulai dari sekarang mb gak akan melihat status ana dan mendapat sMs tausiyah dari ana… Afwan, kalo selama ini apa yang ana berikan membuat mb merasa seperti ini...

Ya, kurang lebih seperti itulah yang ana dengar dari adik itu, sejak saat itu adik itu meremove seniornya dari FB…

Ana kembali mencoba merenungi setiap apa yang ana tulis dan katakan, karena telah jelas di dalam Al Qur’an surat Ash-Shaff (61) ayat 2-3 “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Mungkin bagi sebagian orang apa yang ana sampaikan ini adalah alasan klise yang sering kali dilontarkan, tapi peduli amat dengan kata-kata orang di luar sana. Toh, yang tau niat yang ada di hati ana hanya Allah, pun diri ana sendiri belum tentu bisa mengetahui seratus persen apa yang menjadi niat ana. Jadi, kenapa harus diambil pusing tentang pendapat orang terhadap ana…

Sama seperti manusia pada umumnya, ana bukan malaikat yang tak pernah salah. Jika apa yang orang pandang baik tentang ana, itu hanyalah salah satu kemurahan dari Allah Yang Maha Pemurah yang masih menutupi aib-aib ana, yang jika DIA beberkan ana takkan berani lagi untuk bertemu dengan orang lain. Karena terlalu banyaknya keburukan yang ana miliki!

Apa yang ana tulis, baik itu di sMs, catatan, status, blog, dan di mana pun itu. Semuanya ana khusus kan untuk diri ana pribadi.

Kenapa harus di-post-kan???

Ana hanya ingin orang lain, yang mungkin juga membutuhkan sesuatu yang dapat sedikit menenangkan hatinya kala dilanda sebuah permasalahan, di mana ia belum menemukan solusi dari apa yang ia alami itu. Makanya ana membagikannya untuk orang-orang yang ada di sekitar ana! Walau kadang, sebagian tulisan itu tidak tercermin dari diri seorang Aci. Bahkan jauuuuh sangad, tapi ana selalu mencoba tuk mengaplikasikan apa yang ana dengar, ana katakan dan ana tulis. Ya, meski kadang terbentur pada realitanya, ana tetap berusaha menjadi insan yang lebih baik lagi, lagi, dan lagiii…

Satu hal lagi, ketika ana menuliskan sesuatu, apa pun itu. Tentang motivasi ataupun kalimat hikmah, itu menjadi sebuah pengingat bagi ana, layaknya “alarm” yang siap mengingatkan ana ketika ana mulai keluar dari jalur yang seharusnya.
Alangkah baiknya, jika apa yang kita katakan sejalan dengan apa yang kita kerjakan. Seperti kata para Dewan Pembina LDK di kampus ana, medan kata-kata itu jauh lebih mudah dari pada medan bergerak. Mengatakan sesuatu itu jauh lebih mudah daripada mewujudkan apa yang kita katakan itu, action itu jauuuuh lebih sulit dari sekedar teori tanpa realisasi.

Namun, tetaplah menulis kawan, tak ada yang melarangmu. Pun tak ada yang berhak membatasi ruang gerak jari-jemarimu tuk menuliskan apa yang ada dibenakmu. Mungkin, dengan tulisan-tulisan sederhanamu itu engkau dapat menghantarkan orang lain ke jalanNya. Menulislah dengan hati, karena hati hanya akan dapat disentuh oleh hati. Iringilah setiap perkataanmu dengan perbuatanmu, hingga Allah takkan murka atas apa yang engkau lakukan. Tapi, jangan cuma “omong doank” loh!!



Entahlah kenapa diriku begitu rindu menulis, ada hal yang mampu menarikku untuk terus tertarik menyelusuri bait per bait kata-kata yang jauh dari istilah “indah” itu. Meski pun gak indah, paling tidak ana ikut sedikit berkontribusi dalam menyebarkan betapa indahnya agamaku ini >> ISLAM. Jika bukan kita yang mengabarkan betapa indahnya ISLAM dengan Allah sebagai Tuhan Yang Esa, Al Qur’an sebagai kitab sucinya, Muhammad sebagai Rasul yang patut kita tauladani akhlaknya, dan dengan beragam hal indah lainnya. Lalu siapa lagi???

