Kamis, 15 November 2012

Ada Yang Beda

Pagi ini matahari masih bersinar dengan ramahnya, tapi ada yang beda. Melihat ke sekitar, bunga-bunga masih bermekaran, tapi ada yang beda. Merasakan kepadatan jalan raya, berdesak-desakkan dengan para pengendara lainnya, tapi ada yang beda.

Lalu, senja ini kutatap langit yang mulai mendung, akan hujankah seperti kemarin? Tapi, ada yang beda. Malam pun datang, bersama rembulan dan kerlip bintang-bintang, mengajak aku bicara seperti waktu-waktu yang lalu. Tentang Mars dan Venus yang katanya slalu bersisian paham, tapi ada yang beda.


Yah, ada yang beda. Tak tau apa itu, yang jelas ada yang beda. Mungkin itu aku, atau mungkin itu kamu?

Selasa, 13 November 2012

Gak Boleh Sakit

Hampir satu minggu ini, pulang malem terus. Ada aja alasannya, ke sini lah, ke situ lah. Sok paling sibuk deh pokoknya. Dan, hampir tiap pulang slalu kehujanan. Namanya juga lagi musim hujan, yah wajarlah kalo kehujanan. Meski udah pake jas hujan, tetep aja kena imbasnya.

Dua hari ini tiap pulang langsung tidur, istirahat maksimal di waktu malam. Karena besoknya lagi akan mulai berpetualang ke mana-mana, lagi dan lagi, aku sok sibuk deh.

Hari ini ngerasa gak fit banget, tapi harus tetep kuat, karena banyak hal yang belum diselesaikan. Banyak hak saudaraku yang harus ditunaikan, dan banyak kewajiban yang harus dilakukan. Aku gak boleh sakit, gak boleh pokoknya.

Ayo Aciiii, kamu sehat kok, kuat kok, kan Aci Tankguh (Tangguh), masa segini ajah udah tepar sih. Apa kata dunia??! Masih ada hari esok yang menantimu, besoknya juga. Dwi yang sering sakit ajah bisa baik-baik tuh dia, kenapa kamu jadi lemah giniii?

Cukup sekian curhat hari ini, saya mau istirahat total. Makan. Minum obat. Tidur. Sampai jumpa, kawan. ^^

Minggu, 11 November 2012

Pertanyaan Yang Tepat

Habis blog walking, banyak membaca tulisan-tulisan keren dari orang-orang yang juga keren. Jujur, kadang tiap baca blog seseorang, aku ngerasa minder, mereka kok bisa yah buat tulisan keren gitu? Kata temenku sih, ini tentang Jam Terbang, kawan. Semakin banyak membaca, banyak melihat, banyak mendengar, akan semakin banyak hal juga untuk ditulis, maka semuanya akan terbiasa nantinya. :)

Aku mau repost tulisan dari Ukhti Lanina Lathifa, Pertanyaan Yang Tepat

Mendapat kabar teman dekat akan menikah itu sesuatu ya. Sungguh sesuatu. Seolah-olah saya disodorkan pertanyaan besar, “Kamu kapan?” Padahal dia sendiri tak pernah melontarkan pertanyaan demikian.
“Ukht, insyaAlloh saya akan dikhitbah…”
Selalu speechless campur haru campur bahagia campur-campur lah pokoknya, tiap kali curhatan seperti ini mendarat di telinga.
Kenapa speechless? Karena dia sepantaran dengan saya. Berarti jelas kesiapannya di atas saya. Kematangannya (segala sesuatunya) selangkah atau bahkan beberapa langkah mendahului saya.
Kenapa haru? Sebab ketika seorang wanita dikhitbah (dipinang) oleh seorang laki-laki pilihan-Nya, itu artinya ia akan bergantian “mengabdikan” diri kepada seorang lelaki yang dulu teramat asing baginya. Dulu, gadis itu hanyalah seorang anak perempuan ayah. Sebelumnya, gadis itu hanyalah seorang anak perempuan yang sangat merajuk kepada ayah. Dulu, gadis itu adalah perempuan yang sangat dicemburui ayah jika berdekatan dengan lelaki asing. Dulu, gadis itu adalah perempuan yang sangat dikhawatirkan ayah. Dulu, sebelum lelaki asing pilihan-Nya itu datang meminta ijin sang ayah untuk menggenggam separuh hati gadisnya. Dulu, sebelum lelaki asing yang ditunjuk-Nya itu datang untuk meminta ijin bergantian menjaga gadisnya.
Kemudian kenapa bahagia? Jelas. Karena perempuan yang lusa akan dipinang itu adalah sahabat, saudara, sekaligus separuh hati tempat saya berbagi cerita.
Sekali lagi, ini bukan masalah, “Saya kapan?” Sebab sungguh, pernikahan benar-benar bukan sebuah perkara yang bisa digesakan. Pernikahan bukan perkara balapan, saingan, bahkan saling adu percepatan.
Jika dia mendahului saya, ini sama sekali tidak berarti “Saya kalah cepat.” Sebab, menikah hanya menuntut kita siap. Jadi pertanyaan yang tepat adalah, “Sudahkah saya siap jika suatu ketika lelaki pilihan-Nya itu datang meminang?”
Pertanyaan yang tepat adalah, “Sampai dimana persiapan dan kesiapan saya?”
Pertanyaan yang tepat adalah, “Sudahkah saya siap menanggalkan status gadis menjadi seorang istri dengan segala konsekuensinya?”
“Sudahkah saya siap berganti amanah, dari yang dulu seorang perempuan ayah, kemudian kini menjadi seorang perempuan suami penjaga keharmonisan rumah?”
“Sudahkah saya siap menghabiskan sisa waktu sebagai perempuan yang bersanding dengan lelaki yang menjadi tulang punggung masa depannya?”
Pertanyaan yang tepat, “Sudahkah saya siap?”
Kepada-Nya yang menetapkan segala sesuatu berpasangan, Kepada-Nya yang menakdirkan Hawa bersanding dengan Adam, aku minta dimampukan untuk merasa siap pada saat yang telah Engkau tetapkan. :’)

