Habis blog walking, banyak membaca tulisan-tulisan keren dari orang-orang yang juga keren. Jujur, kadang tiap baca blog seseorang, aku ngerasa minder, mereka kok bisa yah buat tulisan keren gitu? Kata temenku sih, ini tentang
Jam Terbang, kawan. Semakin banyak membaca, banyak melihat, banyak mendengar, akan semakin banyak hal juga untuk ditulis, maka semuanya akan terbiasa nantinya. :)
Aku mau repost tulisan dari Ukhti Lanina Lathifa,
Pertanyaan Yang Tepat

Mendapat kabar teman dekat akan menikah itu
sesuatu ya. Sungguh sesuatu. Seolah-olah saya disodorkan pertanyaan besar,
“Kamu kapan?” Padahal dia sendiri tak pernah melontarkan pertanyaan demikian.
“Ukht, insyaAlloh saya akan dikhitbah…”
Selalu speechless campur haru campur
bahagia campur-campur lah pokoknya, tiap kali curhatan seperti ini mendarat di
telinga.
Kenapa speechless? Karena dia
sepantaran dengan saya. Berarti jelas kesiapannya di atas saya. Kematangannya
(segala sesuatunya) selangkah atau bahkan beberapa langkah mendahului saya.
Kenapa haru? Sebab ketika seorang wanita
dikhitbah (dipinang) oleh seorang laki-laki pilihan-Nya, itu artinya ia akan
bergantian “mengabdikan” diri kepada seorang lelaki yang dulu teramat asing
baginya. Dulu, gadis itu hanyalah seorang anak perempuan ayah. Sebelumnya,
gadis itu hanyalah seorang anak perempuan yang sangat merajuk kepada ayah.
Dulu, gadis itu adalah perempuan yang sangat dicemburui ayah jika berdekatan
dengan lelaki asing. Dulu, gadis itu adalah perempuan yang sangat dikhawatirkan
ayah. Dulu, sebelum lelaki asing pilihan-Nya itu datang meminta ijin sang ayah
untuk menggenggam separuh hati gadisnya. Dulu, sebelum lelaki asing yang
ditunjuk-Nya itu datang untuk meminta ijin bergantian menjaga gadisnya.
Kemudian kenapa bahagia? Jelas. Karena
perempuan yang lusa akan dipinang itu adalah sahabat, saudara, sekaligus
separuh hati tempat saya berbagi cerita.
Sekali lagi, ini bukan masalah, “Saya kapan?”
Sebab sungguh, pernikahan benar-benar bukan sebuah perkara yang bisa digesakan.
Pernikahan bukan perkara balapan, saingan, bahkan saling adu percepatan.
Jika dia mendahului saya, ini sama sekali tidak
berarti “Saya kalah cepat.” Sebab, menikah hanya menuntut kita siap. Jadi
pertanyaan yang tepat adalah, “Sudahkah saya siap jika suatu ketika lelaki
pilihan-Nya itu datang meminang?”
Pertanyaan yang tepat adalah, “Sampai dimana
persiapan dan kesiapan saya?”
Pertanyaan yang tepat adalah, “Sudahkah saya
siap menanggalkan status gadis menjadi seorang istri dengan segala
konsekuensinya?”
“Sudahkah saya siap berganti amanah, dari yang
dulu seorang perempuan ayah, kemudian kini menjadi seorang perempuan suami
penjaga keharmonisan rumah?”
“Sudahkah saya siap menghabiskan sisa waktu
sebagai perempuan yang bersanding dengan lelaki yang menjadi tulang punggung
masa depannya?”
Pertanyaan yang tepat, “Sudahkah saya siap?”
Kepada-Nya yang menetapkan segala sesuatu berpasangan, Kepada-Nya yang
menakdirkan Hawa bersanding dengan Adam, aku minta dimampukan untuk merasa siap
pada saat yang telah Engkau tetapkan. :’)
Kenapa aku repost tulisan ini? Karena aku juga sedang dalam situasi ini, temen deketku 4 hari lagi akan menikah.
Orang-orang di sekitar seakan kompakkan menanyakan hal ini, "
Kapan nyusul?"
Dan, aku pun bertanya, pada diriku,
"Sudahkah kamu siap Ci?"