SEMANGAAAAD!!! SUKSESSS!!!

Palembang, 17 Juli 2010

Senin, 24 Mei 2010

Tentang Ukhuwah Sajalah…

>> "Siapa saja yang tulus rasa persaudaraannya dengan saudaranya, maka dia akan menerima kekurangan saudaranya itu, menutupi keburukannya, dan memaafkan kesalahannya." (Imam Syafi'i) ..Karena engkau saudaraku, maka maafkanlah kekhilafan yang pernah ku lakukan kepadamu.. –MAAF–
--}Monday at 8:15pm

..Ketahuilah, bahwasanya ukhuwah itu adalah nikmat dari Allah, anugerah yang diberikan kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya.. Karena itu, bersyukurlah kepada Allah atas nikmat tersebut dan jauhilah perbuatan maksiat, agar engkau tidak dijauhkan dari nikmat tersebut.. Bersaudaralah engkau karena-Nya, maka Ia akan menaungimu dengan kebaikan..
--} Tuesday at 7:08am

..Mengenalmu (iya, kamu yang baca status ini) adl suatu anugerah bagiku.. Dapat menjadi sahabatmu adl suatu nikmat yang haruslah kusyukuri.. Terima kasih Ya Rabb, telah menganugerahkan mereka dalam hidupku.. Kan ku lafazhkan alhamdulillah ketika ada yang tak menyukaiku dan kan ku lafazhkan subhanallah bila ada yang menyukai kehadiranku.. Karena aku hanya ingin bahagia di dunia ini, BAHAGIA.. ^__^
--} April 12 at 7:22pm

..Kini sayapku telah kembali, dan aku pun bisa terbang bebas melintasi penjuru bumi.. Bersama dirimu duhai teman sejati, yang tak pernah letih inginkanku agar slalu berbenah diri tuk menggapai ridho Ilahi.. Terima kasih tlah hadirkan nuansa biru di langit hatiku, juga untuk kasih putih di indahnya hariku.. ^__^ *ukhtiacilagiiseng.com*
--} March 26 at 9:36pm

..Ketika UKHUWAH menuntut pengorbanan.. Maka cobalah tuk memberikan apa yang bisa engkau berikan.. Meski hanya waktu seadanya yang bisa engkau berikan untuknya, lakukanlah hanya karena-Nya.. Yakinlah Allah akan senantiasa menaungimu dengan cinta-Nya yang Maha Luas..
--} January 26 at 12:53pm

..Ada apa dengan kampusku?? Tiap kali kuinjakkan kaki ke kampus putih itu slalu ada rona kebahagiaan yang terpendar, ada gurat kegembiraan yang tersemai, juga ada bias cinta yang tertahan di sini, di hatiku ini.. Ya Rabb, semoga semua rasa ini takkan berakhir meski nanti kuliahku harus berakhir dari kampus putihku.. Duhai sahabat perjuangan, sungguh aku mencintai kalian semua karenaNya.. SEMANGAD!! ^__^
--} April 8 at 8:57pm

..Ukhuwah adalah cinta yang mengalir melalui keimanan, bersemi dengan pupuk nasehat, terawat dalam do'a & berbuah pertemuan di syurga.. Ukhuwah itu menguatkan, menjaga, memperbaiki, memberi & saling mengingatkan antara satu dengan yang lain.. Semoga Allah kokohkan jalinan ini, amiiin.. Salam Ukhuwah untukmu saudaraku, karenaNya..
--} February 25 at 5:29am

"..Tidak termasuk seorang mukmin, jika ia tidak mencintai saudara (seiman)nya layaknya ia mencintai dirinya sendiri.. Cintailah yang ada di Bumi, maka yang di 'Langit' akan mencintaimu.. Dan Ia pun berjanji >> Mudahkanlah urusan saudaramu, maka Allah akan memudahkan urusanmu.." ..Ya Allah, sungguh aku makin Jatuh Cinta padaMu.. *hatiku SEBIRU hari ini*
--} January 22 at 7:46pm