Kenapa aku repost tulisan ini? Karena aku juga sedang dalam situasi ini, temen deketku 4 hari lagi akan menikah. Orang-orang di sekitar seakan kompakkan menanyakan hal ini, "Kapan nyusul?"

Dan, aku pun bertanya, pada diriku, "Sudahkah kamu siap Ci?"

Sabtu, 10 November 2012

Memaknai Kenangan


"Bagaimana cara melupakan kenangan?"

"Kalau kau tidak ingin amnesia, sebaiknya lupakan lah keinginan untuk melupakan kenangan. Kau tahu, kenangan serupa bunga-bunga yang terus bermekaran dalam ingatan. Terkadang waktu adalah pupuk yang baik, terkadang waktu juga adalah hama yang mengikisnya. Namun, sejalan dengan itu. Tidak lah bijak untuk mengilangkan kenangan. Karena kenangan yang berarti untukmu, tidak akan pernah pergi. Beberapa kenangan bahkan tetap tinggal, karena ia tahu, sangat tahu, bahwa ada seseorang yang mengajarkan kehidupan untukmu di dalamnya. Selamat memaknai kenangan. Tersenyum lah, karena ingatanmu selalu mampu mengajarkan sesuatu." [Tia Setiawati Priatna]



Kenangan atau ingatan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, setiap kejadian yang pernah terlewati akan menjadi kepingan-kepingan kenangan yang membersamai perjalanan kita. Ada banyak ingatan ataupun kenangan yang tercipta, ada yang manis, getir, pun ada yang biasa-biasa saja. Ada yang slalu ingin diingat, dibiarkan saja atau bahkan dilupakan.

Agaknya cukup bijak jika kita menjadikan masa lalu layaknya kaca spion, masa lalu bukanlah sesuatu yang harus selalu kita tatap, namun sesekali saja kita lihat, tidak juga harus dilupakan pun slalu dikenang, namun ditengok saja sesekali, agar kita dapat belajar dari kesalahan dan tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama.

Kita harusnya belajar dari masa lalu yang kini menjadi kepingan kenangan itu, karena ia mengajarkan banyak hal kepada kita. Ia adalah guru terbaik, yang untuk mendapatkan ilmu darinya terkadang kita harus membayar mahal untuk itu. Selamat memaknai kenangan, :)

Jumat, 09 November 2012

Huaaaa, Saya Kesalllll

Saya lagi kesel, kesel, kesel banget. Pengen tereak, beneran! Sumpah, gak nyangka banget aku ada orang kek begitu. Kalau ada pantai, aku udah ke pantai nih, ngumpulin pasir banyak-banyak, terus, dijual deh ke tukang bangunan. Eh, gak ding, aku mau nimpuk seseorang pake pasir itu. #loh?


Kesel, dongkol, marah, malu, campur aduk dah rasanya. Kenapa aku bisa berurusan dengan orang itu? Kenapa aku masuk dalam kekonyolan ini? Kenapa dan kenapaaaa?? Huaaaa, hati ini rasanya dah mau meledak. Huaaaaaaa, (>,<)


Huuuffhh. Tarik napas. Hembuskan. Diam. Duduk. Wudhu. Masih marah? Beristighfarlah! Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah,...




Oke, aku udah memaafkan kok. Walau gak dimintai permintaan maaf. Sampe di sini saja keselnya. Tutup buku. Buka lembaran baru. Sekian.



*makan es krim enak nih kayanya,