..Rasulullah SAW bersabda “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Kalian tidak beriman secara sempurna sehingga kalian saling mencinta. Maukah kalian aku tunjukkan suatu perkara bila kalian lakukan akan saling mencinta? Biasakanlah mengucapkan salam di antara kalian (apabila berjumpa).” (HR Muslim) --} Assalammu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.. ^__^
--} March 16 at 7:42am

..Diri ini tak dapat memungkiri lagi bahwa ku sedang merasakan anugerah cinta yang besar dariMu Ya Rabb.. Bias-bias cinta ukhuwah amat lekat membingkai di tiap sudut hati ini.. Terima kasih Ya Rabb tlah hadirkan mereka dalam hidupku.. Sahabat, betapa bahagiannya aku dapat mengenalmu.. Semoga jalinan ini takkan terkikis oleh waktu, amien.. ^__^
--} January 8 at 6:28pm

..Sesuatu yang penting menurutku belum tentu menjadi penting juga dipandanganmu, apa yang aku prioritaskan hari ini belum tentu menjadi prioritasmu juga.. Karena tiap kita berbeda, maka cobalah tuk memposisikan dirimu sebagai saudaramu, engkau mungkin akan bisa mengerti dirinya.. Keep POSITIVE THINKING..!! ^__^
--} January 22 at 11:37am

..Jika kau berteman denganku karena apa yang kupunya, sungguh aku tak memiliki apa-apa. Jika kau berteman denganku karena mengira aku memiliki kelebihan, sungguh aku serba kekurangan. Jika kau berteman denganku karena kita sepaham, sungguh tak slamanya kita sejalan. Namun jika kau berteman denganku karena Allah, Allah akan senantiasa menaungi kita dengan kebaikan.. Semoga demikian, amiin.. ^__^ *sMs dari temenku*
--} January 20 at 7:06am

..Perlakukanlah saudaramu sebagaimana ia ingin diperlakukan, jangan engkau memperlakukannya sebagaimana engkau ingin diperlakukan.. Karena antara kau dan dia jelaslah berbeda..
--} February 16 at 11:26am

..Untuk sebuah hati yang tak pernah letih dari do'a, untuk jiwa yang tak lepas dari sujudNya.. Ya Rabb, jagalah ia dikala penjagaanku tak sampai padanya, bimbinglah ia, dan kuatkanlah pundaknya saat menghadapi ujian dariMu.. Untuk sahabat yang ku sayangi karena Allah, tep SEMANGAD!! Tersenyumlah untukku dan untuk semua.. ^__^
--} January 12 at 1:20pm

..Hujan kau ingatkan aku tentang satu rindu, rindu pada mereka yang dekat namun terasa begitu jauh.. Kesibukan, iya jurang pemisah itu mengatas namakan dirinya 'kesibukan'.. Begitu rindu, tapi hati ini tak jua mampu bertemu.. Hanya do'a rabithah yang satukan kita dalam bait-bait indahnya.. {Merindukan An Nahl-ku}
--} March 2 at 12:51pm

"..Mencoba mengertimu duhai sahabat dengan keterbatasan yang kumiliki, keterbatasan tuk pahami sikapmu yang tak pasti, dengan emosi yang kadang tak terkendali.. Ketahuilah ketika kita menggoreskan sesuatu, pastinya akan meninggalkan bekas disana.. Begitupun dengan goresan sikapmu dihatiku.." Duhai diri.. Sabar itu indah, cobalah tuk menikmatinya.. Semoga esok kan jauh lebih baik, SEMANGAD!!
--} April 4 at 8:03pm

..Sepasang bola mata kita menggambarkan sebuah UKHUWAH yang indah. Mereka menangis bersama, terpejam & terjaga pun bersama. Meski mereka tak saling menatap! Begitu juga dengan kita, meski aku tak dapat menatap senyum indahmu & menyeka air mata dukamu, tapi akan slalu ada namamu dilantunan do'aku.. Berharap Ia menjagamu dgn ketat, tak hanya menjadikanmu baik, tapi slalu memberikan yang terbaik untukmu.. ^__^
--} April 21 at 7:57pm

Desi Dahlianti